Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

• Permusuhan atau persaudaraan?

2.8K 325 32
                                        

Di hari yang sama di lain tempat yakni di kediaman mewah keluarga Vijendra lebih tepatnya di area ruang makan, waktu sudah menunjukan pukul 08.00 pagi terlihat Ananta tengah menikmati sarapan pagi nya seorang diri tanpa di temani oleh siapapun karena berhubung hari ini sang papi ada perjalanan bisnis ke Shanghai katanya, jadi papi nya itu atau tuan besar Vijendra sudah pergi pagi pagi sekali. Lalu kemana pergi nya anak-anak Vijendra yang lain? Ananta tidak tau, yang ia tau hanya si sulung Bumi ada di rumah sakit untuk menjaga Sky. Namun tak lama dari itu, Ananta yang tengah memakan sarapan pagi nya pun tiba-tiba tersenyum lebar saat melihat kedatangan si kembar Nakula dan Sadewa yang terlihat sudah rapih dengan pakaian casualnya.

"Pagi kak Nakula, pagi kak Dewa.." sapa Ananta.

"Pagi Nanta," balas Nakula seraya mendudukan tubuhnya di kursi yang tepat di depan Ananta yang mana kursi tersebut harusnya di tempati oleh Jehan. Tetapi rasanya pagi ini mereka tak perlu mentaati peraturan soal tempat duduk kan?

"Pagi," balas Sadewa yang masih mengantuk pun mendudukan tubuhnya di samping sang kakak kembar.

"Lo ga sekolah, Nanta?" tanya Nakula saat melihat Ananta tak mengenakan seragam sekolahnya.

"Kebetulan hari ini libur kak, ada rapat guru katanya," jawab Ananta, "ohiya hari ini kak Nakula sama kak Dewa udah mulai masuk kuliah ya?" lanjutnya terlihat semangat.

"Eung, sebenernya kita belum resmi jadi mahasiswa. Gue sama Dewa ke kampus hari ini buat keliling kampus aja biar kita tau kampus tempat kita menimba ilmu nanti tuh kaya gimana, begitulah yang di bilang sama pihak kampus," jelas Nakula yang di angguki lucu oleh Ananta.

"Ide bagus biar nanti kak Nakula sama kak Dewa ga nyasar waktu kuliah disana. Ah kalau gitu kalian minta bang Jehan aja untuk jadi—"

"Ogah, gue bukan tour guide," seseorang yang baru saja datang memasuki area ruang keluarga yang tak lain adalah Jehan pun langsung menyahut dengan nada bicaranya yang dingin dan raut wajahnya yang datar.

"Dih kocak, lagian siapa juga yang mau di tour guide in sama lu, yang ada juga nanti malah di ajak ke jalan yang sesat," celetuk Sadewa.

"Diem lu bocah!" sahut Jehan.

"Bocah bocah, kita seumuran ya nyet!" sewot Sadewa tak terima di panggil 'bocah' oleh Jehan. Sedangkan Jehan yang mendengar itu tak menyahut lagi, hanya menunjukan senyum sinisnya seraya mendudukan tubuhnya tepat di samping sang adik.

"Pagi abang.." sapa Ananta pada sang kakak, dan Jehan pun hanya mengangguk sebagai balasannya.

"Jadi juga papi masukin kalian ke kampus yang sama kaya gue," ucap Jehan.

"Lu kalau mau protes langsung ke pusatnya kocak, alias ke bapak lu yang udah buat keputusan sekonyol ini," sahut Sadewa.

"Gue sih sebenernya ga masalah dan bodo amat juga lo berdua mau papi kuliahin dimana pun, cuma gue minta lo berdua jaga jarak sama gue meskipun kita beda fakultas karena gue ga mau orang-orang tau kalau lo berdua itu anak pungut papi," ucapan Jehan kali ini membuat tangan Sadewa semakin terkepal sedangkan Nakula hanya bisa menghela napas.

"A-Abang ga boleh gitu," cicit Ananta yang merasa tak enak pada si kakak kembar.

"Lah kita juga ga mau orang-orang tau kalau kita ada hubungannya sama keluarga Vijendra apalagi sama lu, amit-amit dah, pait pait pait," timpal Sadewa dengan santainya.

"Bagus kalau lo ngerti," sahut Jehan lagi.

"Nyenyenyenyenye dasar siluman bagong siah!" gumam Sadewa.

"Udah Dew biarin," bisik Nakula membuat sang adik kembar mendelik malas.

Ananta, Jehan, Nakula dan Sadewa pun melanjutkan kegiatan sarapan pagi mereka dengan tenang tanpa beradu mulut lagi khususnya antara Jehan dan Sadewa.

7 LUKA [COMPLETE] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang