masing masing

1.3K 89 28
                                        


Mark tiba di rumah keluarga Kim, dan hal pertama yang menyambutnya adalah sebuah pukulan keras dari satu-satunya pria di rumah itu. Sungchan menghujani Mark dengan pukulan, meluapkan amarahnya, sekaligus amarah kakaknya.

Bagaimana dengan Kyungsoo? Ia hanya memandang Mark dengan ekspresi datar, tanpa minat sedikit pun. Setelah melihat Mark hampir pingsan, barulah ia membuka suara.

"Cukup, Sungchan," katanya datar. Ia masih punya hati; tak ingin anaknya menjadi kriminal.

Sang ibu, wanita paruh baya itu, mendekat.

"Pulanglah. Haechan tidak ada di sini. Ayo masuk, Sungchan," katanya, sebelum berbalik pergi, diikuti oleh putranya.

Mark jatuh berlutut di halaman, matanya berkaca-kaca.
"Umma... Maafkan aku. Aku mohon...," rintihnya.

Namun Kyungsoo hanya menoleh sebentar, wajahnya dingin.
"Aku tak memiliki hak untuk memaafkan atau tidak. Itu semua keputusan anakku," katanya, lalu benar-benar meninggalkan Mark sendiri di halaman rumah itu.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Mark menggertakkan gigi, membenci kebodohannya sendiri. Ia terlalu sibuk mengurus pengobatan Jaemin hingga melupakan dua nyawa lain yang menjadi tanggung jawabnya.

Dengan wajah babak belur, Mark memilih pulang ke rumah tempat ia dan Haechan tinggal. Ia yakin Haechan ada di sana.

---

Dari balik kaca kamar yang menghadap ke gerbang masuk, Haechan melihat sosok Mark yang babak belur dan tertatih memasuki halaman rumah. Ia tahu dari Sungchan bahwa Mark mencarinya, hanya untuk menerima pukulan keras dari adiknya.

Menghela napas panjang, Haechan menatap wajah tampan suaminya yang kini penuh luka. Ia membayangkan perjalanan panjang 12 jam Mark, membawa tubuh dan hatinya yang remuk.

Namun untuk saat ini, Haechan tak ingin menemuinya. Ia berbalik, melangkah menuju kamar yang disiapkan untuk Noah. Ia memutuskan akan tinggal di sana sementara.

---

Mark berlari masuk ke rumah, memanggil-manggil nama Haechan, namun rumah itu terasa hampa, seolah tak berpenghuni. Ia panik saat melihat foto pernikahan mereka sudah tidak ada di tempatnya.

Dengan jantung berdebar, Mark bergegas ke kamar mereka, namun tak menemukan Haechan di sana. Saat ia kelimpungan, terdengar dentingan lembut dari kotak musik.

Mark segera berlari ke sumber suara itu — kamar Noah.

Saat pintu terbuka, campuran rasa lega dan sakit menghantam dadanya. Haechan berdiri di sana, menatap sendu ke dalam boks bayi yang dipenuhi barang-barang peninggalan Noah dan bonekanya.

"Sayang...?" panggil Mark pelan.

"...."

"Haechan? Aku... aku minta maaf," lanjutnya. "Aku menyesal."

Tak ada jawaban, hanya suara kotak musik yang mengalun lembut.

"Say—"

"Aku tidak tahu dosa apa yang sudah kulakukan selama ini," lirih Haechan sambil mengelus boneka kecil di dalam boks.

"Sayang, maafkan aku..."

"Banyak yang sudah kukorbankan... termasuk menikahi pria yang menjadikanku istri kedua," suara Haechan getir, penuh luka.

Mark membisu, tak berani menyela. Ia ingin mendengar semuanya.

"Dari awal... kita memang tidak ditakdirkan bersama. Tapi aku dengan bodohnya memilih bertahan... hanya karena satu rasa: cinta," lanjut Haechan sambil tertawa kecil, getir.

Satelite Love[Revisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang