Barey terus saja melihat Dipta yang habis menutup pintu. Dipta berjalan mendekati Barey tak lupa dengan senyumannya.
"Kamu kalau sakit harusnya istirahat saja. Kenapa maksain ke kampus?" Dipta duduk di kursi sebelah tempat tidur Barey dan mengambil apel untuk di kupas.
"Tadi pagi nggak kenapa-kenapa kok." katanya berusaha duduk. Dipta yang melihat itu meletakkan apel kupasnya dan membantu Barey untuk duduk bersandar pada bantal.
"Dokter bilang kamu sudah lama demamnya. Sekarang badan kamu saja masih panas walau tidak sepanas tadi." Dipta memberikan apel dengan potongan kecil.
Barey ingin menerima potongan apel itu namun Dipta tidak mengijinkannya untuk memegang garpunya. Dipta menyingkirkan tangan Barey dan mengarahkan apel potong itu ke mulut Barey. Dengan pelan Barey membuka mulutnya dan memakan apel suapan Dipta dengan sedikit tersipu.
"Orang sakit harus disuapi." Dipta menusuk apel di piring dan mengarahkan kembali pada mulut Barey.
"Ck aku tidak selemah itu." Barey tetap membuka mulutnya.
Dipta terkekeh. "Gelangnya baru ya. Edelweis? Ada artinya?" Dipta memperhatikan gelang perak Barey dengan liontin bunga Edelweis kecil putih keemasan.
Barey langsung menutupi gelang itu. Barey terkejut karena ternyata Dipta memperhatikan gelangnya. Dipta yang melihat Barey menutupi gelangnya membuatnya tersenyun kecil.
"Dari orang spesial kah?" tanya Dipta berusaha tegar.
Mendengar nada lemah Dipta membuat Barey memperlihatkan gelangnya dengan jelas. "Aku beli sendiri. Tertarik aja sama gelangnya."
"Oke."
"Kamu kalau mau kembali ke festival kampus. Aku tidak apa-apa disini sendiri." Barey mengalihkan pembicaraan. Tapi lain tanggapan Dipta dengan perkataan Barey barusan. Dipta mengira Barey tidak nyaman dengan kehadirannya.
"Kamu tidak nyaman aku disini?" Dipta memandang Barey sebentar. "Baiklah aku akan pergi." Dipta bangun dari duduknya.
"Tidak tidak, b-bukan begitu.." Barey tanpa sengaja memegang tangan Dipta mencegah pemuda itu untuk pergi.
Dipta memandang Barey dengan satu alis terangkat. "Katanya tidak nyaman?"
"Aku tidak bilang begitu." dengan cepat ia menjawab.
"Lalu?" kata Dipta cuek. Dipta tahu Barey tidak ingin sendirian dan ingin ditemani olehnya. Dilihat dari kedua mata Barey saat ini, tapi Dipta ingin Barey sendiri yang mengatakan langsung untuk dirinya tetap di ruangan ini. Jika tidak Dipta akan tetap pergi.
"I-itu.." Barey menunduk tanpa menyelesaikan perkataannya.
Dipta menghela nafas pelan. Melepaskan pegangan Barey dan berjalan menuju pintu. Barey memandang punggung Dipta merana. Dipta telah sampai didepan pintu, mengambil gagang pintu itu dan membukanya. Dipta hanya diam tanpa niatan untuk keluar dan setelahnya pintu itu tertutup kembali dengan Dipta yang masih didalam.
"Kamu kalau ingin di temani kenapa nggak bilang terus terang Rey. Susah sekali ya mengatakan itu?" Dipta memandang Barey yang juga sedang memandangnya dengan keterkejutan.
Barey tidak mengatakan apa-apa membuat Dipta sedikit kesal tapi juga gemas. "Kamu ingin aku tetap disini atau pergi?"
"Te-tetap disini. Aku ingin kamu disini. Jangan pergi." akhirnya Barey bisa mengatakan apa yang diinginkan hatinya.
Dipta tersenyum lebar, berjalan menghampiri Barey yang sedang malu-malu. Dipta mengusap pelan kepala Barey membuat Barey tersenyum menanggapi. Kenapa pria kecilnya ini sangat menggemaskan, oh bukan pria kecilnya lagi tapi mantan pria kecilnya batin Dipta tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blind Date (CHANBAEK)
Fanfikce(END) Pertemuan Dipta dan Barey itu tidak disengaja. Barey tidak menyukai Dipta hanya karena kata 'cantik' keluar dari mulut Dipta saat memuji Barey dipertemuan pertama mereka. Ditambah keduanya di pertemukan lagi pada applikasi kencan buta yang di...
