Putar waktu

2K 104 17
                                        

Jaehyun tersenyum kala melihat Haechan sudah kembali ke rumah sakit untuk bekerja. Ketika ia hampiri,senyuman di wajah si tampan kembali luntur kala melihat pujaan hatinya tengah menatap sendu ke arah seorang ibu yang tengah menimang bayi di atas ranjang pasien.

"Haechan?"sapa Jaehyun. Dokter cantik itu pun tersenyum dengan paksa saat tau siapa yang menyapa nya.

"Kak Jae, sedang apa disini?"tanya Haechan.

"Ibuku sedang cuci darah,kamu sendiri sedang apa? Apa dia pasien mu?"

"Bukan, dia bukan pasien ku. Aku hanya sedang melihat betapa beruntungnya dia bisa memeluk anak nya seperti itu."

Jaehyun paham apa yang dimaksud Haechan tapi dia berusaha tersenyum menguatkan wanita didepannya ini.
"Kamu merindukan nya ya?"Haechan hanya terseyum getir menanggapi.

"It's ok, wajar jika kamu merindukan nya. Oh iya,mau bertemu ibuku? Dia bilang dia merindukan mu"

"Maaf aku gk tau kalo Bunda Gi sudah mulai rawat jalan"

"Gpp, bunda tau kalo kamu sedang berduka kemarin. Ayo mau temui dia?"

"Boleh, aku kangen sama bunda Gi"

Saat keduanya ingin pergi ke ruang hemodialisis, tangan Haechan di tahan oleh Mark yang entah dari mana datangnya.
"Kamu mau kemana dengan dia?"tanya Mark dengan nada cemburu.

"Lepas dr.Lee saya mau menemui kenalan saya"ucap Haechan dengan nada profesional karena ini masih di lingkungan rumah sakit

"Kau menghindariku selama ini karena ini? Karena dia,begitu kah??"tuduh Mark dia sudah tak bisa berfikir jernih jika itu menyangkut Haechan apalagi ada pria bermarga Jung ini.

"Aku lupa satu hal tentang hubungan ini dr.Lee, ternyata selama ini pandangan mu terhadap ku memang selalu seperti itu." Kekeh Haechan dengan sinis dan ia juga tak gentar menatap Mark dengan lurus tepat di iris matanya.

"Menganggap aku wanita murahan yang mau dengan siapapun. Kenapa? Apa karna aku mau jadi yang kedua dihidup mu sampai sampai kamu menilai aku sebagai wanita yang terlalu gampang untuk seorang pria. Begitu kan ya?"

"Maaf menyela, tapi aku dan Haechan tidak ada apa apa disini. Kami hanya tak sengaja bertemu disini. Sebaiknya jaga ucapan mu itu tuan Lee"ucap Jaehyun membela diri dan juga membela Haechan dari tuduhan tak berdasar itu

Mark terdiam. Ucapan Haechan barusan seperti cambuk yang mencabik seluruh egonya. Napasnya terengah, bukan karena emosi tapi karena perih yang ia ciptakan sendiri. Namun alih-alih meminta maaf, ia hanya berdiri di tempat, matanya tak lepas dari wajah Haechan yang kini kembali mengenakan topeng tenangnya.

"Aku... tidak bermaksud menuduhmu seperti itu," lirih Mark akhirnya. Tapi nadanya goyah—dan sayangnya, terlalu terlambat.

Haechan menarik napas panjang, mencoba menahan gejolak amarah dan luka yang sudah terlalu penuh di dadanya. Ia tak ingin meledak. Tapi hatinya… sudah remuk dari jauh-jauh hari.

"Kamu tahu apa yang menyakitkan dari semuanya, kak?" tanyanya pelan namun menggetarkan, matanya menatap Mark penuh luka.

Mark tak bisa menjawab. Ia hanya bisa memandang balik dengan wajah bersalah.

"Yang menyakitkan bukan karena aku yang kedua, atau karena kamu tidak pernah benar-benar memilihku," lanjut Haechan. "Tapi karena setiap kali aku mencoba menjadi kuat… kamu datang, dan menjatuhkan aku lagi."

Mark mengatupkan rahangnya. Luka di matanya mulai berubah jadi air mata yang siap jatuh, tapi Haechan menahannya dengan kata-kata yang lebih tajam.

"Aku mencintaimu, Kak Mark. Aku mencintaimu, sampai aku kehilangan diriku sendiri. Sampai aku menahan luka kehilangan anak kita sendirian, hanya karena aku pikir kamu sibuk menanggung beban dunia."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 13, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Satelite Love[Revisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang