minimal vote lah🙌🙌⭐⭐
disclaimer : semua cerita yang aku buat ini semua pure karangan aku ya. luv yu tuyul-tuyul teenep🖤 🖤
baca elit vote sulit, cuaks.
enjoy the story and support the author
༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄
setelah mendengar perintah dari rion, para anggota noir dengan segera kembali kerumah meninggalkan echi dan selia untuk menemani caine.
mereka dengan segera melajukan mobil mereka ke arah rumah, mereka dengan cepat mengendarai kendaraan mereka.
mereka tau apa konsekuensi yang akan terjadi jika batas waktu yang diberikan oleh rion sudah ditentukan tetapi mereka terlambat.
2 menit berlalu dan mereka sudah sampai di rumah, mereka dengan segera turun dari kendaraan masing masing dan berlari masuk ke dalam rumah.
setelah melihat rion yang tengah berdiri di ruang tengah mereka segera menghampirinya dan berdiri di hadapannya.
"tau kenapa gua manggil kalian kesini? " tanya rion ketus.
"ngga pi" sahut riji dan yang lain hanya mengangguk.
"ini semua pada bisu apa gimana, hah?! " tanya rion dengan meninggikan suaranya yang membuat mereka terkejut.
"ngga pi" sahut mereka semua.
"gua dapet kabar dari mata-mata gua di mana tempat morgan bersembunyi" ujar rion yang membuat anak-anak nya menjadi terkejut.
"gua mau kalian pergi kesana, ratain. " ujar rion lagi.
"maksud papi, harris sama adek nya noe itu? " tanya krow memastikan dan rion mengangguk.
"gua udah kirim lokasinya ke kalian, kalian bisa prepare sekarang. gua gabisa ikut, komando di krow sama riji" ujar rion lagi kemudian berjalan keluar meninggalkan mereka semua.
saat yang lain bubar untuk mempersiapkan diri, mia malah berlari keluar untuk mencari rion, saat melihat rion yang mengarah ke garasi mia dengan segera berlari dan menahan tangan rion.
rion yang langkahnya dihentikan pun berbalik dan menatap mia heran.
"ga prepare? " tanya rion dan mia hanya diam.
"papi beneran mau ngusir mami? " tanya mia yang membuat rion diam.
"kesalahan yang dia buat itu fatal, mia" singkat rion dan kembali ingin masuk ke dalam mobilnya tapi lagi-lagi mia menahannya.
"tapi jasa mami di keluarga ini juga banyak pi! papi ngeluarin mami hanya karna satu kesalahan yang papi anggap fatal, tapi papi ngelupain jasa mami buat keluarga ini" mia menggantung kalimatnya.
"mami bahkan udah bilang kalau dia ga ngebocorin informasi apapun kan? karna mami udah bener-bener nganggep kita rumah pi! mami udah gapunya siapa-siapa lagi di sini. bahkan adik nya sendiri pun khianatin dia! " jelas mia yang membuat rion terdiam, ia tak pernah mendengar mia membela orang lain sebegitunya.
"kami juga masih butuh mami, pi. " lirih mia dan air matanya perlahan jatuh.
ia kembali menangis lagi, ini pertama kalinya setelah sekian lama rion melihat mia menangis untuk seseorang. saat terakhir di ingatannya adalah mia menangis untuk almarhumah ibunya.
"papi bakal pikirin lagi setelah dia jelasin dengan lebih jelas" ujar rion sembari menghapus air mata mia dengan lembut dan masuk ke dalam mobil meninggalkan perkarangan rumah itu.
"aku yakin papi ga bakal ngeluarin mami" ujar key yang berada di belakang mia.
key sudah yakin akan rion yang tak akan mengeluarkan caine karena jawaban singkat yang tadi rion berikan.
"mia takut bun" lirih mia dan mengeluarkan air matanya lagi.
"semuanya bakal baik-baik aja. mending kita prepare sekarang, bakal ada perang soalnya" ujar key dan menarik lembut tangan mia untuk masuk ke dalam dan mempersiapkan dirinya.
༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄
sementara disisi lain selia baru saja mendengar kabar dari riji yang dimana mereka akan turun untuk perang.
selia yang mendengar penuturan riji pun merasa sedikit khawatir. setelah selesai menelfon selia dengan segera memberi tahu echi dan caine tentang apa yang didengarnya dari riji.
caine yang mendengar berita itu merasa sangat khawatir, ia tau betul bagaimana haris, walau pun mereka tak pernah memiliki hubungan baik, tapi caine bisa mengenalnya dengan baik.
"aku kenal haris, aku takut terjadi apa apa sama mereka" ujar caine yang mulai khawatir.
"mami tenang aja, selama komando ada di riji sama krow semua bisa terkendali" ujar selia dan caine menggeleng cepat.
"bukan begitu, aku takut mereka kalah jumlah, keluarga morgan adalah keluarga yang bisa dibilang sangat di agungi. haris akan lebih mudah menang karena ia bisa dengan mudah memerintah puluhan bahkan ratusan orang untuk membantunya" cemas caine yang membuat selia dan echi menjadi semakin khawatir namun mereka mencoba menenangkan caine.
"mami tenang aja, aku yakin mereka bisa. mami jangan terlalu banyak pikiran, mami kan masih sakit. katanya besok mami mau langsung pulang kan? " ujar echi dan caine menggeleng pelan.
"mereka anak-anak mami, keluarga mami, keluarga kita. mami ga bisa santai-santai aja disini sementara disana mereka mati-matian berjuang" ujar caine yang membuat echi dan selia semakin cemas.
karena terlalu memikirkan hal ini bekas tusukan yang baru didapatnya terasa perih, caine meringis dan memegang perutnya.
echi dan selia yang melihat itu menjadi cemas bukan main.
"mami gapapa? aku panggilin dokter ya? " ujar echi dan segera berlari ke luar untuk memanggil dokter.
sementara caine masih berusaha menahan rasa sakit yang di alaminya, ia tak ingin membuat anak-anaknya menjadi semakin khawatir.
"m-mami gapapa" ujar caine masih terus berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa itu.
tak lama echi kembali dengan membawa seorang dokter, dengan cepat dokter itu membantu caine berbaring dan memeriksa keadaan nya.
setelah selesai mengecek dokter menghela nafas perlahan dan menatap echi dan selia serius.
"saya mohon untuk tidak membuat pasien mengalami khawatir berlebih, karena itu dapat memengaruhi luka tusukannya dan membuat luka itu kembali terbuka. " ujar dokter itu dan selia serta echi hanya mengangguk.
"pasien sudah saya beri obat penenang dan obat pereda nyeri, jadi dia akan tertidur untuk waktu yang cukup lama dan tidak akan merasakan sakit lagi" ujar dokter itu kemudian pergi.
"seharusnya gua ngga bilang hal ini ke mami" ujar selia kemudian duduk di sofa diikuti oleh echi.
"ini bukan salah lo, gausah salahin diri sendiri karena kondisi mami" ujar echi sambil mengelus punggung selia.
"gua capek, gua mau setelah ini gabakal ada lagi serangan atau pun masalah kedepannya" ujar selia lagi yang mulai menangis.
selia menutup wajah nya frustasi dan menangis semakin keras, sementara echi hanya diam sembari terus mengelus punggung selia.
"ga semua hal itu harus sesuai kehendak kita sel, kita ga bisa melihat masa depan buat mengubah takdir. kita ga bisa apa apa" ujar echi dengan satu air mata yang lolos dari mata indahnya.
༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄
"andai takdir bisa dirubah, gua gamau begini"
"andai takdir bisa berubah, gua ga bakal kaya sekarang"
t
b
c
seperti biasa, enjoy the story and support the author gess🤍🖤
