Pt. 31

398 30 10
                                        

"Selamat pagi, Jiwoo-ah," ucap Joshua dengan suara ceria, matahari pagi yang menyinari kamar membuat senyumannya semakin mempesona. Suara riangnya melayang, seolah membawa kehangatan yang mengalir ke dalam hati Jiwoo.

Jiwoo yang terbangun, mengerjapkan matanya perlahan, mencoba menyesuaikan diri dengan pagi yang baru. Kamar yang tenang seketika dipenuhi oleh atmosfer ringan yang membuatnya merasa nyaman. Ia duduk di atas ranjang, menatap Joshua dengan raut wajah yang masih penuh keheranan.

"Paman shua? Apa paman menemani Jiwoo semalaman?" tanya Jiwoo dengan suara yang sedikit serak, masih tergoda rasa kantuk, namun senyumnya yang tulus tidak bisa disembunyikan. Matanya yang lelah, tetapi hangat, tetap memandang Joshua, seakan ingin memastikan kenyataan yang baru saja ia sadari.

Joshua, yang duduk di tepi ranjang Jiwoo, mengangguk perlahan, wajahnya penuh ketulusan. "Paman tidak ingin kehilangan Jiwoo lagi," jawabnya dengan suara lembut yang penuh kasih sayang. Kata-katanya terucap dengan penuh perasaan, seperti sebuah janji yang tak bisa ia langgar. Joshua menatap Jiwoo dengan mata yang berbicara lebih banyak daripada sekadar kata-kata. Ada rasa sayang yang mendalam, dan itu terasa seperti sebuah pelukan tanpa harus menyentuh.

Jiwoo tersenyum tipis, senyum yang memancarkan rasa terima kasih yang begitu dalam. "Terimakasih, paman," katanya dengan lirih, suaranya menggema di dalam hati Joshua, seakan tak ada kata yang lebih indah selain itu.

Namun, Joshua melanjutkan dengan nada yang lebih serius, menatap Jiwoo dengan mata yang penuh harapan. "Jiwoo, jangan pernah meninggalkan paman ya?" kata-katanya terdengar seperti sebuah permintaan yang lebih dari sekadar permohonan biasa. Itu seperti sebuah janji yang ia ingin pastikan akan dipenuhi, agar mereka tidak pernah terpisah lagi.

Jiwoo hanya mengangguk, perlahan, seolah memahami betul makna dalam kata-kata paman yang begitu tulus. Terkadang, tidak perlu banyak kata—hanya sebuah anggukan yang penuh makna sudah cukup untuk menjawab segalanya.

Joshua tersenyum lega, lalu bangkit dari tempat duduknya dan membentangkan tangannya. "Jiwoo pasti lapar, ayo kita sarapan?" tawarnya dengan semangat yang mulai mengalir kembali, mengajak Jiwoo keluar dari kamar menuju sebuah keramaian di lapangan dimana ada sebuah pesta kecil yang telah Seungcheol siapkan untuk semua orang.

Pesta kecil itu telah berjalan dengan meriah, semua orang larut dalam keceriaan yang terpancar di setiap sudut. Seungcheol, dengan penuh perhatian, sudah menyiapkan semuanya, dari makanan hingga dekorasi, untuk memastikan semuanya berjalan sempurna. Anak-anak tampak berlarian, tertawa riang, sementara aroma makanan yang lezat memenuhi udara, menciptakan suasana yang hangat dan akrab.

Joshua duduk di salah satu sudut, memandangi Seungcheol yang sedang bermain dengan anak-anak. Senyum terukir di wajahnya, penuh kebahagiaan. Dia merasa sangat bersyukur bisa melihat Seungcheol kembali, melihatnya tersenyum bersama anak-anak yang sudah lama merindukannya.

"Paman Seungcheol, terimakasih ya sudah datang, kami merindukan paman," ucap salah satu anak sambil melompat ke pelukan Seungcheol. Tangan kecil anak itu memeluk Seungcheol erat, seperti tidak ingin melepaskan.

Seungcheol tertawa lembut, mengusap kepala anak itu dengan penuh kasih sayang. "Kapan paman datang?" tanya anak lainnya, penasaran.

"Semalam, waktu kalian masih tidur," jawab Seungcheol dengan senyum misterius, seakan ada rahasia kecil di balik kehadirannya.

"Wahhh, apa untuk menyiapkan kejutan ini semua?" tanya anak itu lagi dengan mata berbinar.

"Tentu saja," jawab Seungcheol sambil mengedipkan mata, memberi isyarat bahwa dia sangat senang bisa melihat semua orang menikmati kejutan kecil yang telah dia siapkan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Submissive | CHEOLSOOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang