Barey masih tetap diam di tempatnya, tiba-tiba saja ia di kagetkan dengan kedatangan Jerry yang menghentikan mobil dihadapannya. Klakson mobil Jerry membuyarkan lamunannya.
"Ayo masuk, aku antar kamu pulang." kata Jerry dari dalam mobil setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Bagaimana kak Jer ada disini?" Barey sedikit menundukan badanya untuk melihat Jerry.
"Hanya lewat. Ayo masuk."
"Apa tidak merepotkan?" tanya Barey tidak enak.
"Tidak sama sekali. Masuklah aku antar sampai rumah."
Barey mengangguk pelan dan masuk kedalam mobil Jerry.
Di pertengahan jalan Jerry menanyakan atas kesendiriannya disana. Barey menjelaskan awalnya bersama Dipta tapi karena Dipta harus kembali kekampus ada kelas sore yang diajukan lebih awal. Dan mau tidak mau Dipta meninggalkan Barey disana.
"Seharusnya dia nganter kamu pulang dulu, Bar."
"Nggak apa-apa kok kak." Barey tersenyum palsu.
Jerry fokus menyetir dengan sesekali melirik Barey disampingnya.
"Kamu tidak curiga melihat mereka berdua?"
"Maksudnya?" Barey menoleh kesampingnya.
"Dipta dan Falen. Mereka selalu bersama tiap kali ada kesempatan. Bahkan mereka kembali kekampus berdua kan meninggalkan kamu sendirian. Logikanya kamu itu prioritas pertama walau akhirnya dia akan telat masuk kelas." Jerry terus saja berbicara membuat hati Barey sedikit termakan omongannya.
"Tapi aku tau kalau mereka hanya teman sekelas."
Jerry tersenyum kecil. "Bar siapapun bisa bilang begitu. Tapi nyatanya banyak dari mereka yang punya hubungan di balik kata teman. Justru kamu harus hati-hati sama yang selalu bilang kata teman."
"Dipta tidak akan melakukan itu. Aku percaya dia." kata dimulut tapi hatinya tidak.
"Kamu percaya banget ya sama Dipta padahal buktinya sudah nyata kamu ditinggal dan Dipta lebih milih balik ke kampus dengan Falen."
Barey terdiam mengingat kembali bagaimana Dipta menyetujui perkataannya kalau ia akan baik-baik saja pulang sendiri. Jika dipikir kembali apa yang Jerry katakan ada benarnya. Tapi Dipta tidak seperti itu kan?
"Aku percaya padanya." Barey berusaha meyakinkan diri sendiri.
"Jangan terlalu percaya padanya. Aku tau tipe laki-laki seperti dia. Dia adalah salah satu dari banyaknya laki-laki yang hanya terobsesi pada kemanisanmu. Aku kenal Dipta dan teman-temannya. Mereka sekumpulan laki-laki yang hanya suka bermain-main saja."
Barey diam memikirkan perkataan Jerry. Tidak mungkin Dipta seperti itu sudah sangat jelas bahwa Dipta mencintainya sangat tulus tapi jika di lihat lagi dari sisi teman-teman yang lain. Mereka memang sering gonta-ganti pasangan. William, Adipati apalagi Caraka, dia adalah ketuanya playboy. Barey juga pernah mendengar dari Nanda jika Dipta mempunyai tak sedikit mantan.
"Kamu harus percaya padaku Bar. Dipta tidak sebaik itu." Jerry masih setia membuat hati Barey bimbang.
"Kak Jer tau dari mana dia tidak sebaik yang aku kira? Disni aku lho kekasihnya."
"Aku seniormu seangkatan dengan dia. Aku tau soal mereka. Aku jauh lebih tahu mengenal mereka di banding kamu."
Barey tidak tahu harus menjawab apa. Hatinya sudah tidak bisa menelaah mana yang benar dan mana yang tidak. Barey mulai termakan omongan Jerry. Semua yang telah ia lihat antara mereka berdua menjurus dimana Dipta memang peduli dengan Falen walau terkadang pemuda itu cuek. Tetap saja Dipta memperhatikan Falen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blind Date (CHANBAEK)
Fanfiction(END) Pertemuan Dipta dan Barey itu tidak disengaja. Barey tidak menyukai Dipta hanya karena kata 'cantik' keluar dari mulut Dipta saat memuji Barey dipertemuan pertama mereka. Ditambah keduanya di pertemukan lagi pada applikasi kencan buta yang di...
