Sudah seminggu berlalu Gibran dan Marsha berselisih yang menyebabkan keduanya belum berjumpa kembali, bahkan tidak saling mengirim pesan. Gibran sore ini sibuk menuntaskan tugas kampus. Ia duduk di bangku yang berada di belakang rumahnya, tempat biasa mamanya berkarya, dengan ditemani dengan segelas banana smoothies dan sepiring snack ringan. Sebuah pesan memecah fokus laki-laki tersebut.
Gib, besok kita-kita mau turun lagi. Lo mau ikut?
Beberapa hari yang lalu Gibran tidak jadi bergabung dalam aksi demonstrasi karena ada beberapa projek yang harus ia selesaikan. Pesan tawaran yang baru saja masuk ke ponselnya cukup menyita pikiran Gibran. Sepertinya akan seru, toh ia masih ada jatah bolos jadi ia rasa tidak masalah.
Boleh, rencana jam berapa?
Sekitar jam 10.00 kita kumpul di Pojok Kampus.
Oke
Pojok Kampus merupakan warung makan yang berada di ujung kampus tepatnya di depan Fakultas Ilmu Komunikasi. Halaman luas ditambah udara sejuk dari pepohonan sangat cocok digunakan untuk melepas penat. Itu juga menjadi salah satu faktor alasan kenapa warung tersebut banyak dikunjungi para mahasiswa dari berbagai fakultas.
Tidak terasa langit senja perlahan menjadi gelap, hembusan angin perlahan menusuk kulit. Gibran merapikan perlengkapannya kemudian masuk ke rumah. Terlihat adiknya, Gabrin, duduk di sofa ruang tengah memangku Guguk.
Gibran menuju ke lantai atas, tempat dimana kamarnya berada. Setelah membersihkan badan ia turun ke bawah untuk makan malam. Penglihatan Gibran menangkap Mamanya sedang menyiapkan makanan. Di atas meja terhidang gurame asam manis dan sup ayam. HRV sand khaki yang terparkir di garasi menunjukkan jika papanya ada di rumah malam ini. Tak lama suara pintu ditutup terdengar dari kamar orang tuanya. Sang papa dengan setelan santai berjalan ke arah meja makan.
"Ma, Gaga mau ikannya dong." Mega telaten mengambilkan untuk si bungsu.
"Abang, mau?" Mega menawarkan ke Gibran. Gibran menggeleng, ia hanya menyantap semangkuk sup ayam dengan satu mangkuk kecil nasi. Mungkin mamanya lupa jika dirinya tidak suka ikan.
"Bang Gibran kan ngga suka ikan, Ma." cetus Gabrin.
"Gimana kuliahnya?" Sang papa membuka pembicaraan dengan Gibran.
"Aman, Pa. Sejauh ini sih lancar aja."
"Papa lihat lagi banyak demo, kamu gausah kelewat fomo." Endra menatap anaknya itu. Sedangkan yang diajak bicara hanya diam tidak menjawab. Suasana hening sesaat sampai si bungsu teringat sesuatu.
"Bang Gabrel lama ya ngga pulang. Jadi kangen." Benar juga, pikir Gibran.
"Biarin abangmu di sana lebih lama. Biar belajar."
"Kenapa ngga ikut papa pulang kemarin, Pa?" Gabrin semakin penasaran. Seenak apasih hidup bebas di luar negeri sampai abangnya itu enggan pulang.
"Abang yang mau di sana."
Gibran tersenyum simpul, paham akan itu. Semua sibuk menghabiskan hidangan di hadapan masing-masing. Selesai makan malam, Gibran tidak langsung ke kamar namun ia dan sang adik duduk di ruang tengah untuk sekedar menurunkan makanan di perut. Tangannya meraih remot untuk menyalakan televisi, mereka berniat menonton film malam ini.
"Bang, lo ribut sama Kak Marsha?" Gabrin bertanya tanpa menoleh ke Gibran.
"Ngga ribut, cuma lagi ngga ngobrol aja." Gibran menjawab dengan santai dengan memainkan perut Guguk yang di pangkuannya. Posisi sekarang itu Gabrin duduk di karpet bawah bersandar pada sofa sedangkan Gibran duduk di sofa memangku Guguk. Sesaat tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya ada suara dari televisi yang memecah keheningan.
