minimal vote lah🙌🙌⭐⭐
disclaimer : semua cerita yang aku buat ini semua pure karangan aku ya. luv yu tuyul-tuyul teenep🖤 🖤
baca elit vote sulit, cuakss
jadi, aku mutusin buat tetep up chapter ini, aku harap kalian suka ya. enjoyy :>
༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄
saat ini rion tengah menenangkan fikirannya di balkon kamar mia, setelah puas menangis sedari tadi mia tertidur dan rion membawanya ke kamarnya.
rion menghela nafas panjang saat mengingat kata kata caine.
༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄
"𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘶, 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘤𝘰𝘳𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶. 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯"
"𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘤𝘢𝘪𝘯𝘦 𝘤𝘩𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘰𝘭𝘪𝘴𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘱𝘺 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯"
"𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢, 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢"
"𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢. 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘰𝘭𝘪𝘴𝘪"
༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄
tanpa rion sadari ternyata lexa sudah masuk ke dalam kamar mia dan menghampirinya.
"masih mikirin soal caine? " tanya lexa sambil menghirup udara segar.
"lexa? sejak kapan kamu disini? " tanya rion dan lexa tertawa kecil yang membuat rion bingung.
"ga cocok, mending kamu pake lu-gua aja" ujar lexa menjelaskan kenapa ia tertawa.
sementara rion hanya menghela nafas pelan, kemudian kembali diam sambil menatap deburan ombak pantai.
"kamu bakal ngeluarin caine, atau tetep mertahanin dia? " tanya lexa serius, rion menatapnya sebentar kemudian kembali menatap ke depan.
"anak-anak masih butuh dia" ujar rion dan lexa mengangguk.
"anak-anak, atau kamu juga? " tanya lexa lagi.
"kita butuh air di keluarga ini, kalau semuanya api. bisa kacau, dan caine adalah air itu" jawab rion dan lexa mengangguk paham.
kemudian hening, tak ada lagi pembicaraan antara rion dan lexa, mereka sama-sama bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
"lexa" panggil rion dan lexa segera menatapnya dan ternyata rion juga sudah menatapnya.
"hmm? " tanya lexa sambil memiringkan sedikit kepalanya ke kanan.
"gua tau gua gabisa romantis, tapi-" rion menggantuk kalimatnya.
