"Ra dimana Mah?"
Kanita Mengeluarkan beberapa bungkus buah dan sayur dari tas belanjanya.
"Diatas, tidur kayaknya dari tadi mama bangunin nggak ada respon, bergulingan aja dikamar"
Mama membuka Bungkusan Buah lalu mencucinya dan menata diatas piring bersih.
Kanita Manggut-manggut
"Udah Sembuh dia?"
"Udah katanya"
Kanita Manggut-manggut lagi
"Mah,"
Kanita sedikit berbisik
Mama Widya yang masih sibuk memcuci buah menoleh
"Apa?"
"Aku Hamil Lagi, Mah"
Mata Mama Widya membulat besar, detik selanjutnya...
"Alhamdulillaaah"
Euforia Mama Widya terdengar diantara senyum hangat Kanita.
"Selamat yah Mbak Ita"
Laura tiba-tiba muncul dari balik pintu Dapur dan menjulurkan tangannya kearah lemari es, Mengambil botol air mineral disana dan meneguknya sampai habis.
"Nggak kuliyah kamu Dek?"
"Nggak Enak Badan"
Laura menjawab cuek sambil berlalu lagi menuju tangga.
Kanita bertanya sambil berbisik kearah Mama Widya.
"Kenapa, Mah?"
"Galau kali, hihi"
Mama Widya tersenyum diiringi tawa kecil Kanita.
"Buat apa Mah beli banyak banget bahan makanan?"
"Nggak apa-apa, pengen masak-masak aja, Kamu nginep nanti?"
"Enggak deh Mah, Si Amel besok masih Sekolah Soalnya, nggak bawa baju ganti seragamnya"
"Ooh.. Okay"
Ponnsel Mama Widya berdering panjang, Buru-buru Mama Widya menjawab panggilan telponnya.
"Ya Hallo, Oh gitu, Bisa yah Jeng? Okay. Makasih ya Beb, Wa'alaikumsalam"
"Siapa Mah?"
"Kepo ih kayak Amel"
"Haha. nggak juga"
¤¤¤
"Ra, nggak makan kamu? Makan yuk Sayang"
Mama menyentuh kaki Laura dari tepi ranjang,
Laura membuka matanya.
"Mbak Lastri suruh bawain kesini deh Ma, mager banget Laura"
Laura hanya beringsut sedikit dari posisi tengkurapnya
"Kamu nggak capek tiduran mulu dari tadi? udah mandi?"
"Udah" Jawab Laura singkat
"Makan yuk dibawah, Mama masak enak loh"
"Ya makanya makanannya dibawa kesini aja Ma"
"Kamu Bad Mood kenapa, Nak?"
Laura menggeleng pelan
"Ya Udah, habis ini bibawain mbk Lastri kesini makanannya, kamu habisin ya, Mama ada tamu di depan" Mama Widya beranjak.
1 jam kemudian
"Ooh.. ini anak Jeng yang kedua itu?"
Suara Perempuan terdengar dari balik ruang makan yang bersebelahan dengan Dapur, Laura menoleh kearah ruang makan yang disekat dengan pintu dan kaca-kaca tinggi disampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cappuccino Cup
Teen FictionPertengkaran tidak jelas antara Laura dan Senior Se-Prodi nya itu awalnya terasa biasa saja bagi Laura. Karena sudah dipastikan, Laura hanya menganggap Senior Arogan-nya itu tak lebih dari setitik 'debu kecil' yang mengotori baju-bajunya. Tapi mungk...
