"Sementara anak lain outbond, Lo bantu kita masak," Allisa mengomando Laura mengikuti langkahnya kesamping tenda panitia.
Laura mengedarkan pandangannya keseluruh dapur dadakan itu. Sepertinya Laura tak melihat siapapun disana. Tapi Tunggu, pandangan matanya terhenti pada sebelah 'kompor' homemade itu. Yap. dia melihat laki-laki yang mulai tidak asing dipandangannya sedang berjongkok di sebelah tungku api.
"Vin, nih gue bawa temen," Allisa berujar tergesa,
Vin? Wait, itu bukan Si Davino-Davino nggak ber-attitude tadi kan?
Laura memutar matanya jengah, sudah dipastikan, bahwa itu si Arogan. Sekarang, dengan hanya melihat punggungnya saja, Laura bisa tahu bahwa itu adalah Davin.
Awesome! Rutuk Laura dalam hati.
Laura menyipitkan matanya, memandang mengejek kearah Davin didepannya yang masih berjongkok didepan tungku api. Melihat kaki ber-sneakers mungil Laura didepan mata, Davin mendadak berdiri, menatap mata bulat laura yang kini hanya berjarak lima centi dengan bibirnya.
Merasa terlalu dekat dengan bibir Davin, mata Laura melotot kaget, cepat-cepat dia membuang muka dan melangkah mundur tak teratur dari tanah yang diinjaknya, menjauh dari Davin.
"Eh Pendek, mau kemana Lo?"
Laura berhenti melangkah, memutar malas kepalanya menghadap Davin, matanya menyipit,
Pendek? Lo aja yang kelewat tinggi! Laura menjerit dalam hati
"Bisa nggak, Lo nggak asal gitu panggil orang?"
Davin hanya melirik malas kemata Laura.
"Udah ya, mending Lo kesini deh, kupas bawang sana. Nggak usah jadi manekin nggak guna gitu,"
Davin mulai mengomel tak jelas,
"Kena kutuk siapa sih gue, sampe harus urusan lagi sama Lo," Laura balas mengomel sendiri,
Dia sudah berada disamping Davin lagi, menyambar kasar wadah berisi rempah disebelah karung beras itu. Kemudian membawa baki itu menjauh lagi dari Davin.
"Bhaha, kutukan? harusnya lo banyak-banyak syukur sama Tuhan," Davin mencibir "Lo bisa dengan gampang didekat gue selagi anak lain buat ngelirik gue aja susah,"
Davin mulai berkelakar, membuat perut Laura semakin mual. Laura benar-benar tidak menyangka Davin akan berbicara se-PEDE itu.
Nggak Penting!
Laura tak bergeming, dia lebih memilih untuk mencari Davin si 'bawang merah terkutuk' yang selalu mengintimidasi Laura si 'bawang putih baik hati' itu dari pada membalas Ocehan receh Davin.
♡♡♡
Beberapa Meter dari Davin Berdiri, Laura terlihat mengupas bawang-bawang sialan itu semampunya. Sampai Ocehan nggak penting Davin mengudara lagi ditelinganya.
"Bhaha, Norak banget pose Lo,"
Davin melihat laura yang mengupas bawang sambil menyondongkan pinggul dan bokongnya kebelakang. Sementara kedua lengannya lurus kedepan. Biar Apa Coba? Biar nggak Perih? Gimana Pose gitu bisa bikin getah bawang tidak mengenai matanya sementara mata dan tangannya yang mengupas bawang masih berdekatan? Konyol! Batin Davin
"Sok kenal sok dekat banget sih lo sama gue? Lupa udah ngasarin gue tadi?" gerutu Laura
Tunggu. Bukannya Tadi Allisa bilang Kita? Harusnya kan Dia juga disini sekarang? Masak! Ini Kenapa Cuma Gue Sama Davin?
Laura Baru Ngeh kalau hanya Ada Davin dan Dia Semata disana. Allisa sudah memutuskan untuk pergi sesaat setelah mendengar cincong Laura dan Davin saat bertemu lagi tadi.
Davin mendekati Laura yang masih mempertahankan pose konyolnya. Davin melirik jari-jari laura yang menghitam terkena getah bawang merah.
"Udah sini,"
Davin mengambil paksa bawang merah itu dari genggaman Laura
"Apa Sih?"
"Biar gue yang ngupas bawangnya. Lo bisa apa selain ngupas bawang?" tanya Davin.
Sangat intimidatif! Karena kalimat itu jelas lebih terdengar seperti ejekan dari pada pertanyaan.
Laura menegakkan punggungnya lagi, tanpa menjawab pertanyaan Davin.
"Gue nggak bisa apa-apa, puas lo?!" Umpat Laura sekenanya
"Dih, gondok non?, Ya Elah gitu doang gondok?"
Mendadak nih cowok doyan ngomong banget deh! Laura mulai sibuk membatin.
"Tau deh, males ah gue ngomong sama lo"
"Ya udah, ngebo aja sana,"
Davin melihat Laura duduk malas di batu dekat pohon.
Kalau bisa memilih, Laura pasti akan memberontak rusuh saat dia tahu akan diberi hukuman memasak. Karena 'bisa memasak', sama sekali tidak ada dalam daftar list pedoman hidupnya, sama sekali tidak ada.
Laura sangat membenci memasak, hanya karena alasan klise dan absurd, dia tidak mau kuku-kukunya menjadi rusak hanya karena terlalu ribet 'memasak', Toh sekarang makanan lezat sudah sangat mudah didapatkan dimana-mana, tanpa harus bersusah payah untuk memasak.
Alih-alih meratapi nasib buruk mendapat hukuman memasak, tak begitu lama, Laura seperti tertidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cappuccino Cup
Teen FictionPertengkaran tidak jelas antara Laura dan Senior Se-Prodi nya itu awalnya terasa biasa saja bagi Laura. Karena sudah dipastikan, Laura hanya menganggap Senior Arogan-nya itu tak lebih dari setitik 'debu kecil' yang mengotori baju-bajunya. Tapi mungk...
