Seungcheol dengan hati-hati mengobati luka di tubuh Joshua, tangannya bergerak lembut meskipun sesekali Joshua mengerang menahan sakit. "Kenapa ceroboh sekali?" tanya Seungcheol dengan suara yang penuh keprihatinan, meski nada bicaranya tetap lembut. Joshua hanya terdiam, memilih untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya, bahwa luka ini bukan akibat terjatuh, melainkan akibat pukulan yang diterimanya.
Seungcheol melanjutkan sambil merawat luka itu, "Lain kali lebih berhati-hati," katanya dengan lembut, namun kata-katanya terasa sedikit berat. Tangan Seungcheol mulai mengoleskan salep ke bibir Joshua yang terluka, mengingatkan Joshua untuk membuka mulut sedikit agar proses itu berjalan lancar. Tanpa sadar, matanya terfokus pada bibir Joshua yang merah merona, tampak begitu lembut dan kenyal. Astaga apa yang kau pikirkan Seungcheol?! Semua masih belum baik-baik saja.
"Nah, sudah selesai" ucap Seungcheol lalu membereskan kotak obatnya dan saat ia beranjak untuk mengembalikannya, sebuah tangan yang hangat tiba-tiba meraih pergelangan tangannya, memaksanya untuk berhenti. Ia menoleh dan kembali duduk di samping Joshua, rasa khawatir mulai menggerayangi hatinya.
"Apa masih ada yang sakit?" tanya Seungcheol dengan nada cemas, mencoba menilai situasi.
Joshua terdiam sejenak, matanya sedikit terpejam. Ia menggeleng pelan, namun kedua tangannya mengepal erat, seolah ada sesuatu yang memberatkan hatinya. Keheningan di antara mereka terasa menyesakkan, dan Seungcheol bisa merasakan ada hal yang belum diungkapkan.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Seungcheol, suaranya lembut namun penuh harap, seperti ingin memberi ruang agar Joshua bisa berbicara. Ia bisa merasakan ketegangan yang meliputi tubuh submissive-nya.
Joshua mengangguk pelan, ekspresinya serius, seakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya. Seungcheol bisa merasakannya, seperti ada beban berat yang hendak ia lepaskan. Ketika Seungcheol mengobatinya tadi, Joshua merasa semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak memberitahu sesuatu yang selama ini ia pendam. Sesuatu yang ia rasa perlu untuk disampaikan kepada Seungcheol, meskipun dia tidak tahu bagaimana reaksi pria itu.
"Sebenarnya, aku sudah dua kali pergi ke panti asuhanku dulu..." ujar Joshua pelan, suaranya hampir berbisik, seolah takut jika kata-katanya akan melukai perasaan Seungcheol. Begitu mendengar itu, Seungcheol terkejut, matanya melebar, dan dia terdiam beberapa detik.
Joshua menunduk, merasa tidak enak, seperti ada rasa bersalah yang menggelayuti dirinya. "Maafkan aku... aku hanya merasa kesepian," katanya dengan suara yang hampir tak terdengar, wajahnya terlihat penuh penyesalan.
Seungcheol yang semula terkejut, kini merasa hatinya tergerak. Tanpa pikir panjang, dia langsung menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak-tidak, aku yang harus meminta maaf," kata Seungcheol dengan suara yang lebih rendah, namun penuh ketulusan. "Aku... aku tidak bisa mengerti dirimu sepenuhnya. Aku tidak tahu apa yang kau butuhkan, dan itu salahku."
Joshua bisa merasakan kehangatan dan ketulusan dalam suara Seungcheol. Sebuah rasa lega perlahan muncul dalam dirinya, seolah-olah sebagian beban yang ia bawa selama ini mulai terangkat.
"Kau tahu? anak-anak sangat merindukanmu" ucap Joshua sambil tersenyum tipis ketika ia mengingat kembali wajah2 ceria anak-anak dipanti asuhan. Seungcheol yang mendengar itu merasa hatinya menghangat, seolah ada sesuatu yang menyentuh dalam diri Joshua. Tuhan, dia sangat merindukan Joshua yang dulu.
"Ah, benar, aku sudah lama sekali tidak berkunjung," jawab Seungcheol, sambil mencoba mengingat kapan terakhir kali ia pergi ke panti asuhan itu. Waktu seakan berlalu begitu cepat, dan rasanya sudah terlalu lama sejak ia menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat yang begitu penting bagi Joshua.
"Tapi..." Joshua tiba-tiba berhenti sejenak, ragu-ragu sebelum melanjutkan kalimatnya. Seungcheol yang melihat ketidakpastian itu langsung mengernyit, penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Submissive | CHEOLSOO
FanfictionSeungcheol menyukai ketika Joshua tersenyum manis kepadanya. Namun, pada akhirnya dia sendiri juga yang menghancurkannya. Seungcheol tidak pernah melihat lagi senyum itu. Entah apakah dia bisa mengembalikan senyum manis suaminya itu atau justu hilan...