Satu notifikasi masuk ke ponsel Gibran menandakan sebuah pesan dikirimkan padanya. Gibran termenung sesaat. Nama seseorang tertera di layar ponselnya. Teman kampusnya mengirimkan informasi terkait dengan rencana turun ke jalan besok pagi. Ia memikirkan sesuatu kemudian beranjak keluar untuk menelpon seseorang.
"Gimana, Gib?" Suara perempuan terdengar dari seberang telepon.
"Gue bisa nitip absen ke lo ngga besok?"
"Bisa. Tapi ngga janji."
"Oke, Gen. Thanks, ya." Geni berdehem sebelum panggilan berakhir. Gibran kembali masuk ke rumah.
"Ada apa, Bang?"
"Habis telpon temen kampus."
***
Musim kemarau membuat pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya. Gabrin merapatkan jaketnya sebelum menaiki vespa matic abu-abunya. Saat ia akan menutup pintu gerbang, sebuah mobil audi berhenti di depan rumah. Pengendara membunyikan klakson. Hafal dengan pemilik mobil, Gabrin tidak jadi menutup gerbang dan membukanya lebih lebar. Membiarkan mobil itu masuk.
"Seru nih." Gabrin tertawa kecil menyadari kakak sepupunya datang ke rumah sedangkan Gibran belum berangkat ke kampus. Tidak menyangkal jika sejak itu keduanya menjadi dingin satu sama lain. Tak mau ambil pusing, Gabrin melajukan motornya ke kampus.
Marsha hari ini akan pergi dengan Mega ke konveksi tempat Marsha membuat busana untuk bisnisnya. Jika Mega membuat baju dengan desain khusus dan mewah, Marsha membuat pakaian untuk kalangan remaja. Marsha dibantu Mega untuk membuat desain sesuai selera perempuan itu. Marsha lebih suka dan semangat ketika apa yang ia sukai dapat tersampaikan dengan baik.
Pagi ini Marsha mengenakan top tanpa lengan warna hitam dan trouser putih. Casual tapi tetap elegan. Rambutnya pun ia gulung rapi ke atas sehingga menambah aura cantiknya. Mega yang baru saja keluar dari kamar mendapati keponakannya sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Udah dari tadi, Nak?" Mega menghampiri Marsha.
"Belum, Tan." Marsha memeluk Mega sebentar.
"Sarapan dulu sini." Dibarengi dengan Mega, ia berjalan ke meja makan. "Tuh, ada abang, sarapan bareng gih. Tante mau make up sebentar ya." Mega menuju kamarnya.
Gibran hanya melirik ke Marsha sebentar dan melanjutkan sarapannya. Panggilan telepon dari ponsel Gibran memecah keheningan. Laki-laki itu mengangkat dan menyetujui ucapan seseorang di telepon, tak lama panggilannya selesai. Gibran yang memang sudah selesai makan pun berdiri untuk mencuci piringnya. Gerak gerik itu tak luput dari pandangan Marsha. Mencoba tak peduli, ia sibuk menyingkirkan wortel yang ada di piringnya. Ia kaget karena Gibran sudah di dekatnya, mengambil alih sendok yang ada di tangannya untuk mengambil wortel itu dan memakannya. Harusnya ini hal yang sudah biasa bagi mereka, namun masalahnya keduanya saat ini masih perang dingin. Setelah itu, Gibran mengambil tas yang tersampir di kursi bersiap pergi. Sebelum benar-benar berlalu, Gibran berucap pelan ke Marsha.
"Ambil jaket di kamar gue, di luar dingin." Marsha tidak merespon. Gibran sadar itu, ia menghela napas pelan sebelum menghilang dari ruang makan. Suara gerbang dibuka dan ditutup menandakan laki-laki itu sudah meninggalkan pekarangan rumah.
"Nak, sudah selesai makannya?" Mega menghampiri Marsha.
"Sudah, Tan. Mau berangkat sekarang?"
"Boleh."
"Tan, Marsha ambil jaket dulu di kamar Gibran." Mega mengangguk pelan.
"Tante tunggu depan ya." Marsha tersenyum kemudian menaiki tangga menuju kamar sepupunya.
***
25 July 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Bro's
RandomKisah Perkumpulan Anak Download! ❕ © 2020 Meripuff All Rights Reserved ❕
