Duapuluh Empat

65 1 0
                                        

Kejadian itu benar-benar diluar dugaan Davin, laki-laki itu terdiam sejenak. Mencoba mencerna situasi yang sedang terjadi, Laura menyatakan perasaan padanya?? Tunggu. Benarkah? Apakah dia tidak salah dengar bahwa Laura berkata dia menyukainya?

Pandangan keduanya masih bertemu, Davin menatap lekat mata Laura. Saat laki-laki itu terlihat akan bicara, Laura buru- buru memotong dan berkata. "Gue nggak ngajak lo pacaran atau berharap lo balas perasaan gue. Lo cukup tau, dan anggap gue nggak pernah ngomong apapun"

"Oke" Hanya itu jawaban yang terlintas di kepala Davin.

Semoga jawaban itu tidak membuat hati Laura terluka, hanya itu yang dia inginkan saat ini. "Gue anter pulang sekarang ya?"

Laura berjalan lebih dulu kearah parkiran kampus yang terlihat mulai sepi. Dia menutup wajahnya malu, benar-benar malu! Pipinya terasa panas, dia harus benar-benar menghindari Davin sepenuhnya besok!

Davin tersenyum singkat melihat Laura yang berjalan lebar-lebar mendahului dirinya.

Gue harus apa besok? Batinnya masih tidak percaya. Dia tidak pernah menyangka jika gadis itu menyimpan perasaan untuknya, apalagi sampai mengungkapnya lebih dulu seperti itu. Laura benar-benar diluar dugaan!.

Laura adalah gadis pertama yang bisa berinteraksi begitu dekat dengannya selain Cella.

Davin mengangsur jaket miliknya pada Laura, gadis itu masih terlihat enggan menerima. Sampai Davin memilih untuk memakaikan Jaket itu pada punggungnya, gadis itu terlihat patuh tidak membantah.

Gila lo Ra! GILA! Laura merutuki dirinya sendiri.

"Jangan ngebut!" Laura memperingati Davin saat dirinya sudah duduk di jok penumpang. Gadis itu memegangi pinggang Davin dengan canggung. Tentu saja dia harus berpengangan erat pada pinggang Davin kalau tidak ingin dirinya jatuh dari moge. Laura sedikit menyesal menerima tawaran Davin untuk mengantarnya pulang, harusnya dia naik Grab saja tadi, lebih aman.

Kalau saja motor gede itu bukan peninggalan kesayangan Ayahnya, Davin pasti sudah menjualnya dan membeli mobil saja. Karena fungsinya pun lebih banyak dari pada motor gede, toh selama ini Davin tidak pernah ikut even moge karena sibuk bekerja part time di caffe.

Soal Caffe, Davin teringat jika dirinya hari ini Absen bekerja karena mengurus Bazaar di kampus sampai larut. Semoga besok, Arsen - pemilik Pokecaffe tidak memberinya peringatan karena sering tiba-tiba absen bekerja.
"Ya, Ma?" Davin menyapa ibunya setelah menekan tombol answer pada layar ponselnya.

•••


"Kamu kok belum pulang? Lagi dimana?"

"Ini lagi di rumah teman, habis nganterin pulang" Davin sempat melirik ke arah Laura yang berjalan menaiki anak tangga rumah, sementara Widya terlihat melenggang memasuki dapur.

"Teman? Siapa?" Wulan tampak berfikir. Sepengetahuan dirinya, teman Davin saat ini hanyalah Abiyan dan Cella.

"Laura, Juniornya Vino di kampus"

"Laura? Hmm kok kayak namanya anak teman mama..."


"Ya kan emang banyak nama yang sama ma..."

"Iya sih... Tapi bukan pacar kamu nih?"

"Bukan ma.." Davin menjawab sambil terkekeh

"Ya udah, kapan-kapan mama kenalin deh sama Laura anaknya teman mama"

"Hmmm" Davin tidak mengiyakan atau menolak. Karena yang ada di pikirannya sekarang masih tentang perasaan Laura padanya.

"Ya udah see you di rumah ya"

"Siap ibu negara!"

Widya kembali dengan membawa 2 minuman di tangannya.

"Maaf tante udah bikin repot" Davin terlihat sungkan

"Lemon tea doang, ini nggak repot kok" Widya membalas dengan senyuman hangat "diminum ya, harus habis baru boleh pulang"

"Siap tante!" Davin meneguk minumannya sampai setengah gelas

"Maaf ya Vin, sering banget Laura ngerepotin kamu"

"Nggak apa-apa tante, Saya nggak ngerasa di repotin kok"

Widya bisa melihat jika Davin tulus dengan perkataan nya, dia juga memiliki kepribadian yang sopan dan hangat.

"Hmm, tapi pacar kamu marah nggak kalau kamu sering bantu Laura?"

Davin tersenyum kikuk "Saya nggak punya pacar kok tante"

"Oh ya?" Widya melihat Davin sudah menghabiskan lemon teanya. Padahal obrolan mereka mulai menarik.

"Iya tante" Davin melirik jam tangannya "Saya pamit dulu tante, udah malam"

"Bentar ya, tante ada sedikit kue. Kamu bawa pulang ya" Widya kembali ke dapur mengambil kotak kue berisi Chesee cake yang tadi diberikan Kanita padanya.

"Terimakasih tante, kalau gini jadi Saya yang ngerepotin"

Laura yang baru menginjak anak tangga paling bawah rumahnya, melihat Widya dan Davin berjalan keluar rumah. Gadis itu mencoba menghentikan langkah mereka dengan berkata. "Jaketnya Kak Davin"

Kak? Davin membatin sambil mengulum sedikit senyuman. Sejak kapan gadis itu memanggil dirinya dengan sebutan Kak Davin? Entahlah, mungkin itu hanya sebagai ucapan sopan santun saja.

"Laura kamu nih, cuci dulu dong sayang"

"Nggak usah tante nggak apa-apa kok" Davin mengambil jaket dari genggaman tangan Laura.

"Its okay kok" Laki-laki itu berbicara pada Laura setelah melempar senyum kecilnya pada Laura. "Gue balik ya"

Laura membalas dengan anggukan kepala, dia melihat Davin yang melenggang pergi setelah berpamitan dengan Ibunya.

Laura Membatin, bagaimana dia bisa membuang perasaannya jika Davin masih terlihat semenarik itu?
Single pula, apakah Laura harus berjuang mendapatkan hatinya? Apakah Davin akan bisa membalas perasaannya hingga dirinya tidak lagi cinta sendirian?

•••

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 12, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cappuccino CupTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang