• Saling mengobati

2.8K 316 56
                                        

Ananta benar-benar menjaga Ren dengan baik. Seperti saat ini, karena demam Ren tak kunjung turun dan ia tak mau di panggilkan dokter, akhirnya Ananta pun memilih untuk mengompres Ren saja. Namun awalnya si bungsu lagi lagi menolak ide Ananta untuk mengompresnya tetapi Ananta juga tak kalah kekeuh dengan pendiriannya untuk mengompres Ren agar demamnya turun atau Ren pakai plester penurun demam saja jika tidak mau di kompres dan dengan pasrahnya Ren pun menurut dari pada harus menggunakan plester penurun demam seperti anak kecil, katanya.

"Ck, emang harus banget ya di kompres kaya gini?" decak Ren saat Ananta baru saja menempelkan face towel hangat pada dahinya.

"Ya iyalah harus, demam kamu tuh termasuk tinggi Ren, liat sendiri kan tadi di termometer? Harusnya kamu di periksa sama dokter takutnya kenapa-kenapa karena demamnya lumayan tinggi," Ananta dengan sabarnya menanggapi Ren yang terus mengeluh ini dan itu.

"Lebay ah, padahal gue gapapa," Ren mendelik malas.

"Gapapa gimana, badan kamu meriang banget ini! Udah ah jangan banyak ngomong, mending sekarang kamu makan dulu mumpung buburnya masih hangat," Ananta mengambil semangkuk bubur yang baru saja diantarkan oleh sang maid beberapa saat yang lalu.

"Bubur? Ogah gue makan makanan lembek buat bayi gitu," tolak Ren untuk kesekian kalinya membuat Ananta menghela napas lelah. Lama-lama ia juga lelah mengurus bocah bebal yang satu ini, beruntunglah Ananta itu termasuk ke dalam golongan orang-orang sabar.

"Ya terus kamu mau makan apa? Orang sakit tuh ga boleh makan yang macem-macem dulu, lagian mau makan apapun juga mulut kamu kerasanya tetep pait kan?"

"Kok lo tau sih? Mulut gue emang pait banget makanya gue ga mau makan!"

Ananta terkekeh pelan saat Ren menatapnya dengan tatapan polosnya, "ya emang wajarnya orang sakit kaya gitu. Harus tetep makan Ren biar bisa minum obat, biar cepet sembuh lho."

"Nggak! Pokoknya gue ga mau makan!"

"Makan!"

"Nggak!"

"Kamu harus makan Ren!"

"Nggak! Udah gue bilang gue ga mau makan!"

"Kalau ga makan nanti lama sembuhnya."

"Lo kira gue bocah? Bentar lagi juga gue sembuh, ga usah pake ginian segala," dengan seenaknya Ren membuang handuk kecil yang ada di dahinya ke sembarang arah membuat Ananta lagi lagi menghela napas lelah lalu menunduk sedih setelah.

Melihat Ananta yang seperti itu pun entah mengapa rasa bersalah mulai menyelimuti hati Ren apalagi saat melihat Ananta tak bergeming lagi.

"Ya udah gue mau makan, tapi cuma 3 suap!" ucap Ren membuat kepala Ananta kembali terangkat dan menunjukan senyum manisnya.

"Okaaaay! Aku suapin ya?!"

"Ogah! Berapa kali gue harus bilang kalau gue tuh bukan bocah, Ananta? Lo ngerti ga sih?!" Ren lagi lagi mengomel.

"Tapi tangan kamu gemeteran Ren."

"Ish shibal! Okay fine, untuk kali ini aja gue izinin lo buat nyuapin gue karena jujur badan gue masih lemes," putus final Ren.

"Okay!" Ananta tersenyum lebar seraya mulai menyuapi Ren setelahnya dengan telaten.

1 suap, 2 suap sampai 3 suap Ren masih menerimanya dengan baik. Namun saat suapan ke 4 tatapan Ren tak sengaja melihat ke arah pergelangan tangan Ananta yang memang tanpa sang empunya sadari lengan baju panjang sedikit terangkat.

"Ananta.." panggil Ren setelah selesai menelan buburnya.

"Hm?" sahut Ananta saat ini tengah mengaduk bubur untuk suapan selanjutnya.

7 LUKA [COMPLETE] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang