Jam menunjukan pukul dua pagi disaat Barey terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Dipta yang terlalu dekat dengan wajahnya. Sedikit saja Barey memajukan wajahnya bibir mereka dipastikan akan bersentuhan. Barey meneliti sebentar wajah damai Dipta yang tertidur. Barey menggerakan tangannya untuk menyentuh alis hitam itu lalu turun ke mata. Mata ini yang akhir-akhir ini membuatnya salah tingkah saat dipandangi dengan lembut. Hidung mancung ini yang terkadang membuat Barey iri. Bagaimana bisa hidungnya tidak semancung milik Dipta. Dan yang terakhir tangan itu berhenti tepat di bibir tebal Dipta. Bibir yang selalu melontarkan gombalan gaje namun sukses membuatnya tersipu. Barey jadi ingin merasakan bagaimana rasanya bibir itu di atas bibirnya. Apakah rasanya akan sama seperti gombalan gak jelasnya itu. Astaga! Barey tersentak dan langsung duduk membuat pelukan Dipta terlepas dari pinggangnya.
Barey melihat Dipta mengeliat sedikit dan tertidur kembali. Barey baru sadar jika dirinya telah terselimuti dengan selimut tebal. Apakah Dipta yang membawanya? Seriuskah Dipta membawa selimut ke puncak? Barey terus meneliti selimut yang berada di atas pahanya. Barey ingat betul carrier Dipta semalam tidak ada selimut. Lalu ini selimut siapa? Karena tidak ingin memikirkan hal lain, Barey membawa selimut itu untuk menyelimuti Dipta dan ia berjalan keluar tenda dimana di luar tenda masih dalam keadaan gelap belum ada tanda-tanda matahari terbit. Namun pemandangan di langit sangatlah indah. Bintang-bintang yang bertebaran kerlap-kerlip layaknya permata yang melayang. Benar-benar seperti sangat dekat dengan berdirinya Barey saat ini.
"Wow indah sekali." gumamnya pelan memuji keindahan langit dini hari.
Hawa dingin masuk kedalam jaketnya menembus kedalam kulitnya membuat Barey menggigil sedikit. Walau ia sudah memakai jaket tebal tetap saja hawa dingin itu Barey rasakan. Barey berjalan lima langkah menuju tenda dimana Dhika berada. Barey ingin membangunkan Dhika. Namun disaat ia membuka tenda itu, Barey tidak jadi membangunkan Dhika dan menutup tenda itu kembali. Mana tega Barey membangunkan orang yang sedang tertidur lelap sambil berpelukan seperti itu. Biarkan Dhika tidur bersama Caraka dan yang lainnya.
Barey melihat beberapa orang yang keluar dari tenda mereka untuk memulai pendakian kembali. Mereka benar-benar sangat bersemangat sekali pikirnya. Setelah lama berdiam diri didepan tenda sambil melihat satu persatu pendaki mendaki ke puncak. Barey dikejutkan dengan suara Dipta dari belakangnya.
"Aku kira kamu kemana ternyata disini." Dipta mendekati Barey yang masih menenangkan jantungnya.
"Memangnya gue bisa pergi kemana?" katanya berbalik melihat beberapa anggotanya yang mulai bangun ditenda sebelah. "Oh ya selimut itu lo dari mana?"
"Itu selimut dari rumah yang aku titipkan sama Raka." Barey memandang Dipta dari samping. Walau masih gelap tapi Barey bisa melihat Dipta yang telah memberinya senyuman.
Wuussshh...
Hembusan angin yang menerpa mereka membuat Barey memejamkan mata sebentar. Merapatkan jaket yang ia kenakan untuk terus tetap hangat. Saat membuka mata, Barey di kejutkan dengan wajah Dipta yang sangat dekat dengannya.
"A-apa ada sesuatu di wajah gue?" tanya Barey terbata.
Dipta menggeleng pelan menegakan kembali badanya. "Aku baru tahu jika wajah baru bangunmu itu seperti ini Rey."
"Kenapa jelek ya?"
"Nggak. Kamu cantik lebih cantik dari bintang-bintang di atas." Dipta memandang bintang di atasnya lalu memandang lembut Barey.
"Gue bukan perempuan." Barey salah tingkah.
"Memangnya yang cantik itu perempuan doang?"
"Ya tetap saja gue nggak cantik tapi tampan. Susah banget sih bilang gue tampan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Blind Date (CHANBAEK)
Fanfiction(END) Pertemuan Dipta dan Barey itu tidak disengaja. Barey tidak menyukai Dipta hanya karena kata 'cantik' keluar dari mulut Dipta saat memuji Barey dipertemuan pertama mereka. Ditambah keduanya di pertemukan lagi pada applikasi kencan buta yang di...
