• Kepingan masa lalu

2.4K 308 63
                                        

Setelah kejadian tadi pagi yang mana terjadi pertengkaran antara Bumi dan Jehan yang saling memukul satu sama lain pun membuat suasana di kediaman Vijendra menjadi hening dan sepi padahal baru beberapa hari yang lalu suasana di kediaman Vijendra terasa sedikit ramai, kini rumah besar nan mewah itu kembali ke setelan awal yang mana hanya di penuhi oleh kesunyian dan kesepian tanpa ada kehangatan di dalamnya. Entah kemana perginya ketujuh anak-anak Vijendra, namun yang pasti setelah kejadian tersebut salah satu dari mereka yang sempat terkena pukulan tak sengaja dari Bumi pun memilih untuk mengurung dirinya di kamar menghabiskan waktu seorang diri, ya siapa lagi dia kalau bukan Ananta?

Terlihat Ananta tengah duduk di karpet berbulu seraya bersandar pada ranjang tidurnya. Lagi dan lagi darah terlihat keluar mengalir dari segaris luka yang terdapat di pergelangan tangannya. Ananta tersenyum kecil melihat luka itu, ah lebih tepatnya tersenyum getir karena merasa kasihan dengan dirinya sendiri. Tak cukup dengan satu goresan saja, Ananta berniat untuk menambah goresan baru namun baru saja ujung pisau cutter itu akan menyentuh kulit tangannya tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya dan hal itu sontak membuat Ananta menghentikan aksinya. Di lemparnya pisau cutter itu pada kolong ranjang tidurnya, ia lalu mengambil beberapa helai tisu untuk menyeka darah yang masih keluar dari luka tersebut.

"Tunggu sebentar," sahut Ananta dari dalam kamar saat suara ketukan pintu itu kembali terdengar.

Setelah di rasa darahnya mulai berhenti mengalir, Ananta pun membuang tisu yang ia gunakan untuk menyeka darah nya tadi ke sembarang arah lalu ia pun buru-buru berjalan menghampiri pintu kamarnya dan membuka pintu tersebut dengan perlahan.

"Lho kak Bumi?"

Ananta menatap heran seseorang yang kini tengah berdiri tepat di depan pintu kamarnya sesaat setelah ia membuka pintu tersebut dan memperlihatkan seseorang itu yang tak lain adalah Bumi.

"Kak Bumi ada perlu apa sama Nanta?" tanya Ananta.

Bumi tak langsung menjawab, ia hanya menunjukan kotak P3K yang berukuran kecil di tangannya.

"Boleh saya masuk dulu ke dalam? Atau kamu mau saya obatin di luar aja?" Bumi balik bertanya membuat Ananta yang tadi terlihat kebingungan pun sontak mengangguk.

"A-Ah, ayo masuk kak.."

Ananta mempersilahkan Bumi untuk masuk ke dalam kamarnya meskipun sebenarnya ia sendiri belum tau pasti apa maksud dan tujuan Bumi datang kesini menemuinya seraya membawa kotak obat P3K.

"Gimana kalau kita ngobrolnya di balkon aja?" tanya Bumi seraya melihat ke arah balkon yang ada di kamar Ananta.

"B-Boleh kak," jawab sang empunya kamar.

Lantas Ananta lebih dulu berjalan menuju balkon kamarnya di ikuti oleh Bumi. Lalu keduanya mendudukan tubuh mereka di kursi yang ada di area balkon tersebut.

"Kak Bumi ada perlu apa sama Nanta?" Ananta kembali mempertanyakan pertanyaan yang sama.

"Saya kesini mau ngobatin luka kamu, boleh kan?" jawab Bumi.

"Y-Ya boleh boleh aja sih kak, tapi Nanta gapapa kok, ini cuma luka kecil lagian ga kerasa sakit juga jadi kak Bumi ga perlu merasa bersalah sama Nanta."

"Mau sekecil atau sebesar apapun lukanya, saya tetap harus tanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan sama kamu. Dan yang namanya luka maupun kecil atau besar itu tetap luka, dan luka harus di obati. Kalau ga di obatin nanti malah makin sakit atau malah jadi infeksi," ucapan Bumi kali ini berhasil membuat Ananta terdiam sejenak.

'Tapi mau sebesar atau sekecil apapun luka itu, Nanta tetap ga bisa ngerasain sakitnya, Nanta ga tau gimana rasanya sakit. Nanta ga tau sakit itu seperti apa. Yang Nanta tau hanya rasa sakit di hati Nanta..'

7 LUKA [COMPLETE] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang