Kedua netra Nakula perlahan mulai terbuka lalu sang empunya mengedarkan pandangannya yang mana saat ini ia tengah berada di suatu ruangan namun nampaknya bukan di akhirat seperti pikirnya sebelum ia tak sadarkan diri. Nakula mengangkat tangan kirinya dengan perlahan dan dapat ia lihat ada selang infus yang terhubung disana, Nakula juga dapat merasakan ada sesuatu yang bertengger di hidung mancungnya yang saat ia pegang ternyata itu adalah selang oksigen. Nakula mengerjap beberapa kali menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu yang menyorot lalu beralih menatap ke arah sampingnya yang mana terdapat seseorang yang tengah duduk sembari sibuk berkutat dengan iPadnya.
"Gue dimana?" tanya Nakula lirih membuat seseorang itu yang tak lain adalah Jehan pun langsung menoleh dan seperti biasa mendelik malas.
"Man Robbuka?" " sahutnya asal lalu kembali fokus pada layar iPadnya.
"Mana ada malaikat bentukannya kaya angry bird jir," celetuk Nakula lagi dengan polosnya.
"Kan emang lo sama adek lo itu ga tau terimakasih," sebenarnya Jehan tak berniat menyahut lagi tapi tetap saja pada akhirnya ia menyahuti ucapan Nakula.
"Lo di IGD btw," lanjutnya.
"Oalaaa gue kira beneran di akhirat dan lagi di tanya sama malaikat penjaga pintu neraka," Nakula sedikit terkekeh pelan lalu berusaha merubah posisi tidurnya menjadi duduk meski saat melakukan hal tersebut rasa sakit mulai mendera seluruh area tubuhnya dan hal tersebut berhasil membuat ia meringis kesakitan.
"Lo yang bawa gue kesini ya, Je?" Nakula kembali bertanya.
"Menurut lo? Kalau bukan gue, gue ga akan ada disini," jawab Jehan tanpa menoleh dan Nakula pun mengangguk paham.
"Makasih ya Je, lagi lagi lo nolongin gue.." lirih Nakula.
"Ya dan gue harap ini terakhir kalinya gue nolongin lo ataupun adek lo yang nyebelin itu," sahut Jehan.
Bukannya tersinggung dengan ucapan Jehan, Nakula malah kembali terkekeh pelan.
"Pulang yuk Je," ucapan Nakula kali ini berhasil mengalihkan perhatian Jehan dari iPadnya.
"Ga ada ya, dokter bilang lo harus di rawat sampai semua luka yang ada di tubuh lo sembuh, bahkan saturasi oksigen lo aja masih rendah," sahut Jehan seraya mematikan layar iPadnya lalu menyimpannya di atas nakas samping ranjang pesakitan.
"Tapi gue mau pulang Je, gue ga mau di rawat disini, please lo ngomong sama dokter biar gue di izinin pulang sekarang."
"Ga ada, kalau lo mau ya lo ngomong sendiri sama dokternya sana. Gue sih ogah, udah cukup lo ngerepotin gue hari ini jadi please jangan repotin gue lagi, sisanya lo urus sendiri gue mau pulang."
"Kalau gitu gue ikut lo pulang Je. Gue ga mau disini."
"Ck," Jehan berdecak kesal, "tapi dokter nyuruh lo untuk rawat inap Nakula, udah ga usah ngeyel pake pengen balik segala. Kalau lo mati gimana?" tanyanya santai tanpa rasa bersalah.
"Ya kalaupun gue mati gapapa, asal jangan disini. Gue mau pulang Je," jawab Nakula kekeuh dengan pendiriannya untuk pulang.
"Ya kalau lo mau, lo aja sana yang bilang sama dokternya."
"Yaudah biar gue yang bilang sama dokternya."
Nakula turun dari ranjang pesakitannya, namun baru saja kakinya menginjak dinginnya lantai rumah sakit tubuhnya tiba-tiba saja limbung. Beruntung ada Jehan yang siap siaga menahan tubuh Nakula meskipun Jehan melakukannya dengan perasaan kesal.
"Lo tuh ngeyel banget ya ga bisa di bilangin! Lo tuh masih sakit anjir makanya dokter nyuruh lo untuk rawat inap!" omel Jehan seraya membantu Nakula untuk duduk di tepi ranjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 LUKA [COMPLETE]
FanfictionBagaimana jika 7 orang yang memiliki luka di satukan dalam ikatan persaudaraan? Akan kah kebersamaan mereka dapat menyembuhkan luka masing-masing atau bahkan malah menambah luka baru yang bahkan luka lama pun belum sembuh.
![7 LUKA [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/376562486-64-k261385.jpg)