• Semua sama-sama berjuang

2.7K 334 196
                                        

3 months later...

Siang ini langit terlihat sangat cerah dengan menunjukan pancaran biru yang dihiasi awan putih yang mana membuat langit siang ini terlihat lebih indah dari hari-hari sebelumnya dan karena itulah Jehan memutuskan untuk datang mengunjungi suatu tempat yang mana tempat tersebut memang sering ia kunjungi akhir-akhir ini atau jika ia sedang merindukan orang-orang terkasihnya. Terlihat Jehan baru saja keluar dari toko bunga dengan membawa 3 buket bunga di tangannya yang baru saja ia beli dari toko tersebut. Setelah itu Jehan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan toko, ia masukan 3 buket bunga itu ke dalam mobilnya lalu Jehan sendiri memasuki mobilnya dan perlahan mobil mewah tersebut pun mulai melaju meninggalkan toko bunga yang kini sudah menjadi langganan Jehan untuk membeli bunga karena toko bunga tersebut satu-satunya toko yang dekat dengan tempat yang akan Jehan tuju sekarang.

Mobil mewah Jehan terus melaju dengan kecepatan sedang menuju salah satu tempat yang masih sangat asri seperti taman namun bukan definisi taman pada umumnya yang dapat di kunjungi oleh semua orang. Tempat ini adalah tempat khusus yang hanya bisa di datangi oleh keluarga Vijendra atau kerabat dekat yang memang ingin berkunjung.

Sesampainya di tempat yang Jehan tuju ia langsung memarkirkan mobilnya dan tak lama ia pun keluar dari mobil mewahnya sembari membawa 3 buket bunga yang sebelumnya ia beli.

"Selamat siang tuan muda Jehan," sapa penjaga tempat tersebut pada Jehan yang diangguki oleh sang empunya.

"Siang," balasnya seraya melangkahkan tungkainya memasuki tempat tersebut.

Jehan terus melangkahkan tungkainya hingga langkahnya terhenti tepat di tiga pusara yang terlihat masih baru diantara pusara yang lainnya. Ya, saat ini Jehan tengah berada di tempat peristirahatan terakhir keluarga besar Vijendra atau orang-orang biasanya akan menyebutnya dengan pemakaman. Jehan lalu berjongkok seraya menyimpan dua buket bunga yang ia bawa di masing-masing dua pusara tersebut, dan buket bunga yang satunya masih ia pegang.

"Hi kak.." gumam Jehan seraya menatap lekat pusara dengan tulisan nisan bernama Bumi Vijendra itu dengan kedua netranya yang sudah berkaca-kaca.

"Gimana kabar kakak disana? Jeje harap kakak baik-baik aja ya.."

"Kak, maaf Jeje terlambat menyadari kalau kakak ternyata kakak Bumi yang selalu nemenin Jeje saat kita kecil. Sekarang Jeje inget kalau panggilan Jeje itu di buat khusus sama kakak untuk Jeje katanya biar lucu soalnya waktu kecil Jeje sering banget ngambek sama kakak, iya kan?" Jehan sedikit terkekeh saat mengingat hal tersebut meski diiringi dengan tetesan air mata.

"Kak.. Kak Bumi tenang aja Jeje akan menjaga Kay dengan baik seperti adik Jeje sendiri tapi maaf.. Sampai detik ini Jeje belum bisa buat Kay sadar. Kakak bisa kan datang ke mimpi Kay? Tolong bilang sama Kay kalau semuanya udah baik-baik aja sekarang dan Kay bisa bangun tanpa rasa takut lagi. Bilang juga kalau kak Buminya sekarang udah tenang dan bahagia jadi Kay ga perlu khawatir lagi apalagi disana kakak ga sendirian ada Nakula dan juga N-Nanta.." suaranya sangat bergetar saat Jehan menyebutkan nama sang adik.

"Kak Bumi tau kalau kakak itu kakak terbaik yang ada di dunia ini! Jeje bener-bener iri sama kak Bumi yang punya rasa sayang sebesar itu sama Kay, sedangkan Jeje ga punya untuk Tata. Jeje sayang sama Tata tapi rasanya rasa sayang Jeje ke Tata masih kalah jauh dari rasa sayang kak Bumi untuk Kay karena apa yang kakak lakukan semuanya untuk kebaikan Kay dan itu benar-benar ga pernah ada dalam pikiran Jeje. Kakak pantas untuk mendapatkan semua hal-hal baik dari semesta jadi Jeje harap Tuhan memberikan tempat yang paling terbaik untuk kak Bumi.."

Jehan mengusap air matanya lalu beralih menatap pada pusara yang berada si sebelah pusara Bumi dengan nisan yang bernama Nakula Vijendra pada pusara itu.

7 LUKA [COMPLETE] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang