24. Mami Saka

250 25 15
                                        

"Makasi ya, Bri, udah anterin gue balik."

Zera turun dari motor tinggi milik Brian. Mike tidak menjemputnya, sebenarnya Ayah dan Bunda sudah berpesan agar lebih baik jika Mike mengantar jemput Zera dalam beberapa hari ini, namun sepertinya Mike mengerti isi hati Brian.

"It's always a pleasure," ujar Brian menampilkan senyum kecilnya. Rambutnya yang mulai panjang terlihat jatuh ke dahi, sedikit basah oleh keringat seharian.

Zera berdecak sedikit kagum di dalam hati, ternyata cowok itu jauh lebih rupawan dengan rambut yang sedikit lebih panjang dari sejak mereka bertemu.

"Mau mampir sebentar?"

'Sial, gue ngomong apa sih?' Zera mengutuk diri dalam hatinya kemudian melanjutkan, "siapa tau lo haus butuh minum atau apa gitu."

'Bagus, alasan yang bagus'

Brian mengedarkan pandangan menuju pekarangan rumah yang luas di depannya, rumah yang sekali dua kali ia datangi untuk mengunjungi Mike, namun sekarang ia datangi untuk mengunjungi Zera. Cowok itu tersenyum simpul.

Drrtt... Drrrtt... Zera menghela nafas, untunglah rasa groginya teralihkan karena ponsel Brian tiba-tiba bergetar.

"Sebentar ya, Ra." Cowok itu menerima telepon, melangkah agak menjauh hingga Zera hanya bisa melihatnya sibuk bicara sendiri dengan ponselnya.

Setelah lima menit, ia kembali dengan wajah yang sulit ditafsirkan sehingga Zera juga ikut mengernyitkan dahi penasaran.

"Ada apa, Bri? Ada masalah?" Tanyanya hati-hati.

Brian menghembuskan nafas berat. "Soal Saka," ujarnya.

"Bikin masalah apa lagi bocah itu?"

"Bukan apa-apa, dia masih belum tanda tangan persetujuan pernikahan orang tua kami dan Mama minta gue untuk ngomong baik-baik ke dia soal itu. Mama pikir akan lebih baik kalo gue yang ngomong, daripada dipaksa Papa."

Zera tertegun, tiba-tiba ia teringat ucapan Saka di koridor sekolah pagi tadi. Mungkin penuturan Brian ini menjelaskan apa yang Saka katakan kepadanya soal ayahnya. Zera menggigit bibit, perkataan itu tidak bohong.

Ia kembali teringat akan hukuman skors yang diberikan kepada Saka, skors dua minggu atau panggil orang tua. Pikiran Zera sibuk sendiri, kalau sampai ayahnya Saka tahu soal hukuman itu, apakah akibatnya akan fatal?

"Ra? Lo gak apa-apa kan?"

"Hah? Eh... Gak apa-apa," ujarnya tersadar dari lamunan.

"Sorry ya gak bisa mampir dulu, gue ada janji sama Mama. Titip salam sama Kak Mike."

Brian berpamitan, kemudian melajukan motornya meninggalkan Zera di depan gerbang rumah. Gadis itu menggaruk kepala, jadi pusing sendiri dengan drama keluarga ini. Ia pun melangkah masuk.

Ia menutup pintu, meletakkan tasnya sembarang ke atas sofa, lalu melangkah menuju kulkas. Ia menoleh ke arah jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul 4.30 sore. Tidak biasanya rumah sepi jam segini, pikirnya.

"Eh anak gadisku sudah pulang!" Tak butuh waktu lama, suara cempreng yang punya ciri khas tersendiri terdengar dari balik kamar.

Zera nyaris tersedak cola yang tengah ia teguk saat itu, untung saja kupingnya sudah biasa mendengar nada-nada cinta (begitulah Bunda menyebutnya).

Ruth menutup pintu kamarnya, melangkah cepat menuju dapur. "Gimana sekolahnya sayang? Ada berapa lelaki yang terpikat dengan lipstik pink itu hari ini?"

Zera menoleh bingung. "Maksud Bunda?"

"Loh bukannya kamu udah lihat? Tadi pagi Bunda selipin lipstik di tas kamu, itu lipstik andalan Bunda dulu pas sekolah, makanya buaya-buaya darat kepancing semua dengan kecantikan Bunda."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 24, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ZERASAKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang