CH 22

105 11 2
                                        

Dipta melajukan Jeepnya memasuki jalan tol dengan kecepatan tinggi karena jika di jalan biasa ia takut akan langsung bersenggolan atau bahkan bertabrakan dengan pengendara lain. Mungkin jika itu terjadi dan hanya Dipta yang terluka ia tidak akan memperdulikannya. Dipta hanya ingin melampiaskan kekecewaannya dijalan, ya walaupun itu salah. Pikiranya hanya dipenuhi oleh kata putus dari Barey. Tidak pernah menyangka bahwa Barey akan meminta putus dengannya secepat ini. Dipta sangat mencintai Barey, tidak pernah sekalipun untuk berpaling apalagi menyukai orang lain. Apakah selama ini yang ia lakukan untuk Barey masih kurang membuktikan bahwa hanya dia yang Dipta cintai. Dipta menepikan Jeepnya kepinggir untuk menenangkan dirinya. Menempelkan dahinya di atas stir Jeepnya sambil memejamkan matanya. Dirasa sudah cukup lama berhenti di pinggir jalan ia melajukan kembali Jeepnya.

Setelah keluar tol, Dipta melajukan Jeepnya menuju rumah Caraka. Bukan apa-apa Dipta hanya butuh bersama temannya. Sesampainya di rumah Caraka, ia melihat mobil Adipati telah terparkir di depan rumah itu. Dipta memasuki rumah dan menemukan Adipati juga Wiliam sedang menonton tv sambil makan jajanan dengan Caraka yang tidak terlihat.

"Kenapa lo. Mukanya jelek begitu?" tanya Adipati setelah Dipta mendudukan dirinya di sofa.

"Raka mana?" Dipta bukanya menjawab malah menanyakan si pemilik rumah.

"Didapur lagi masak mie. Lo nggak jadi jalan sama Barey?" tanya William membuat raut wajah Dipta melemah.

"Gue putus."

"Hah?" Adipati juga William melihat Dipta berbarengan.

"Gue sama Barey putus."

"Serius?"

"Siapa yang putus?" Caraka datang membawa dua mangkok mie.

Dipta merebahkan punggungnya kesandaran sofa memejamkan kedua matanya untuk menenangkan pikirannya. Caraka memberikan mie yang ia bawa pada Adipati dan William, ia juga tak lupa menanyakan ada apa dengan Dipta menggunakan gerakan matanya dan di jawab Adipati tidak tahu tanpa suara.

Ketiganya membiarkan Dipta dengan pikiranya sendiri tanpa mau bertanya lebih lanjut. Walau sebenarnya mereka juga sangat penasaran. Biarkan Dipta sendiri yang bercerita pada mereka.

Ditempat lain dimana Barey masih berada di danau. Barey terduduk ditanah dengan rasa sesak di hatinya. Ingin rasanya berteriak namun tidak bisa. Yang Barey lakukan hanya menangis untuk meredakan sakit meskipun tidak merubah keadaan. Meskipun tidak bisa menekan keegoisannya yang seharusnya itu tidak terjadi.

Siang berganti malam, langit biru telah berganti dengan langit gelap ditemani beberapa bintang yang berkelip disana tidak sesuai dengan keadaan hatinya saat ini. Lampu-lampu kampus telah dinyalakan kecuali tempatnya duduk. Karena takut tidak melihat jalan kembali, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Kembali kerumah menggunakan taxi. Issabela yang mengetahui adiknya pulang dengan taxi menjadi khawatir apalagi melihat mata merah penuh air saat melewatinya tadi. Tanpa Barey memberitahukan padanya, Issabela tahu jika telah terjadi sesuatu diantara adiknya dan Dipta.

Issabela langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Dipta untuk meminta penjelasan apa yang telah Dipta lakukan sampai membuat Barey menangis. Namun bukan jawaban yang Issabela dapatkan justru Dipta memintanya untuk bertanya langsung pada sang adik.

Mbak tanya langsung saja sama Barey apa alasanya karena akupun tidak tahu. Aku hanya mungikuti kemauannya saja.

Hanya itu yang Dipta katakan setelahnya telepon terputus. Issabela menghampiri kamar Barey dengan perasaan penasaran juga bingung. Saat ingin memanggil nama adiknya, Issabela melihat Barey sedang meringkuk di atas tempat tidur menyembunyikan wajahnya di bantal. Tanpa melihat Issabela tahu Barey sedang menangis. Issabela membiarkan Barey menangis dalam kamar itu. Biarkan Barey sendiri yang memberitahukan apa masalahnya nanti. Walaupun tidak tega tapi Issabela juga tidak bisa melakukan apapun dan meninggalkan kamar Barey.

Blind Date (CHANBAEK)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang