Bonus Chapter

74 11 0
                                        

Barey keluar dari kamar mandi dan duduk di atas tempat tidurnya membuka tas kuliahnya kemudian mengeluarkan ponselnya. Bau wangi sampo yang Barey pake tercium ke penjuru kamarnya. Wajah dengan penuh senyuman itu terus saja fokus pada ponselnya sampai tidak menyadari kedatangan Dhika.

"Barrr..!" teriak Dhika yang sudah berada tepat di depannya. "Tolongin gue, Bar?"

"Apasih?" Barey sedikit berjingkat, meletakan ponselnya di atas kasur.

"Raka! Bar, Raka!" Dhika mondar-mandir membuat Barey bingung.

"Lo kenapa sih? Raka kenapa emangnya?" Barey penasaran.

"Raka hari ini ngajakin gue jalan." Dhika berhenti, memandang Barey meminta bantuan.

"Serius dia ngajak jalan?" Barey tidak percaya.

"Nih kalau nggak percaya. Baca sendiri." Dhika memperlihatkan pesan dari Caraka yang mengajak jalan dirinya.

"Wiihhh kirain Raka nggak akan pernah berani ngajak lo jalan. Laki juga akhirnya." Barey sedikit tersenyum melihat pesan itu. Selama ini dia tahu jika Caraka menyimpan perasaan pada Dhika. Dipta pernah memberitahunya jika Caraka sering memperhatikan Dhika dan Dhika juga mengetahui hal itu. Hanya saja Dhika tetap pada pendiriannya jika dirinya masih suka perempuan.

"Gue harus gimana?"

"Ya udah sih iyain aja."

"Tapi gue kan nggak suka sama Caraka?"

"Emangnya kalau jalan itu harus suka dulu gitu?" tanya Barey membuat Dhika terdiam sebentar.

"Temenin gue?" pinta Dhika dengan wajah memohon.

"Dih gue jadi nyamuk gitu? Ogah!"

"Ya udah ajakin Dipta sekalian jalan berempat gitu. Gue belum pernah jalan sama cowok berduaan, gila?"

"Coba ngomong lagi belum pernah jalan berdua sama cowo?" Barey mengangkat satu alisnya.

"Emang iya kan?"

"Terus selama ini kita jalan berdua itu, gue lo anggap apa. Cewek?"

"Hehe, lo pengecualian. Udah sih ayok temenin gue, Bar. Entar gue beliin makanan yang banyak, serah lo mau apa." mohon Dhika.

"Kalau gue sama Dipta nemenin kalian yang ada Caraka yang kecewa. Udah sana di coba dulu baru berkomentar. Siapa tau lo jadi suka. Kaya gue yang sekarang jadi suka banget sama Dipta." Mager dia sebenernya.

"Helah sialan lo! Bilang aja kalau lo malas keluar." Dengus Dhika kesal.

"Tau aja lo." Barey nyengir lebar.

"Bar....?"

"Raka bilangnya mau jemput dimana?"

"Di rumah."

"Yaudah sana pulang entar Rakanya keburu datang lo-nya nggak ada."

"Beneran nih nggak mau nemenin?" Dhika masih berharap Barey mau menemaninya.

"Temui sendiri. Lagi pula kek nggak pernah ketemu aja sama Raka. Kan udah kenal jadi gampang ngobrolnya." Barey mendorong Dhika keluar kamarnya.

"Itu kalau main sebagai teman biasa sih oke. Nha ini beda Bar. Dia kan suka sama gue. Mana jelas lagi tujuan ngajak jalannya buat apa..."

"Nggak ada bedanya. Udah sana pergi." setelah sampai depan rumah, Dhika didorong masuk kedalam mobil oleh Barey.

Sebelum pergi Dhika masih memandangi Barey dengan tujuan agar Barey berubah pikiran. Namun Barey tetap berdiri diam dengan senyuman melambai padanya. Mobil Dhika telah menghilang dari pandangan. Barey kembali kedalam rumah. Sesampainya di kamar ponselnya berdering.

Blind Date (CHANBAEK)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang