Bab III

66 9 7
                                        

Sudah sepekan ini LH High School di bekukan operasionalnya baik guru maupun muridnya dilarang berkegiatan diarea gedung itu.

Semua muridnya dipulangkan kerumah masing-masing sampai dengan hasil investigasi selanjutnya.

Begitu pula dengan Chanhee yang kini kembali meringkuk di ranjang rumah kecilnya.

"Sudah hyung katakan berapa kali jangan membuat onar di sekolah Chanhee-ya"

Dan kembali mendengar omelan hyungnya secara langsung

"Bisakah kau sekolah saja dengan benar dan mengejar cita-citamu?"

Chanhee langsung beranjak dari bantalnya dan terduduk lungai

"Harusnya hyung melanjutkan sekolah dan jangan mengkhawatirkanku"

"Yhaa kau pikir aku bisa mendapatkan beasiswa sepertimu? Kau ingin anak ayah tidak kuliah semua?!"

"Minki hyung" Chanhee menghela nafasnya menatap hyungnya "aku tidak akan berakhir seperti ibu"

"Kau tau kenapa ayah dan hyungmu ini tidak ingin ingatanmu kembali?"

Chanhee hanya terdiam dan memalingkan wajahnya

"Kami tidak ingin kau merasa bersalah Chanheeya" ujad Minki lalu menggigiti bibir bawahnya menahan tangisnya

Chanhee terhenyak dan kembali menatap hyungnya

"Aku sama sekali tidak merasa bersalah hyung, apa hyung menganggapku sebagai penyebab kematian ibu?"

"Anhiyaa... bukan itu maksud hyung" ujar Minki menepuki jidatnya saking frustasinya membujuki adiknya

"Ibu melakukan tugasnya pada keadilan, jika aku jadi ibu aku juga akan melakukannya"

"Chanheeyaa"

"Sudahlah Minki"

Ayah mereka memasuki kamar kedua putranya itu sembari memegang kotak ditangannya

"Appaa~" rengek Minki

"Anak ini adalah milik ibunya dan ibunya adalah milik keadilan" ujar Ayah mereka mengusap pundak anak sulungnya "Dia berbeda dengan kita nak"

Chanhee sedikit tersenyum dan melirik hyungnya setengah meledek

"Ayah secara tidak langsung berkata bahwa aku bodoh"

Ayah mereka terkekeh dan memilih untuk duduk ditengah mereka setelah meletakan kotak yang ia bawa

"Apa ini appa?" Tanya Chanhee

"Milik ibu kalian yang selama ini ayah tutup rapat nak" ujar Ayahnya sembari membelai kepala putra bungsunya.

Mendengar itu Minki langsung mendudukan dirinya.

Ayahnya menutup rapat kotak itu demi adiknya, bahkan ia sendiripun tidak mengerti sama sekali apa isi didalamnya.

Ayahnya melepaskan tangannya dari Chanhee lalu membuka kotak tersebut.

Tangan minki lalu terulur pada boneka beruang milik Chanhee sewaktu kecil dan tersenyum membelai boneka tersebut.

Ayahnya tersenyum menatapnya.

Chanheepun juga tampak melihat satu persatu isi kotak itu.

Mulai dari gambaran milik hyungnya dulu, hiasan milik ibunya dan juga album masa kecil mereka

Ia tahu seberapa besar sayangnya putra sulungnya ini pada adiknya.

"Ayah itu apa?" Tanya Chanhee menunjuk barang yang tampak berbeda dengan yang lain.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Walk ONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang