Rise with Rose 23

262 7 8
                                        

Mawar sudah separuh jalan menyusuri koridor menuju pintu utama gedung sekolah, ketika langkahnya terhenti oleh cekalan Rissa di tangannya. Mengikuti pandangan sahabatnya tertuju, Mawar berbalik ke belakang. Lalu menyesal, mendapati pemandangan cowok yang belakangan ditaksirnya, sedang berjalan bergandengan tangan dengan Rossa.

"Kok bisa? Bukannya Rossa nggak suka lagi sama Leo? Mereka balikan?" celetuk Rissa di sebelahnya, mengutarakan hal sama yang bercokol di benak Mawar.

Dan tampaknya bukan mereka saja yang dikagetkan oleh pemandangan romantis tersebut. Murid-murid lain yang tengah berada di koridor saat ini, berbisik-bisik mengamati sepasang mantan pacar itu. Nggak sedikit yang menebak mereka balikan. Dan lebih banyak lagi yang patah hati, Mawar salah satunya. Padahal Mawar sudah kegirangan ketika tempo hari Leo menggandeng tangannya selepas mereka makan siang di kantin.

"Sabar ya Maw." kata Rissa prihatin, seraya menepuk bahunya.

Mawar mengabaikan ucapan bela sungkawa Rissa, menyerukan nama Rossa ketika pasangan fenomenal itu lewat di depannya. Tak lupa ia melambaikan tangan akrab. Sayangnya, bukan sambutan hangat seperti yang ia bayangkan yang didapatnya, pasangan mantan itu terus berjalan meninggalkan kerumunan, bahkan menoleh ke arahnya pun tidak.

🌹🌹🌹

Kapan terakhir kali ia jalan dengan Rossa? Leo tidak ingat lagi. Lama banget pokoknya. Tapi ia yakin, perasaannya dulu tidak segembira ini. Malah ia nggak menduga hari ini akan tiba.

Menghabiskan waktu bersama Rossa, dulu, terasa seperti kebiasaan. Nggak ada debaran layaknya sepasang kekasih yang lagi kasmaran. Nggak ada sikap malu-malu atau nervous, kecuali saat mereka menghabiskan malam pertama. Itu pun ia yakin bukan karena cinta, melainkan rasa excited baru mengenal seks.

Yah, bukannya Leo mengeluh. Meskipun tampak flat, hubungannya dengan Rossa bertahan paling lama dibanding hubungannya dengan pacar-pacarnya sebelumnya. Apalagi kalau bukan karena bahagia? Lagian rasa dag dig dug khas ABG jatuh cinta itu sudah pasti kalah oleh nikmatnya orgasme yang diberikan Rossa pagi/siang/malam, kapanpun ia menginginkannya.

Leo menyeringai senang untuk hal terakhir yang ia pikirkan. Matanya melirik ke sebelah dan damn, cewek itu juga sedang menoleh ke arahnya dengan tatapan galak.

"Ngapain lo senyum-senyum?" katanya jutek.

Leo menghapus seringainya dengan senyuman lebar. "Seneng aja. Udah lama kan kita nggak jalan bareng?"

Rossa tampak mendengus, katanya, "Nggak penting!"

Benar-benar dingin. Berbeda dengan cewek-cewek di sekitar mereka yang tengah mencuri-curi pandang ke arah Leo, Rossa justru sibuk memilih bahan makanan dari atas rak gondola. Gadis itu memasukkan bahan-bahan ke dalam troli yang Leo dorong. Sesuai kesepakatan, Rossa yang akan memasak hidangan dinner nanti malam.

"Lo mau eton mess atau muffin?" tanya Rossa, ketika mereka tiba di depan rak buah-buahan.

"Eton mess," jawab Leo, yang dalam sekejap mendapati senyuman di bibir Rossa, membuatnya mati-matian menahan dengusan.

Jelas-jelas cewek itu berhenti di depan aneka berries, bahan baku menu tersebut. Berbeda dengannya yang suka muffin, Rossa lebih suka eton mess. Walau di masa lalu, cewek itu lebih sering mengalah dengan membiarkan Leo mendapatkan dessert kesukaannya. Dan Leo dengan seenaknya selalu meminta muffin. Brengsek emang! Leo mengernyit sendiri menyadari kelakuannya.

"Lo mau beli cemilan?" tanya Rossa, usai memasukkan bahan terakhir untuk memasak hidangan makan malam.

Yorkshire pudding, fish and chips, eton mess; diam-diam Leo tersenyum, menyadari menu ala Inggris lah yang dipilih Rossa untuk acara dinner nanti. 

Rise with RoseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang