Dandelion

935 88 25
                                        

Beberapa hari berlalu sejak kepergian Mark ke Swiss, dan selama itu pula Haechan terus berusaha menenangkan hatinya. Ia sibuk menghabiskan waktu di rumah bersama ibunya dan Sungchan, mencoba mengalihkan pikirannya dari kekhawatiran yang terus mengganggu.

Namun, meski ia berusaha terlihat baik-baik saja, Sungchan bisa melihat bahwa kakaknya tidak benar-benar tenang. Setiap kali ponselnya berbunyi, Haechan akan buru-buru mengecek, berharap ada kabar dari Mark. Setiap malam sebelum tidur, ia akan menatap layar ponselnya lama-lama, berharap ada pesan masuk dari suaminya.

Sampai akhirnya, satu pesan datang dari Mark.

"Sayang, operasinya berjalan lancar. Jaemin masih dalam masa pemulihan. Aku akan bertahan di sini beberapa hari lagi untuk memastikan keadaannya stabil sebelum pulang. Aku merindukanmu dan bayi kita."

Haechan menghela napas lega setelah membaca pesan itu. Setidaknya, keadaan Jaemin sudah lebih baik.

"Kak, kamu sudah tersenyum lagi," goda Sungchan yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa semangkuk buah potong.

"Aku lega... operasi Jaemin berjalan lancar," ujar Haechan sambil tersenyum.

"Baguslah kalau begitu," ucap Kyungsoo yang ikut duduk di samping putrinya. "Sekarang kamu tidak perlu khawatir berlebihan lagi. Fokus saja menyiapkan diri untuk kelahiran bayimu."

Haechan mengangguk. Namun, meski ia merasa lebih tenang, ada sesuatu di dalam hatinya yang tetap terasa kosong.

Malam itu, saat ia berbaring di tempat tidurnya, ia menerima panggilan video dari Mark. Wajah lelah suaminya muncul di layar, namun senyumnya tetap ada untuknya.

"Halo, sayang," sapa Mark dengan suara lembut.

"Halo... Kakak kelihatan sangat lelah."

"Ya... tapi aku baik-baik saja," Mark tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin melihatmu sebelum tidur. Bagaimana keadaanmu?"

"Baik, kok. Bayi kita juga baik-baik saja," jawab Haechan sambil mengelus perutnya yang semakin besar.

Mark menatap layar dengan penuh kerinduan.
"Aku ingin cepat pulang dan menemani kalian. Maaf aku tidak bisa di sampingmu saat ini."

"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti. Yang penting sekarang, Kakak tetap jaga kesehatan di sana," ujar Haechan, meski di dalam hatinya ia juga merindukan keberadaan Mark di sampingnya.

Mereka berbicara cukup lama hingga akhirnya Mark mengantuk dan harus beristirahat. Setelah panggilan berakhir, Haechan menatap layar ponselnya dengan senyum tipis.

"Sebentar lagi... sebentar lagi kita akan berkumpul lagi," bisiknya sambil mengelus perutnya.

Namun, di tengah ketenangan yang mulai ia rasakan, ia tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang perlahan berubah di dalam tubuhnya.

Sampai suatu malam, rasa sakit itu datang tiba-tiba.

Haechan terbangun dengan napas memburu. Ada nyeri yang menjalar di perutnya, begitu tajam hingga membuatnya meringis.

"Ugh... ada apa ini..."

Ia mencoba menarik napas panjang, namun rasa sakit itu tidak kunjung reda. Ia meraba ponselnya dengan gemetar, berusaha menelepon seseorang.

Sungchan yang kebetulan lewat di depan kamar mendengar suara aneh dari dalam. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu dan langsung terkejut melihat kakaknya menggigit bibir menahan sakit.

"Kak! Kakak kenapa?!"

Haechan menatap adiknya dengan wajah pucat. "Sungchan... tolong... perutku sakit..."

Satelite Love[Revisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang