23. Labirin

190 20 12
                                        

JANGAN LUPA VOTE YA LUV<3
___

Aroma vetiver dari batang difuser memenuhi ruangan di pagi itu. Tak ada suara kendaraan apalagi suara ayam berkokok ria, hanya suara dentingan jarum jam dan suara kulkas seperti suasana rumah nenek.

Hidung kecil yang mancung milik Zera samar-samar mengendus aroma kopi. Tampaknya aroma kopi yang semerbak itu membangunkannya  dari tidur pulas meski matanya masih tertutup rapat. Beberapa menit berikut gadis itu meregangkan tangannya seperti seekor burung yang bersiap saat hendak terbang.

Ia mendudukkan diri, rambutnya acak-acakkan dengan muka bantal yang masih bisa dibilang menarik, tentu saja. Matanya melebar saat bertepatan dengan jam dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi. Matanya kemudian beralih ke depan, mendapati Saka dengan wajah segarnya sedang menyeduh menyeduh kopi manual ke dalam dua cangkir. Rupanya aroma itu.

"Good morning, Kiwi Girl." Saka menyapa dengan nada yang menjengkelkan di telinga Zera, "kopi lo mau pake gula gak?" lanjutnya lagi.

"Lo gila ya? Ini udah jam 7 kita harus sekolah!" Tukas Zera yang kini sudah berdiri dari duduk manisnya.

Saka terbahak-bahak menyangsi ucapan gadis itu, tidak heran mungkin otaknya hanya berisi belajar dan belajar sehingga akhir pekan pun tidak pernah terlintas dipikirannya. Gadis itu mengernyitkan dahi, apa pula yang ditertawakan cowok ini.

"Gue serius," ujarnya dingin.

"Serius lo gak tau ini hari apa?"

Ia celingak-celinguk berharap menemukan kalender tertempel di dinding mana saja dalam ruangan ini. Rasanya hari ini hari Jumat, apa ia sudah tidur dua hari hingga melupakan hari apa saja yang sudah ia lewatkan di sini.

"Ini hari minggu, Oon. Kecuali lo mau sekolah minggu aja." Jawab Saka sehingga gadis itu menghentikan kegiatan celingak-celinguknya. "Pakai gula apa engga?"

Zera melirik malas, kemudian kembali mendudukkan diri lalu bersandar. "Gak."

"Ini beans Robusta pilihan, dipetik langsung dari kebun kopi yang cukup besar di Banyuwangi." Saka melangkah dengan dua cangkir kopi hitam Robusta di tangannya.

Selain bertanggung jawab terhadap cafe ini, Saka juga rupanya selalu tertarik akan asal usul bahan-bahan yang digunakan, ia bahkan pernah ikut ke kebun kopi yang dimaksud hanya untuk memastikan kualitas biji-biji kopi pilihannya.

Zera menyesap beberapa kali, ia pernah minum beberapa kali kopi buatan Ayah namun meski bukan pendekar kopi, menurutnya kopi ini cukup nikmat.

"Lumayan lah," tuturnya sembari menyesap sekali lagi.

Beberapa menit berlalu, keduanya sibuk menikmati kopi buatan Saka tanpa suara. Sinar matahari yang hangat menembus jendela kaca, memantulkan cahayanya hingga menyipitkan mata.

Zera kembali mengisi pikirannya yang semalam masih bertanya-tanya akan apa yang terjadi. Ia bahkan punya pertanyaan kepada dirinya sendiri, mengapa ia mau terperangkap di tempat ini, di sini, bersama cowok yang bahkan tidak ada kesan baik sejak kenal dengannya.

Tanpa ia sadari, Saka juga hanya diam tanpa sepatah kata pun. Cowok ini menghembuskan nafas berat, jangankan berpikir untuk menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan kepadanya, ia sendiri bahkan punya banyak pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab.

"Lo sama Brian saudara kandung?" Zera melontarkan pertanyaan to the point yang semalam belum dijawab oleh cowok di depannya ini.

Cowok itu menyugar rambutnya, ia kembali menyesap kopinya, lalu bersandar dan melipat kedua tangannya di dada.

Ia menatap Zera, "dia bukan saudara gue" ujarnya.

Gadis itu memutar tubuh, menghadap total kepadanya. "Gue serius, apa susahnya sih tinggal jawab doang?"

ZERASAKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang