02. Bittersweet Beginning

3.2K 343 79
                                        

Happy Sa(d)nite Jombloers :)


"Sak udah Sak! Jangan nyium anak gadis sembarangan Sak, dosa! Minta restu dulu ke ortunya woi!"

"Sak bentar lagi bel, udahan! Main sun-sun aja lo bukan muhrim woi Sak!"

"Jangan peluk-pelukan di sekolah Sak! Ntar aja kalau lagi berduaan!"

Seruan nakal dan jahil itu terus terdengar bersahut-sahutan dari belakang Saka. Kelly, Sarah dan Tessa hanya bisa ternganga mematung tanpa bisa berkomentar apa-apa.

Sementara Zera semakin shock, matanya masih membulat lebar, nafasnya juga terdengar semakin menggebu. Ia benar-benar terlonjak kaget karena baru saja tangan Saka tiba-tiba menarik tubuhnya untuk mendekat. Kini wajah Zera sudah berada di depan dada bidang pebasket itu dengan wajahnya yang pucat pasi.

Zera mengatupkan mulut rapat dengan kedua mata yang masih menatap ke lantai, tidak berani dan tidak ingin menatap lawan bicara di depannya itu. Ia tidak bisa melawan kekuatan tangan Saka yang masih melingkari tubuhnya saat ini, dan kedua tangan Zera hanya bisa bersilang di antara dadanya dan dada Saka, itu pun terhimpit kuat.

"Sak jangan cium anak orang Sak! Sabaran dikit woi masih gadis dia!" seru Renggo lagi.

Saka mendengus sinis. "Gue gak mungkin nyium cewek kayak gini. Mimpi aja kali dia" remehnya.

Mendengar itu, Zera langsung mendongak dengan geram. "Maksud lo apa ngerendahin gue?! Lo kira gue mau dicium makhluk astral kayak lo?? Ogah ya!" serunya naik pitam.

"Mulut lo gak ada capeknya nyolot. Mau gue cium beneran?"

Glek.

Zera menelan ludah, kembali terdiam mendapat ancaman kurang ajar dari cowok di depannya ini. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin, berlari dari kejauhan lalu menerjang selangkangannya dengan tenaga yang sekeras banteng. Pasti akan menyenangkan jika Zera yang melakukannya.

"Minta maaf...sekarang" anjur Saka lagi. Tangannya masih melingkari Zera, terus mengerat hingga tubuh mereka begitu rapat.

Zera berusaha berontak melepaskan kedua tangannya yang bersilang di depan dada Saka dengan sekuat tenaga. Ia benar-benar tidak berniat meminta maaf barang sedetik pun kepada seseorang yang sudah membuatnya hampir jantungan dan naik darah seperti ini.

Kartu pelajar yang tadi terkalungi di leher Saka sudah berpindah ke belakang, sehingga tidak akan mungkin bagi Zera untuk menjangkaunya semudah itu.

"Lo emang gak bisa nyebut kata maaf ya?" ujar Saka lagi terus mengeratkan lingkaran tangannya di tubuh Zera dengan santai.

"Ogah! Lepasin gue!" Zera terus berontak namun kekuatan Saka lebih kuat.

"Nggak"

"Lepasin!!"

"Nggak"

"Lepasin gue!!!"

"Nggak"

"Lo tuh apaan sih nggak-nggak muluk dari tadi?!"

"Trus lo mau gue ngapain? Mau dipeluk lebih kuat dari ini? Oke" Saka benar-benar melakukan perkataannya. Ia mengeratkan lingkarannya di tubuh Zera membuat gadis itu semakin shock sekaligus kewalahan melepaskan diri. Mau tidak mau wajahnya harus bersentuhan rapat dengan dada bidang sosok tinggi di depannya ini.

"Lo apa-apaan sih?! Lepasin nggak!!"

"Nggak"

"Ck gue susah nafas! Lepasin!!"

ZERASAKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang