Sejak pengakuan Jerry waktu itu segalanya jadi semakin sesak. Barey semakin menjadi pendiam yang membuat ketiga temannya juga Issabela khawatir. Barey ingin berlari menghampiri Dipta dan mengatakan maaf dan ingin kembali namun hatinya takut jika Dipta sudah tidak menginginkannya kembali. Siapa yang mau kembali jika sudah di buang. Tetapi Barey lupa jika Dipta itu telah bucin terhadapnya. Mau dibuang berapa kalipun jika Barey sendiri yang mengatakan ingin Dipta kembali, Dipta akan kembali. Keduanya sama-sama kacau. Tidak tahu harus bagaimana menghadapi hati masing-masing. Sama-sama rindu dan ingin kembali namun takut tidak ada kesempatan. Haruskan mengiklaskan dan lupakan?
"Kalau lo nggak berani datang sendiri gue anter deh." kata Dhika lembut. Saat ini mereka sedang berada di kelas. Lagi-lagi Barey terlihat merenung dan membuat ketiga temannya kesal tapi simpati.
"Gue harus apa?"
"Katakan yang sebenarnya jika lo masih suka sama Dipta" kata Kiran.
"Gue yang mutusin, masa gue juga yang minta kembali. Nggak punya malu banget ya gue?"
"Ya ampun dek. Mau sampai kapan lo terus begini. Mendem sendiri kesedihan lo. Kalau lo nggak bilang sama dia, mana Dipta tau? Di nggak akan tau!" Nanda jadi kesal sendiri. Mereka berdua masih saling suka, saling menrindu namun tidak ada yang mau memulai. Hanya bisa menyakiti diri sendiri.
"Memangnya kalau Dipta tau. Dia bakal mau balik lagi sama gue?"
"Kalau belum dicoba mana tau. Dulu Dipta yang ngejar cinta lo sampai lo luluh. Sekarang ayo dong lo kejar dia balik. Masa lo langsung nyerah sih. Mana Barey yang penuh dengan semangat 45 itu." Dhika menyenggol pelan langan Barey.
"Dan cerita Falen sama Dipta juga nggak pernah ada kan. Lo sendiri yang bilang kata Jerry begitu."
"Siapa tau saat ini sudah tumbuh rasa diantara mereka."
"Ya ampum Bar pikiran lo buruk mulu ya. Makanya lo bergerak sebelum itu terjadi. Nanti lo tambah nyesel. Terus gue bakal ketawa kenceng setelahnya." Kiran membuat Barey menggembungkan pipinya galau.
"Doa lo kok gitu sih Ran?"
"Lo sendiri yang ngomong nyet!" Dhika menjitak kepala Barey sayang.
"Udah sih sana pergi. Jam segini biasanya Dipta ada di ruang senat." Nanda memberi tahu.
"Harus gue yang ngejar nih?" Barey menunjuk dirinya sendiri.
"Lalu siapa lagi? Gue?"
"Nggak maulah. Kalau dia masih suka sama gue. Dia bakal datengin gue. Tapi nyatanya nggak sama sekali." Barey meletakan dagunya diatas meja.
"Apa perlu gue telpon Dipta suruh dia kesini." kata Nanda mengeluarkan ponselnya.
"Nggak perlu repot-repot Nan." Barey meletakan kembali ponsel Nanda di atas meja. Nada tenang Barey membuat ketiga temannya diam. Itu tandanya Barey tidak ingin mereka ikut campur.
"Terserah deh." Nanda menghela nafas kesal. Ia tahu temannya ini tidak akan memulai duluan karena gengsinya yang terlalu besar itu.
Dhika dan Kiran hanya mengangguk saat Barey menatap mereka. Barey ingin masalahnya dibiarkan karena mungkin memang ini sudah jalannya hubungan mereka berdua sampai disini.
Ada satu tempat spesial. Tempat dimana Dipta bisa melihat seseorang yang sekarang telah menjadi kenangan tanpa diketahui oleh siapapun. Gudang fakultas teknik yang sudah tak terpakai dimana jendela belakang langsung menuju ke danau. Karena biasanya jam istirahat Barey akan berada di danau belakang fakultas teknik. Barey tidak pernah mengetahui jika selama seminggu ini menjadi objek pencarian Dipta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blind Date (CHANBAEK)
Fanfiction(END) Pertemuan Dipta dan Barey itu tidak disengaja. Barey tidak menyukai Dipta hanya karena kata 'cantik' keluar dari mulut Dipta saat memuji Barey dipertemuan pertama mereka. Ditambah keduanya di pertemukan lagi pada applikasi kencan buta yang di...
