ACADEMY DECELIS: War is over

93 6 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.
.
.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.
.
.

Langit kembali biru—meski retak.
Angin kembali berhembus—meski membawa bau darah dan abu.
Dunia masih berdiri.
Dan mereka menang.

Satu per satu, para pejuang mendekati mate mereka.
.
.
.
.
.
.

Khan berdiri di antara puing reruntuhan, petirnya meredup. Ia tertatih, tubuhnya dipenuhi luka bakar dan sayatan. Tapi dari kejauhan…

"KHAAN!!"

Heli berlari menghampirinya, melempar trisula ke samping. Ia langsung memeluk Khan erat, bahkan sebelum pria itu sempat bicara.

"Lo gila! Ngadepin Kronos, ngelawan waktu—sendiri!" teriak Heli, matanya berkaca-kaca.

Khan tertawa lemah, memeluk Heli balik.

"Gua hidup, kan? Karena lo di sini."

"Karena lo... Lo berhasil Khan... Lo calon Dewa Valgar..."

Mereka saling menatap… lalu bibir mereka bertemu.

Bukan karena kemenangan, tapi karena mereka selamat. Bersama.
.
.
.
.
.

Di sisi medan, Noa nyaris ambruk, sihirnya habis total.

Tapi Tahel datang mendekat dalam diam, dengan langkah anggun khas seorang keturunan Luna.

"Noa..."

Noa menoleh, dan langsung jatuh ke pelukan Tahel, tubuh Tahel gemetar.

"Tahel... takut Noa.. bakal ikut masuk ke Tartaros..." gumamnya.

Noa memeluknya erat, mencium kening Tahel.

"Selama lo ada di dunia ini, gua akan bertahan. Gak peduli apapun musuhnya."

"Noa udah janji sama Tahel...dan Noa menepati janji itu!"

Pada akhirnya Tahel menangis dipelukan Noa. Dan Noa yang bersyukur karena memiliki Tahel di semesta ini.
.
.
.
.
.
.

ACADEMY DECELIS [Slow Update]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang