Setelah liburan semester berlalu saatnya semester baru dimulai. Barey telah memasuki semester empat awal dimana tugas dan kesibukannya sebagai mahasiswa semakin banyak dan padat. Hari ini Barey ada jadwal ujian pagi untuk matakuliah bisnis dan sialnya Barey bangun kesiangan. Pemuda manis yang tingginya 174 itu segera melompat turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Selang beberapa menit ia keluar dan langsung berpakaian rapi untuk berangkat kuliah. Memasukan bukunya asal kedalam tasnya dan berjalan cepat keluar kamar.
"Mbak Issa?" panggilnya sambil menuruni anak tangga rumahnya. Tak ada jawaban dari sang kakak, Barey pergi ke arah dapur dimana Issabela biasanya berada disana namun ternyata kosong tidak ada siapapun disana.
Saat melewati kulkas Barey melihat catatan kecil yang tertempel disana. Pesan dari Issabela untuk menyuruhnya makan di luar karena ia tidak sempat membuatkan sarapan. Issabela harus berangkat pagi-pagi sekali ke kantor. Barey menempelkan kembali catatan kecil itu dan berjalan keluar.
"Mampus gue telat!" Barey melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul delapan tepat.
Barey berlari keluar rumah, mengunci pintu sebentar dan langsung menghampiri mobilnya.
"Ehh mobil gue. Sial! Gue lupa?" Barey memukul kepalanya sendiri karena melupakan bahwa mobilnya masih berada di rumah Dhika. Semalam mereka nongrong sampai larut malam dan Barey di jemput Huda karena tidak memungkinkan untuk menyetir. Barey ngantuk berat.
Barey berlari keluar gerbang menuju halte bus di pertigaan depan gang rumahnya. Ponselnya dari tadi tak henti-hentinya berdering. Barey tahu siapa yang telah menelponya berkali-kali. Tentu saja kalau bukan teman-temannya siapa lagi. Nama Dhika tertera di layar ponselnya saat Barey melihat ponselnya. Segera ia mengangkat telepon dari Dhika sambil berjalan cepat.
"Halo?"
"Lo kemana saja nyet. Kenapa belum sampai jam segini. Lo lupa hari ini ada jadwal unjian jam 9 nanti hah?" belum juga Barey selesai menyapa, Dhika telah memotongnya duluan.
"Gue telat bangun sialan! Lo bisa nggak sih ngomongnya biasa aja nggak usah keras-keras." Barey sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Hehe gue khawatir lo telat ikut ujian." kekehan Dhika terdengar.
"Dek cepat deh berangkatnya ini udah jam berapa?" suara Nanda terdengar ditelinga Barey.
"Ini juga lagi nunggu bus kali." jawab Barey duduk di halte setelah sampai.
"Lah mobil lo nggak lo pakai?" tanya Kiran.
"Semalam kan dia pulang di jemput mas Huda, Ran. Lo oneng ya?" Barey mendengar suara pukulan pelan yang ia yakin itu suara pukulan kedua wanita itu.
"Oh iya lupa hehe."
"Minta anterin mbak Issa aja lah dek?" suruh Nanda.
"Mbak Issa udah berangkat kerja."
"Tumben pagi amat berangkatnya."
"Lo naik taxi aja deh Bar biar cepet jangan naik bus." saran Dhika agar Barey cepat sampai kampusnya.
"Oke deh gue jalan nyari taxi nih. Busnya juga nggak datang-datang lagi." Barey berjalan menuju tempat dimana biasanya pemberhentian taxi.
"Oke hati-hati." kata Dhika, Nanda dan Kiran bebarengan.
Barey terus berjalan cepat sambil ngedumel sendiri. Tidak lucu kan di ujian awal semester malah telat. Ini semua gara-gara alarm sialan yang tidak berfungsi membuatnya telat bangun. Sesampainya ia di tempat tujuan ternyata tidak ada satupun taxi yang masih berada disana. Sial!
KAMU SEDANG MEMBACA
Blind Date (CHANBAEK)
Fiksi Penggemar(END) Pertemuan Dipta dan Barey itu tidak disengaja. Barey tidak menyukai Dipta hanya karena kata 'cantik' keluar dari mulut Dipta saat memuji Barey dipertemuan pertama mereka. Ditambah keduanya di pertemukan lagi pada applikasi kencan buta yang di...
