• Awal pertemuan

4.9K 422 106
                                        

Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 malam, biasanya Jehan akan berada di luar kumpul bersama teman-temannya dan akan pulang sekitar pukul 3 pagi, lalu sang adik Ananta akan menyibukan diri di dalam kamar entah untuk mengerjakan tugas sekolahnya, membaca komik atau apapun itu, sedangkan kedua orang tuanya pergi dengan alasan 'bekerja' namun biasanya tak kunjung pulang sampai 3 hari atau bahkan bisa sampai satu minggu lebih. Ya begitulah situasi dan kondisi yang ada di rumah mewah nan besar ini setiap malam nya, hanya ada sunyi dan sepi tanpa ada kehangatan di dalamnya. Bukan hanya pada saat malam hari saja, namun bagi si sulung Jehan dan si bungsu Ananta suasana sunyi dan sepi itu akan berlangsung sepanjang hari, itulah yang membuat keduanya lebih tepatnya si sulung Jehan yang selalu menghabiskan waktunya di luar rumah.

Namun berbeda dengan malam sebelumnya, jika biasanya tuan besar Vijendra tidak akan berada di rumah dalam waktu yang tidak bisa di tentukan dan terbilang lama, kini ia berada di kediamannya sendiri. Sungguh ini momen yang sangat langka bagi Jehan maupun Ananta karena sang ayah sudah berdiam diri di rumah sekitar 3 hari lamanya, biasanya ayahnya atau tuan besar Vijendra itu akan pulang hanya untuk berganti pakaian lalu pergi dan akan kembali beberapa hari kemudian. Hal itulah yang membuat baik Jehan maupun Ananta tidak dekat dengan sang ayah karena ayahnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja ketimbang bermain bersama mereka berdua.

Dan malam ini terlihat sudah ada Jehan juga sang adik Ananta yang tengah duduk di ruang keluarga menunggu kedatangan 'tamu-tamu' penting ayahnya di temani oleh beberapa maid dan juga pengawal sang ayah yang siap siaga berjaga.

"Hans, Can I get out of here? Waktu gue terlalu berharga untuk menunggu orang-orang yang ga penting," ucap Jehan pada pengawal pribadi sang ayah yang ikut menunggu juga di ruang keluarga, lebih tepatnya untuk memastikan agar Jehan tidak kabur.

"Tidak bisa tuan muda, tuan besar Vijendra bilang tuan muda Jehan dan tuan muda Ananta tidak boleh pergi kemana pun sampai saudara-saudara kalian datang, tuan muda Jehan dan tuan muda Ananta harus menyambut kedatangan mereka," sahut Hans.

"Saudara? Gue ga punya saudara selain Ananta. Mereka itu cuma anak-anak jalanan yang papi pungut ga lebih dan ga akan pernah lebih, sekali anak pungut tetap anak pungut," Jehan kembali menyahuti dengan nada bicaranya yang dingin nan datar sedangkan Ananta yang mendengar penuturan sang kakak yang mendelik malas dan Hans hanya menanggapi nya dengan senyuman kecil.

"Ah elah gue harusnya pergi ke club buat having fun, lagian harus banget ya anak-anak pungut itu di sambut?" sekali lagi Jehan menggerutu kesal.

"Mereka bukan anak pungut kak, mereka juga anak-anak papi, katanya.." Ananta yang sedari tadi diam akhirnya menyahuti juga lantaran sebal dengan sang kakak yang terus mengoceh.

"Nggak! Mereka bukan anak-anak papi, mereka cuma anak pungut yang ga tau diri dan sampai kapanpun gue ga akan sudi nganggap mereka sebagai saudara—"

"Lo pikir kita sudi saudaraan sama lo? Engga anjir, lo jangan ke-pede-an," seru seseorang yang berhasil menghentikan ucapan Jehan.

Dapat mereka lihat salah dua dari 5 tamu yang di tunggu pun sudah datang. Ya kedua tamu tersebut adalah Nakula dan Sadewa, dan yang menyela ucapan Jehan tadi siapa lagi kalau bukan Sadewa si anak songong yang minim ekspresi.

"Lo berdua siapa? Main nyelonong aja masuk ke rumah orang ga tau sopan santun," tanya Jehan seraya melipat kedua lengannya di depan dada tak lupa dengan tatapan intimidasinya.

"Eh kita ga nyelonong ya! Lu ga liat di belakang kita ada pengawalnya si bapak bapak Vijendra itu," kali ini Nakula yang menjawab seraya mendelik malas lalu menunjuk para pengawal yang ada di belakangnya dengan dagunya.

"Tau dah berasa dia yang punya rumah," tambah Sadewa.

"Excuse me? Ini emang rumah gue jadi gue harap lo berdua sopan sama pemilik rumah, lagian lo berdua tuh cuma anak pungut jadi jangan banyak tingkah karena level kita beda," penuturan Jehan tentu saja membuat Nakula juga Sadewa naik pitam, lebih tepatnya Sadewa karena Nakula masih bisa mengontrol emosinya.

7 LUKA [COMPLETE] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang