Dasi 45

5.9K 260 105
                                        

Kita berangkat kembali ke masa lalu membongkar apa yang sebenarnya terjadi saat Rayyan dan Shouki masih SMA.

Enggak panjang, kok. Cuma dua part. Ini part pertamanya. Semua akan dibahas habis di sini tanpa ada rahasia masa lalu lagi, tanpa ada yang ditutupi lagi.

Bacanya perlu siapkan hati, ya.





Rayyan Nareswara, pada usia delapan belas tahun, melihat langit malam seperti kabut.

Sejak matahari tenggelam, langit berganti malam, warna kelam itu turun perlahan seperti kabut di atas atap rumah. Sebagian penduduk bumi diselimuti kegelapan dan tidak peduli berapa ratus watt lampu dinyalakan, rasanya tetap gelap.

Saat matahari kembali terbit pun, segalanya tetap gelap bagi Rayyan.

Dunia tiba-tiba menjadi terlalu berat sekarang.

Di sudut ruang tamu, cahaya televisi memantul di lantai kusam, menyalakan percik cahaya dingin di wajah Rayyan. Suara pembawa berita perempuan terdengar seperti datang dari dunia lain.

"—Raya Soebrata Nareswara, narapidana kasus penggelapan dana nasabah sekuritas senilai ratusan miliar, pagi ini ditemukan tewas di dalam sel tahanan. Polisi menyatakan tidak ada tanda kekerasan. Diduga bunuh diri—"

Gelas di tangan Rayyan bergetar sedikit. Ia duduk di lantai, punggung bersandar ke kaki sofa, kedua lutut ditarik ke dada.

Layar televisi memperlihatkan pagar penjara kusam, pita kuning bergoyang tertiup angin, dan sosok petugas berbicara ke wartawan dengan wajah datar. Tidak ada foto. Tidak ada penampakan bagaimana narapidana itu tergantung dengan dasi di langit-langit. Berita itu segera berganti cepat. Ini hanya satu berita kecil di antara berita-berita besar dunia.

Rayyan melihatnya pagi ini saat berkunjung ke tahanan, membawa sarapan yang mendingin.

Gemuruh kosong pecah di dadanya.

Ayahnya senang mengoleksi dasi atau menjadikannya hadiah bagi kolega bisnis. Mereka biasa ditata dalam boks hitam elegan. Rayyan menyimpan sebuah dasi sebagai satu-satunya peninggalan saat rumah mereka disita. Minggu lalu ayahnya minta dasi itu dibawa ke tahanan. Lalu, sekarang dasi bersulam sutra itu mengikat leher ayahnya sebagai hadiah perpisahan.

Rayyan tidak menangis saat melihat ayahnya tergantung di tengah sel tahanan. Lidah terjulur. Bola mata tidak sempat ditutup. Kulit yang mendingin.

Hanya saja, pemandangan itu melekat seumur hidup.

Tangannya meraih remote, memencet tombol tak tentu. Gambar di layar berganti-ganti cepat: Iklan sampo bayi, sinetron murahan, berita bencana banjir di kota lain. Semua bergerak terlalu cepat, terlalu sadis, sedangkan Rayyan membeku di sini.

Rayyan menarik napas dalam-dalam, terbatuk. Udara di dalam kamar kos ini seperti mengandung pasir, menyesakkan. Pelipisnya basah, entah karena keringat atau air mata. Ia menunduk. Melihat jemari yang dingin dan tremor. Di luar suara anjing menggonggong sekali, lalu diam. Suara sirene ambulans meraung terlalu jauh. Suara pedagang nasi goreng yang lewat dengan gerobak. Suara-suara itu berlalu seperti khayalan. Seperti bayangan gelap malam tak berarti. Seperti dirinya.

Rayyan perlahan memeluk lututnya lebih erat, membiarkan semua suara tenggelam di satu titik dalam kepalanya: sepotong dasi, sebuah tubuh mati yang menggantung, dan sebuah dunia yang rusak.

....

Ia tidak tahu berapa lama kekosongan mengisinya seperti itu.

Dari malam menuju siang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 04, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tampan Berdasi (MxM)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang