• Dia datang

2.2K 311 62
                                        

"Ayo main lagi main lagi, gue warna merah sekarang!"

"Gue warna kuning!"

"Apaan warna tai, hijau lebih oke!"

"Gue ungu janda ges."

"Gue biru soalna persib nu aing, aing nu saha?"

"Maneh nu gelo wakakakaka. Eh Je, lu mau warna apa dah? Tapi tinggal sisa warna oren sih, gapapa lu warna oren?"

Jehan yang mendengar seruan dari teman-temannya pun menghela napas namun ada kekehan pelan setelahnya, "gue ga ikutan deh," sahutnya.

"Lha kenapa jir? Takut kalah ya lu? Tenang aja kali ini hukumannya yang ringan-ringan aja kek ambil kunci sel dari polisi," tanya salah satu temannya.

"Menantang banget itu mah ege!"

"Ya apa kek, yang kalah pargoy! Ayo Je ikutan, lo mau warna apa? Eh warna oren aja udah, ini warna oren jagoan cok!"

"Ga ga ga! Gue udah muak anjir, emangnya lu pada kagak muak dari jam 2 subuh sampe sekarang main Ludo mulu?" jawab Jehan membuat temannya tertawa pelan.

"Sejujurnya gue juga udah muak banget jir, tapi dari pada kita menggabut mending main Ludo aja ga sih?"

"Iye betul tuh dari pada gabut gas Ludo lagi sampai ortu kita dateng buat jemput, terus abis tuh kena tempeleng deh kita hahaha."

"Iya lagi iya lagi iya lagi hahaha."

"Gasssss lah Ludo lagi!"

"Je ikut main kagak nih?"

"Kagak, lu semua aja dah."

"Okaaaay!"

Setelah kejadian tengah malam yang mana Jehan and the gengs terciduk oleh polisi yang kebetulan tengah melakukan sweeping area mereka pun langsung di bawa ke kantor polisi saat itu juga, dan sampai detik ini mereka masih berada di kantor polisi lebih tepatnya Jehan and the gengs di tempatkan di salah satu sel yang ada disana sampai orang tua/wali mereka datang untuk menjemput masing-masing dari mereka. Kini Jehan hanya terdiam seraya memperhatikan teman-temannya yang tengah bermain game Ludo tersebut. Hingga tak lama dari itu datanglah seorang polisi menghampiri sel yang berisikan Jehan and the gengs.

"Saudara Jehan," panggil polisi tersebut.

Jehan hanya menoleh dengan tatapan datarnya tanpa mengeluarkan suaranya.

"Anda sudah boleh keluar karena sudah ada wali yang menjemput anda," ucap pak polisi seraya membuka sel tersebut membuat Jehan sontak langsung beranjak dari duduknya lalu menatap ke arah teman-temannya.

"Aman Je, lu balik duluan aja," ucap salah satu temannya yang mengerti arti dari tatapan Jehan.

"Gapapa nih kalau gue tinggal?" tanyanya memastikan.

"Aman Je aman, bentar lagi bonyok kita juga pasti bakalan jemput abis itu kita kena tempeleng deh hahaha," jawab teman Jehan di sahuti dengan tawa yang lainnya.

"Aman aja Je."

"Beneran gapapa kalau gue balik duluan?" tanya Jehan sekali lagi karena jujur ia merasa tak enak pada ke-lima teman-temannya yang masih berada di sel karena belum ada orang tua/wali yang menjemput mereka.

"Udah gapapa sans, lagian lo juga udah bantu beresin masalah kita disini, kita juga tinggal nunggu di jemput," jawabnya.

"Sorry ya guys, kalau gitu gue duluan nanti setelah keadaan membaik kita balapan lagi," tutur Jehan yang diangguki serta mendapat sorakan setuju dari teman-temannya membuat sang polisi yang memperhatikan pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jika saja Jehan bukan salah satu anak dari Vijendra yang memiliki pengaruh besar, mungkin sang polisi sudah memukul kepalanya.

7 LUKA [COMPLETE] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang