Minggu pagi terlihat pemuda manis di kamarnya yang sudah berpakaian rapi seperti hendak keluar. Barey terus berkaca melihat dirinya dipantulan kaca itu. Entah kenapa dirinya menjadi gugup dan tidak percaya diri dengan pakaian yang ia pakai saat ini. Biasanya setiap akan pergi keluar tinggal asal memilih baju dan memakainya tapi sekarang kenapa dirinya mempermasalahkan apakah bajunya pas untuk di pakai hari ini.
"Dek... Ehh?" Issabela masuk kedalam kamar Barey dan melihat sang adik sedang memperhatikan penampilan dirinya sendiri didepan kaca.
"Bajunya terlihat jelek ish." Barey memandang kakaknya lewat pantulan kaca.
"Bagus kok manis gitu adek mbak." komentar Issabela mendekati Barey.
"Tapi Barey rasa jelek mbak."
"Memangnya mau kemana, kencan kah?"
Barey hanya melirik Issabela sebentar dan kembali melihat dirinya sendiri.
"Emm Dipta ngajak jalan keliling kota hari ini."
"Jadian beneran sama Dipta nih?" Barey mengangguk kecil. "Pakai baju yang biasa di pakai aja. Yang buat kamu nyaman."
"Tapi Barey pengen terlihat bagus dimata Dipta."
"Emang biasanya dimata Dipta kamu jelek?"
"Ya nggak tau juga sih, hehe." Barey nyengir membuat Issabela menggeleng pelan.
"Baru kali ini mbak liat kamu mempermasalahkan baju cuma buat kencan. Jadi penasaran mbak bagaimana Dipta bisa meluluhkan hati yang keras ini?" Issabela mencolek dada Barey menggoda.
"Bukannya keras mbak cuma Barey belum membukanya aja."
"Hmm ya udah nih pakai kaos ini aja lengan pendek." Issabela mengambil kaos lengan pendek yang biasa Barey pake dan diberikannya pada sang adik. "Pakai yang biasa kamu pakai. Apapun yang kamu pakai nggak mengurangi kemanisan kamu."
"Aku tampan!" Barey mengambil baju itu.
"Tampan itu Dipta kalau kamu itu manis. Nggak usah protes itu kenyataan." Issabela mencegah Barey untuk protes.
Barey cemberut dan melepas baju yang ia pakai untuk di ganti. "Terus mbak ngapain kesini?"
"Oh ya mbak sampai lupa. Pinjam earphonenya dong dek?"
"Punya mbak kemana?"
"Ketinggal di kantor. Dimana kamu narohnya?" Issabela mencari benda kecil itu di meja dekat tempat tidur.
"Ada di tas nggak di situ mbak." Barey menujuk tasnya yang tergantung di rak tas.
"Ah oke." Issabela menghampiri tas Barey untuk mengambil benda itu. "Mbak pinjam dulu ya?"
"Hmm." Barey hanya bergumam melihat Issabela keluar dari kamarnya.
Tepat pukul delapan Dipta datang untuk menjemput Barey. Diruang tamu Dipta menemukan Issabela yang sedang mendengarkan musik dari ponselnya.
"Pagi mbak Issa?" sapanya duduk disofa depan Issabela.
"Oh pagi juga Dipta. Ecieee yang mau kencan wajahnya berseri amat." goda Issabela.
"Ya dong apalagi kencannya sama adeknya mbak yang manis itu harus berseri." kata Dipta menanggapi candaan Issabela
"Jangan bilang manis nanti dia ngambek. Tau sendiri dia kalau udah ngambek gimana."
"Makin manis mbak."
"Bisa aja kamu." Issabela tertawa bersama Dipta dengan membicarakan Barey.
"Kalian ngetawain apaan?" Barey turun dari tangga dan melihat kakak juga kekasihnya tertawa bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blind Date (CHANBAEK)
Fanfiction(END) Pertemuan Dipta dan Barey itu tidak disengaja. Barey tidak menyukai Dipta hanya karena kata 'cantik' keluar dari mulut Dipta saat memuji Barey dipertemuan pertama mereka. Ditambah keduanya di pertemukan lagi pada applikasi kencan buta yang di...
