Nakula masih menemani adik kembarnya yang tengah berlatih ice skating. Sejak kecil Sadewa memang sangat menyukai olahraga tersebut dan bercita-cita akan menjadi atlet ice skating suatu saat nanti terlebih ia sudah di ajari ice skating oleh sang mama sejak masih kecil dan sampai detik ini Sadewa masih sangat menyukai hal tersebut. Nakula sebagai kakak pun tentu mendukung apa yang di cita-citakan oleh sang adik bahkan dulu saat masih tinggal di rumah bude Nakula selalu membawa Sadewa main ke tempat ice skating yang ada di mall mall besar agar sang adik sesekali dapat melatih skill nya, meski setelah itu Nakula akan pusing karena uang gaji hasil dari ia bekerja akan menipis dan hanya cukup untuk beberapa minggu saja atau bahkan hanya untuk beberapa hari.
Namun hal tersebut sepadan saat ia melihat senyum sang adik yang senang saat bermain ice skating, seperti saat ini adik kembarnya terlihat senang menari di atas es dengan indahnya membuat Nakula yang sesekali melihat ke arah sang adik pun ikut tersenyum meski setelahnya tatapan itu berubah sendu saat ia kembali mengingat percakapan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya akan ada hari dimana ia mendengar suatu fakta yang benar-benar mengejutkannya.
Ya, seseorang yang mendengar obrolan antara Monica dan Bumi tak lain dan tak bukan adalah Nakula, yang saat itu ia tengah pergi ke garasi untuk memanaskan mobil tetapi ia tak sengaja melihat Monica yang pergi bersama Bumi menuju ruang kerjanya dan hal itu membuat Nakula yang penasaran pun mengikuti langkah keduanya yang mana pintu dari ruang kerja Monica tidak tertutup rapat sehingga diam-diam Nakula bisa mendengar percakapan di antara keduanya.
"Apa bener mama yang udah bunuh ibunya kak Bumi dan juga Sky untuk balas dendam? Apa bener gue dan Sadewa bukan anak kandung om Vijendra?" gumam Nakula yang mana dua hal tersebut selalu berputar-putar di pikirannya.
"Tapi makesense sih kalau sebenernya gue sama Sadewa bukan anak om Vijendra, sekarang gue paham kenapa beliau ga pernah nyariin gue sama Sadewa dari dulu.."
"Arghhhhhhhhhhhh!" Nakula mengusap wajahnya frustasi ia lalu kembali menatap ke arah sang adik yang tengah terjatuh diatas lantai es sana membuat Nakula langsung beranjak dari duduknya dan berniat menghampiri Sadewa untuk memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.
Namun niat tersebut ia urungkan saat kedua netranya tak sengaja menangkap sosok wanita yang tengah berdiri di dekat pintu masuk yang mana Nakula sendiri mengenali pasti siapa sosok wanita tersebut.
"M-Mama.."
Lantas Nakula melangkahkan tungkainya dengan perlahan menghampiri sang mama yang sepertinya masih belum menyadari bahwa keberadaannya sudah di tertangkap oleh Nakula. Hingga saat ia mendekat barulah sang mama yang menyadari kedatangan Nakula pun sontak akan langsung pergi jika saja Nakula tidak lebih dulu mencekal tangan mamanya yang mana pergerakannya membuat wanita yang tak lain adalah Sandra pun terkejut.
"Mama mau kemana lagi? Mau kabur lagi?" ucap Nakula dengan nada bicaranya yang super dingin serta tatapannya yang menajam.
"N-Na.."
"Ikut Nakula ma, kita perlu bicara!"
Tanpa menunggu persetujuan sang mama, Nakula menarik tangan mamanya membawanya keluar dari arena ice skating yang mana hal tersebut tak luput dari pandangan Sadewa.
"Bang lepasin tangan mama," ucap Sandra lirih seraya berusaha melepaskan lengannya yang di genggam erat oleh sang anak.
Tak langsung menyahut, Nakula menghentikan langkahnya di tempat yang menurutnya sepi lebih tepatnya di area parkiran belakang.
"Engga, kalau Nakula lepasin tangan mama bisa-bisa mama kabur lagi sebelum Nakula mendengar penjelasan dari mama langsung!" sahutnya.
"Penjelasan apa bang? Mama kan udah bilang kalau mama bakal jelasin semuanya tapi ga sekarang karena–"
KAMU SEDANG MEMBACA
7 LUKA [COMPLETE]
FanficBagaimana jika 7 orang yang memiliki luka di satukan dalam ikatan persaudaraan? Akan kah kebersamaan mereka dapat menyembuhkan luka masing-masing atau bahkan malah menambah luka baru yang bahkan luka lama pun belum sembuh.
![7 LUKA [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/376562486-64-k261385.jpg)