HI YEOROBUN
HAPPY READING
•••||•••||•••
BAB.21
Malvin bingung, biasanya ia akan cepat menemukan solusi, tapi kini...otaknya tidak bisa diajak kerjasama, Yudzi mengambil alih kertas itu dan membacanya dengan seksama, ia melihat ke arah gembok di pintu kamar itu, bukan angka yang ada disana,
Isi surat:
" Temukan aku dibalik gelapnya lorong, sunyi, hangat, dan pantulan besinar "
-FI FmRnN-
Yudzi merotasikan matanya melihat ke segala arah, ia mencari sesuatu yang bersembunyi dibalik gelap tapi memiliki pantulan yang bersinar, hingga arah pandangnya berhenti di salah satu objek yang sangat tepat untuk jawaban dari surat itu, ia mengambil batu kerikil yang ada di vas bunga didepan kamar itu...lalu melemparkannya tepat pada salah satu lampu disana, setelah lampu itu pecah dan membuat semua yang ada disana terkejut...sesuatu seperti benda yang telah diremas dengan kuat, itu kertas yang membentuk bola.
Kertasnya berantakan, tulisan disana pun juga tidak begitu terlihat pasti, Yudzi berjalan ke arah benda itu jatuh lalu mengambilnya dan membukanya, ia berjalan mendekat kembali ke arah Malvin dan yang lainnya, menunjukkan isi surat itu kepada yang lainnya.
Isi surat:
" Kemana arah bunga di vas itu menghadap?, dan apa yang kamu injak di kakimu itu?, kenapa hujan selalu jadi musik ketika malam?, dan angka sembilan yang bersebrangan dengan angka tiga " -FI FmRnN-
Rendy mengambil alih surat itu, ia maju beberapa langkah mendekati pintu, dan kembali menoleh ke yang lainnya,
" Kodenya bukan angka, kita harus sesuaiin petunjuk ini dulu " ucap Rendy,
" Arah bunga vas...ke kanan " ucap Haelka,
" Yang kita injak di kaki kita, ke bawah " lanjut Carez, mereka menyebutkan jawaban dan Yudzi sibuk menuliskannya di gembok,
" Hujan..., atap!, itu diatas " ucap Nathael,
" Sembilan yang bersebrangan dengan tiga?, oh iya!...angka sembilan bersebrangan di sebelah kiri angka tiga " dan petunjuk terakhir dijawab oleh Jovan,
Gembok itu berhasil terbuka, hanya dalam beberapa menit saja mereka mencari petunjuk dan akhirnya berhasil membuka pintu kamar.
Benar benar hanya gelap yang ada didalam sana, Varez terlihat sedang duduk dipojok dengan kedua tangan yang menutupi telinganya, Nathael dan Carez dengan cepat memeluk Varez, sedangkan yang lainnya baru saja melangkah masuk, Nathael memeluk erat tubuh Varez yang gemetar itu, bahkan didalam mimpinya pun trauma Varez bisa kembali kambuh.
" Kenapa abang lama? " lirih Varez, matanya berhadapan langsung dengan wajah Nathael,
" Maafin abang ya?, kamu nggak papa kan?, ada yang luka? " tanya Nathael,
" Varez udah nungguin lama disini bang " Varez agak meninggikan suaranya, air mata mulai menggores pipi lembutnya,
" Iya abang minta maaf ya, tadi harus ngurus masalah yang diluar urusan ini Var, sekarang kita keluar dulu dari sini oke? " ucap Carez, ia memegang bahu Varez...menenangkan adiknya itu,
" Varez tanya kenapa nggak dijawab sih?, kenapa abang diem aja? " ucap Varez, ia lagi lagi meninggikan suaranya, apakah ada yang bermasalah dengan telinganya?,
" Varez nggak bisa dengar apa apa bang..., telinga Varez sakit... " lirih Varez, Rendy yang selalu menjdi orang pertama kalau ada yang aneh disekitar mereka, ia mendekati Nathael...lalu menepuk bahu anak itu dan mulai berbicara,
" Nath!, telinga Varez...keluar darah " ucap Rendy sambil menunjuk ke arah telinga adiknya itu yang memang sedang mengeluarkan darah,
Nathael dengan cepat melihat ke arah yang ditunjuk Rendy, dan segera menutup telinga Varez dengan kain yang diberkan oleh Riky lalu memiringkan kepala Varez agar darahnya dapat mengalir dengan cepat dan segera berhenti, Carez anak itu juga terlihat sangat panik, begitu juga dengan yang lainnya.
Kini Malvin dan yang lainnya sudah membawa Varez untuk kembali ke kamar mereka, Yudzi juga masih tetap mengikuti kemanapun ketujuh orang itu pergi, anak itu juga berada disana, Yudzi duduk disamping Jovan karena kini disamping Varez sudah ada Nathael dan Carez.
Varez menundukkan kepalanya ke bawah, kain masih menempel disana, mungkin sudah bisa kembali mendengar setelah darahnya berkurang, tapi rasa sakit masih sangat jelas terasa ditelinga Varez, ia melepas kain yang menutupi telinganya...lalu melihat ke arah kain itu dengan wajah lelahnya, dia mulai berbicara sekarang,
" Abang, ini kainnya...darahnya udah nggak keluar lagi kok, makasih bang " ucap Varez, ia mengembalikan kain milik Nathael,
" Maafin abang ya? " ucap Nathael dan Carez bersamaan,
" Eh?, nggak papa bang, justru Varez beruntung, karena abang pergi...Varez jadi dikurung disana, terus Varez memuin beberapa petunjuk " ucap Varez, tangannya mengeluarkan beberapa lembar kertas dan korek api dari dalam saku bajunya,
Tiga lembar kertas...bukan tulisan melainkan gambar, dan satu korek api.
Digambar pertama...jelas terlihat disana sebuah bintang yang setengah dari gambar itu terbakar.
Dan digambar kedua ada...foto komputer dengan bilangan biner didalamnya.
Jangan lupakan yang ketiga...gambar pistol, dan dibawahnya dua pasang pedang tapi salah satunya telah patah, dan yang membuat Varez penasaran adalah...nama mereka semua tertulis dengan jelas dibagian paling bawah kertas itu.
Varez di gambar pertama, Haelka dan Nathael di gambar kedua, Malvin juga Rendy di gambar ketiga, dan sisanya...Carez bersama dengan Jovan di gambar keempat, bagaimana dengan Yudzi?, namanya bahkan sama sekali tidak tertulis disalah satu kertas disana.
Total ada...delapan petunjuk jika digabungkan dengan yang sebelumnya, ketenangan menyelimuti hanya sementara di dalam kamar itu, beberapa menit setelahnya...lonceng berbunyi lagi dilorong, Haelka membuka pintu dan sedikit mengintip ke luar, tidak ada yang berbaris disana, lalu buat apa dibunyikan lonceng, ditengah suarah itu...seoang pria berbicara melalui pengeras suara yang ada di ujung lorong,
" Kali ini khusus untuk kamar nomor 307 " ucap pria itu, Haelka melihat ke atasnya...ke tempat dimana nomor kamar itu terpajang, itu kamar mereka, hanya kamar 307 yang akan berbaris dilorong, Haelka mengajak yang lainnya untuk keluar juga, setelah yang lainnya keluar...benar saja hanya mereka, baiklah ketujuh orang oh iya jangan lupakan Yudzi, mereka semua berjalan menuju....,
Sebuah ruangan, bentuknya hampir berbeda dengan kamar, kalau kamar hanya ada kasur dan meja saja, tapi ini...lemari, meja, kursi, beberapa kotak kardus, gelas gelas ilmiah, dan terakhir...papan dengan enam pisau yang menancap dan satu pisau yang menggangtung.
Mereka masuk kedalam sana dengan mudah karena memang pintunya tidak dikunci, Malvin dan Haelka pergi mendekati tumpukan kardus di pojok ruangan, membukanya satu persatu, dan hanya mlihat berbagai berkas didalamnya, Jovan, Nathael, dan Rendy pergi ke bagian meja dengan gelas ilmiah, sedangkan Carez Varez, mereka langsung tertarik dengan papan dengan hiasan pisau itu.
Yeay gesss, dua chapter yak, soalnya dah lama nggak update.
Semoga suka 🥳.
Bye bye 🥳.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 Days for 7 Dreams
Fanfiction|| 7 lelaki berbeda orang tua yang menjadi satu keluarga, berjuang untuk mempertahankan jumlah anggota mereka, meraih mimpi dan kebahagiaan bersama. ||
