Pt. 28

563 51 29
                                        

Joshua mendengar kabar bahwa Seungcheol dilarikan ke rumah sakit setelah jatuh pingsan, informasi tersebut datang langsung dari ibunya.

"Jisoo-ah, apa kau tidak akan memberi Seungcheol kesempatan kedua? Ibu merasa Seungcheol benar-benar telah menyesal," ucap sang ibu dengan penuh harap. Joshua menatap sang ibu sejenak, lalu tersenyum tipis.

"Entahlah, Ibu," jawab Joshua, suara nya serak. Rasanya masih sangat sulit untuk melakukannya. Joshua merasa hatinya berat, seolah-olah luka yang tak kunjung sembuh terus menghantui setiap langkahnya.

"Ibu mengerti perasaanmu. Kalau begitu ibu tinggal dulu ya" ucap sang ibu lalu pergi meninggalkan Joshua didalam kamar.

Joshua duduk terdiam, perasaan yang tak terungkapkan membelit hatinya. Setiap kata yang diucapkan ibunya terasa seperti beban yang semakin menekan dirinya. "Memberi kesempatan kedua" adalah kalimat yang tak pernah mudah, apalagi ketika luka lama belum juga sembuh.

Pikirannya terhenti pada Seungcheol, sosok yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Semua kenangan indah itu kini terasa jauh dan kabur, seperti bayangan yang sulit dijangkau. Joshua mengingat betapa Seungcheol dulu selalu membuatnya tertawa, selalu ada di sisi ketika dunia terasa gelap. Tapi apa yang terjadi setelah itu? Semua itu hancur dalam sekejap, dan Joshua merasa begitu dikhianati.

Namun, suara ibunya masih bergema dibenaknya, penuh harap dan penuh cinta. "Ibu merasa Seungcheol benar-benar telah menyesal..." Kalimat itu membuat Joshua ragu. Benarkah? Apakah Seungcheol benar-benar menyesal atau hanya mencoba mencari jalan keluar dari kesalahan yang telah dibuatnya?

Joshua menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. Tidak mudah untuk memutuskan sesuatu yang begitu besar. Dia butuh waktu, dan mungkin, hanya dengan waktu, dia akan menemukan jawaban yang bisa mengurangi rasa sakitnya.

.

.

Selama seminggu penuh, Seungcheol tidak pernah mengunjungi Joshua. Namun hari ini, dia kembali lagi dengan membawa makanan favorit Joshua seperti biasa, meskipun dia tidak tahu apakah selama ini Joshua benar-benar mamakannya atau tidak. Baginya, itu adalah usaha kecil untuk menunjukkan bahwa dia peduli.

Dia berdiri di depan pintu kamar Joshua, ragu sejenak sebelum mengetuk. Seungcheol tahu, bahkan dengan semua upaya yang dia lakukan, dia tak bisa memaksa Joshua untuk segera menerima atau memaafkan apa yang telah terjadi. Namun, di dalam hatinya, dia hanya ingin mencoba—berusaha untuk menunjukkan bahwa dia menyesal, dan bahwa dia masih ada di sini, siap untuk memperbaiki yang rusak, meskipun itu tidak akan mudah.

"Shua...ah, ini aku," suara Seungcheol terdengar lembut dari balik pintu, dengan sedikit kegugupan yang tak bisa disembunyikan.

Sementara itu, Joshua tidak bergeming dari atas tempat tidurnya. Walaupun suara Seungcheol terdengar begitu dekat, Joshua merasa seperti ada jarak yang tak terlihat antara mereka.

"Aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana," ujar Seungcheol dengan suara yang pecah, berusaha menyembunyikan kecemasannya. "Tapi aku ingin kau tahu, aku menyesal. Aku benar-benar menyesal, Shua."

Joshua masih tidak memberi respons, hanya terdiam dengan pandangan kosong. Setiap detik yang berlalu terasa semakin menyesakkan bagi Seungcheol. Suasana di kamar itu sunyi, dan hanya terdengar suara detak jantungnya sendiri yang berdegup keras di telinganya. Tidak ada jawaban, tidak ada tanda-tanda bahwa Joshua akan memaafkan atau bahkan mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.

Seungcheol tidak mendengar apapun dari Joshua. Dia merasa seperti kali ini dia gagal lagi. Mungkin besok dia akan berhasil menemui Joshua, atau mungkin besoknya lagi. 

"Aku akan pergi sekarang... Aku hanya ingin kau tahu, aku masih peduli dan ingin memperbaiki semuanya. Jika ada kesempatan, aku akan menunggu," ujar Seungcheol dengan suara pelan, hampir seperti bisikan, sebelum akhirnya dia berbalik dan melangkah mundur. Setiap langkahnya terasa berat, namun dalam hatinya, dia bertekad untuk terus menunggu—meskipun Joshua tidak memberikan tanda apapun sekarang. Sebab, meskipun semuanya tampak suram, Seungcheol tahu, kadang-kadang waktu adalah satu-satunya yang bisa menyembuhkan luka.

Submissive | CHEOLSOOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang