Perayaan patah hati

1.1K 96 20
                                        

Mark masih memandangi nisan Jaemin dengan pandangan kosong. Angin musim semi yang seharusnya menenangkan justru terasa menggigit di kulitnya. Ia menggenggam segenggam bunga putih yang sejak tadi belum juga ia letakkan di makam Jaemin. Jemarinya bergetar.

Namun ketika akhirnya ia bangkit berdiri dan meletakkan bunga itu di atas tanah yang masih segar, ponselnya-yang selama beberapa hari ini tak ia sentuh-kembali bergetar.

Kali ini bukan panggilan. Tapi notifikasi bertubi-tubi dari nomor-nomor yang dikenalnya. Dari Sungchan. Dari Kyungsoo. Dari Renjun. Bahkan dari nomor rumah sakit.

Dengan jantung yang mendadak berdebar kencang, Mark merogoh ponselnya dan mulai membaca satu per satu pesan yang masuk. Semuanya seperti pisau yang mengoyak jiwanya.

"kau tak mau menemui kakak ku? Dia sedang bertaruh nyawa disini."-Sungchan

"setidaknya kau juga perhatikan kakak ku"-Sungchan

"dr.Lee mohon kamu angkat telepon..."-Renjun

"Kami kehilangan dia..."- Kyungsoo

"Haechan butuh kamu..."-Jaehyun

Tubuh Mark melemas. Dunia seakan memutar ulang semua detik yang ia lewatkan tanpa tahu. Ia perlahan terduduk kembali di samping makam Jaemin, menggenggam ponselnya erat-erat.

"Apa yang sudah aku lakukan..."

Untuk kesekian kalinya, tangisnya pecah tanpa bisa ia kontrol. Bukan hanya karena kehilangan Jaemin... tapi karena ia telah mengecewakan orang lain yang sama berharganya.

Ia tidak ada di sana. Ia tak sempat mengusap keringat di dahi Haechan. Tak sempat menyambut anak yang mereka nanti bersama. Ia bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal.

---

Di Korea, hari-hari setelah pemakaman semua seakan berjalan lambat. Haechan masih belum bicara banyak. Ia lebih banyak diam, menatap keluar jendela dari kamar rumah ibunya. Setiap hari Renjun datang membawakan makanan, tapi kadang hanya diletakkan di meja tanpa disentuh.

"Kalau kamu mau bicara... aku di sini ya, Chan," kata Renjun suatu hari, duduk pelan di kursi dekat tempat tidur.

Haechan hanya mengangguk pelan, tapi tak ada sepatah kata pun keluar. Matanya sudah tak seterang dulu. Matanya menyimpan duka yang dalam... luka yang belum bisa dijahit siapa pun.

Hingga suatu sore, suara notifikasi dari ponselnya membuatnya tergerak untuk melihat. Nama Mark muncul. Setelah sekian lama.

"Aku baru membaca semua pesanmu. Maafkan aku..."

"Aku di bandara sekarang. Aku pulang, Haechan..."

"Aku pulang..."

Haechan tak merespons. Ia hanya membaca. Lama. Matanya berkaca-kaca. Tapi kali ini, tak ada air mata yang jatuh.

Ia sudah kehilangan terlalu banyak untuk menangis lagi.

Ia hanya menatap ke luar jendela, memeluk album USG yang sudah lusuh di pelukannya.

"Sudah terlambat, Mark..." bisiknya nyaris tak terdengar.

....

Keesokan paginya Haechan duduk di kursi goyang di teras belakang, mengenakan baju hitam polos. Rambutnya diikat seadanya, matanya sembab dan sayu, seakan sudah kehilangan cahaya hidupnya. Di pangkuannya, sebuah boneka jellycat pemberian Jaehyun yang dipakaikan baju bayi mungil tergeletak, dibalut selimut kecil.

Ia menatap langit senja yang mulai berganti malam. Tangannya terus mengusap pelan boneka itu, seolah itu anaknya yang masih hidup.

"Maaf ya, sayang... harusnya bunda bisa melindungi kamu..."

Satelite Love[Revisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang