Leo ingin menunggui Rad di rumah sakit bersama kawan-kawannya namun, ia tak ingin menggagalkan agenda makan malamnya bersama Rossa. Ia sadar, cewek itu terlihat takut saat Leo menyebutkan lokasi makan malam mereka. Padahal, apa mengerikannya apartemen mereka? Malah, mereka sempat tinggal bersama disana dalam waktu yang lama. Maka, mendapati dua pasang sepatu pria dan wanita begitu memasuki pintu, seketika membuat Leo berdejavu. Apalagi saat memasuki ruang tamu, bayangan saat ia tiduran di sofa dengan kepala berada di pangkuan Rossa muncul. Ia ingat, cewek itu rela membuat kakinya pegal karena tidak ingin membangunkan Leo yang ketiduran. Dulu, Rossa memang semanis itu.
Leo tersenyum, beranjak menuju dapur untuk mencari Rossa namun tak ada. Hanya ia dapati hidangan makan malam yang telah tertata rapi di atas meja makan, lengkap beserta lilin yang menyala di tengahnya. Lalu saat pandangannya berserobok dengan bak cuci piring, kilasan bayangan saat mereka bercinta selepas makan muncul, menggagalkan niat mereka untuk mencuci.
Usai menaruh sebotol wine di atas meja, Leo pergi ke kamar. Tampaknya Rossa sedang menggunakan kamar mandi. Baru saja ia hendak mengetuk pintunya untuk menyerahkan baju ganti, suara Rossa keburu terdengar.
"Aku capek, Le. Jangan sekarang!" katanya.
"Apa?" tanya Leo, bingung.
Apanya yang jangan sekarang? Namun, tak ada jawaban dari Rossa. Hingga cewek itu muncul dengan handuk membelit tubuhnya, barulah Leo paham. Sial, apa Rossa kira, ia ingin bercinta dengannya di bawah guyuran shower?
Mengenyahkan pikiran mesum yang tiba-tiba muncul, Leo menyerahkan paper bag yang dibawanya kepada Rossa. Sebuah gaun, ia ingin makan malam mereka terasa sungguhan. Ia bahkan sudah menyiapkan setelan hitam untuk dikenakannya nanti.
Bukannya Leo tidak bisa menebak, ia tahu Rossa tidak akan senang mengenakan G-String pilihannya. Tapi alih-alih ambil pusing, ia memilih mandi, usai Rossa berlalu dengan menghentak kaki. Lalu saat berpakaian, bayangan percintaannya dengan Rossa di atas ranjang muncul, lengkap beserta suara-suara yang mereka ciptakan saat itu. Seketika telinga Leo memerah. Sial, sekarang ia tahu kenapa Rossa tampak ketakutan saat Leo memintanya dinner di apartemen. Kilasan-kilasan kenangan itu membuatnya ingin bercinta lagi!
🌹🌹🌹
"Enak," komentar Leo setiap kali usai mencicipi satu-persatu menu malam ini.
Dan Rossa hanya akan diam sebagai tanggapan, nggak ada senyum gembira seperti yang dulu ia tampakkan.
"Flat and cold." celetuk Leo, sembari menikmati makanan penutupnya.
"Apa?" tanya Rossa, bingung.
"Kamu." jawab Leo.
Rossa hanya melotot sesaat, lantas bertingkah seolah tidak ada apa-apa.
"Who do you think you are, running around leaving scar. Collecting your jar of heart, and tearing love apart."
Leo bersenandung seraya menikmati segelas wine sendiri. Rossa seperti biasa, menolak ketika ditawari. Cewek itu lebih memilih air putih.
"You gonna catch a cold, from the ice inside your soul. So just come back to me, just come back that's all."
"Nggak usah nyindir kenapa sih?" gerutu Rossa seraya mengernyit kening. "Bocah!"
Sialan! Siapa yang ia sebut bocah? Memangnya dia lupa, Leo pernah membuatnya mengandung bocah?
"Lo jarang salat ya, Le?" tanya Rossa tiba-tiba.
Dulu, saat mereka masih bersama, Leo memang mendadak soleh. Bukan yang gimana-gimana sih, cuma berhenti minum dan absen dari night club. Ya, kadang masih minum wine sih. Lalu rutin salat lima waktu. Yang terakhir itu terpaksa, daripada dicereweti Rossa. Cewek itu hampir nggak pernah komplain, bahkan cenderung penurut dalam setiap hal. Tapi kalau sudah menyangkut sembahyang, mulutnya nggak beda jauh sama petasan. Daripada kuping Leo budeg, lebih baik segera ia turuti. Lagipula cuma lima menit ini, jauh lebih singkat dibanding satu sesi percintaan mereka. Oke, daripada melantur kemana-mana, lebih baik ia menjawab pertanyaan Rossa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rise with Rose
RomanceAda pasangan mantan yang selalu jadi bahan gossip di sekolah baru Mawar. Namanya Leo dan Rossa. Leo sang bintang lapangan. Dan Rossa si cewek bayaran. Pelacur, begitulah Katy mempopulerkan nama Rossa di SMA elite Pelita. Gadis itu tinggal seatap de...
