Dasi 44

4.4K 279 180
                                        

Bab ini panjaaaang. Jumlah kata 7000++

Sudah di pendakian puncak.

Dan tolong.

Tolon persiapkan hati kalian dulu sebelum baca.

Kalau belum siap, jangan baca.

Baca dari atas sampai bawah, jangan bawah ke atas, ya.

Draf Bab ini sudah aku tulis sejak awal aku nulis bab 1 TB. Dan Ending cerita ini juga sudah aku tulis ya Teman-teman, tinggal jalan ke sana.

Selamat menikmati.




.

.

.

.

Hening malam menelan suara detak jam.

Udara di kamar seolah beku sejak Rayyan jatuh tertidur. Kelopak matanya bergerak di balik mimpi yang gelisah.

Lalu, kehangatan yang asing menyentuh dahinya.

Lembut.

Rayyan membuka mata. Pandangannya masih buram, tetapi siluet pria di sisinya jelas terlihat di bawah cahaya lampu.

Pak Wis.

Shouki Wisanggeni ada di sana. Duduk di tepi ranjang, satu tangan menopang tubuhnya, sedangkan bibirnya baru saja meninggalkan kecupan di kening Rayyan.

Rayyan mengulurkan tangan tanpa berpikir. Ia meraih pria itu, menariknya ke dalam pelukan erat, seolah kalau ia tak berpegangan cukup kuat, Pak Wis akan melebur jadi satu dengan mimpi buruknya.

Dada Pak Wis kukuh, terasa nyata di bawah jemari Rayyan. Hangat. Tidak ada jejak luka dari perundungan.

Di dada Pak Wis, Rayyan bisa mendengar detak jantungnya yang tenang.

"Kamu gapapa, kan?" bisiknya.

Pak Wis mengerutkan dahi. Jari-jarinya mengelus punggung Rayyan dengan gerakan pelan.

Keheningan masih mengikat malam. Hanya detak jam yang samar terdengar di antara napas mereka. Rayyan masih memeluk Pak Wis erat. Wajah tenggelam di perut pria itu, seperti mencari tempat teraman di dunia.

"Kamu gapapa, kan?" bisik Rayyan pelan. "Gapapa kalo saya peluk gini?"

Pak Wis menunduk. Jari-jarinya masih menyusuri rambut Rayyan dengan lembut, mengelus penuh sayang. "Anytime, Kak," bisiknya. "Kakak lanjut tidur aja, aku di sini."

Rayyan mendesah lemah seperti anak bebek mencari induknya. Ia masih membenamkan wajah. Tangannya naik sedikit, melingkar erat di pinggang pria itu.

Pak Wis membuka mulut lagi kali ini dengan suara yang lebih hati-hati. "Kak ...?"

"Hm."

"Jangan ngomong kayak tadi lagi."

Rayyan menengadah sejenak. "Kayak gimana? Oh—Soal OB pengganti, ya?"

Pak Wis tak menanggapi langsung. Sebagai gantinya, ia mengelus puncak kepala Rayyan, gerakannya pelan, penuh rasa sayang yang tak terucap.

"Iya, jangan ngomong gitu," bisik Pak Wis, terus mengelus, kali ini lebih lembut, lebih lama. "Kakak selalu dibutuhin di sini."

"Dibutuhin gimana?"

"Enggak ada yang bisa bikinin aku teh seenak Kakak," kata Pak Wis. "Takaran gulanya pas. Warna tehnya juga pekat."

Tampan Berdasi (MxM)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang