• New life begins

3.5K 358 82
                                        

Keesokan harinya di kediaman keluarga Vijendra nampaknya suasana sudah kembali normal tidak se-chaos tadi malam, bahkan pagi ini terlihat tuan besar Vijendra tengah sarapan bersama anak-anaknya yang kini hal tersebut akan menjadi ritual wajib tiap pagi di rumah ini untuk mempererat hubungan persaudaraan anak-anaknya, pikir tuan Vijendra. Terlihat di ruang makan sudah ada Bumi yang seperti biasa duduk dalam diam dengan tatapannya yang penuh pengawasan, lalu di samping Bumi ada Jehan yang sibuk dengan iPadnya, ada juga Nakula dan Sadewa yang hanya duduk dalam diam, sesekali Sadewa terlihat menguap lantaran masih mengantuk. Ananta dan Ren juga sudah turut hadir dengan mengenakan seragam sekolah lengkap yang membuat keduanya terlihat semakin tampan. Ah sepertinya ada satu yang belum di sebutkan kehadirannya?

"Semuanya sudah siap, selamat menikmati sarapan pagi nya tuan.." ujar maid seperti biasa usai menata semua makanan di meja makan.

Tuan Vijendra hanya mengangguk lalu menatap satu persatu putranya, "Jehan udah dulu main iPadnya, sekarang kita sarapan dulu," ucapnya pada si anak kedua yang sejak tadi sibuk dengan iPadnya.

Jehan mengangguk singkat lalu menyimpan iPadnya di atas meja.

"Yuk dimakan ya anak-anak, menu breakfast kali ini ada Nasi Goreng, Toast Bread with Strawberry Jam, Waffle and Pancake with Maple Syrup, aneka telur ada Omellete, Scrambled Egg, Sunny Side Up. Kalau ada makanan yang kalian ga suka bisa bilang sama papi," ucap tuan Vijendra mempersilahkan anak-anaknya untuk makan dan mereka pun mulai mengambil makanan yang mereka mau. Namun, Sadewa tiba-tiba mengacungkan tangannya membuat sang ayah dan yang lainnya langsung menatapnya.

"Ada apa Dewa? Kamu ga suka sama menu breaskfast nya?" tanya tuan Vijendra.

"Nggak sih.. mau nanya aja, ini ga ada nasi kuning kah?" tanya Sadewa dengan polosnya sedangkan Nakula hanya bisa menggelengkan kepala lalu kembali melanjutkan kegiatannya untuk mengambil makanan yang tersedia.

"Nasi kuning what is that? Yellow Rice? Oh no that's weird!" sahut Jehan bertanya.

"Ya nasi kuning, ah lo mah norak jadi ga akan tau betapa nikmatnya sarapan sama nasi kuning, atau nasi uduk!" jawab Sadewa.

"Ya emang cocok sih buat anak kampung kaya lo, sama-sama aneh soalnya," ucap Jehan lagi membuat Sadewa ingin menyumpal mulutnya dengan sambal.

"Dewa suka nasi kuning? Besok papi suruh chef untuk bikin nasi kuning khusus buat Dewa. Sekarang kamu sarapan dulu sama yang ada ya. Kami fine kan sama makannya?" tuan Vijendra buru-buru bersuara kembali sebelum terjadi pertikaian antara dua anaknya Jehan dan Sadewa, lagi.

"Okay okay i'm fine thank you!" ya bukan Sadewa namanya kalau tidak asbun alias asal bunyi.

Tuan Vijendra dan anak-anaknya pun kembali melanjutkan kegiatan sarapannya. Tak ada yang bersuara, masing-masing dari mereka makan dalam diam, begitu juga dengan Ananta yang sedari tadi hanya diam seraya sesekali melihat pada kursi di sampingnya yang kosong, yang mana sang empunya tak ikut sarapan pagi ini, mungkin.

"Eung.." Ananta ingin mengeluarkan suaranya namun terlihat ragu.

"Ada apa, adek?" hingga sang ayah yang sejak tadi memperhatikan pun bertanya.

"Papi, kondisi Sky baik-baik aja 'kan? Kenapa ga ikut sarapan bareng kita?" tanya Ananta yang akhirnya memberanikan diri karena sejak tadi pikirannya terus tertuju pada satu nama yaitu 'Sky' yang tak ikut sarapan pagi ini.

"Sky masih butuh istirahat, jadi nanti sarapannya bakal di anterin sama maid ke kamar. Adek jangan khawatir, Sky baik-baik aja kok. Iya kan, Bumi?" jawab tuan Vijendra dan Bumi yang namanya di sebut pun hanya mengangguk singkat pada Ananta.

7 LUKA [COMPLETE] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang