Enambelas

505 43 0
                                        

Satu minggu berlalu, tak  banyak hal yang terjadi dan berubah. Setiap Senin, Rabu, Kamis, dan Jum'at Davin selalu mengantarkan Laura pulang pergi kekampus dengan aman terkendali ditengah kesibukannya yang mulai mengular sejak awal semester 7 ini.

Davin juga menyempatkan menemani Laura Chek Up setiap hari selasa. Davin pun mulai sibuk mengurus prepare skripsinya agar riset awalnya dua bulan lagi berjalan dengan lancar sesuai rencana. Dan yang tak mungkin terlewatkan, Davin juga masih terlihat menemani Cella melakukan ini dan itu.

Oke. Tak Perlu dijelaskan lebih detail lagi apa status Davin dan Cella saat ini. Teman-teman Davin dan Cella masih menganggap mereka berdua bersahabat baik layaknya cowok cewek lain yang juga bersahabat. Ingat, sebatas sahabat, yah meskipun kadang memang mereka terlihat lebih dari seorang sahabat dengan berbagai tingkah 'mesra' yang kerap mereka pertontonkan dihadapan semua orang, tapi bagaimanapun, sampai detik ini, mereka hanyalah Sahabat, tak kurang dan tak lebih. Lain waktu? Entahlah!

Bagaimana dengan perasaan mereka? Sudah dipastikan, Micella Cecilia tak memiliki perasaan aneh apapun pada Davin, karena perasaan anehnya masih tetap dia berikan pada orang yang sama selama 12 tahun, pada Abiyan, sahabat orok Davin. Lalu, perasaan Davin sendiri bagaimana? Hanya Davin dan Tuhan yang tahu.

♡♡♡

Dua hari yang lalu...

Davin tampak serius berkonsetrasi dibelakang kemudinya. Disampingnya, ada Laura yang sedang menikmati sosis bakar ditangan kanannya. Limabelas menit mobil itu melaju, tak ada satu diantara mereka yang terlihat akan memulai obrolan lebih dulu.

Seperti itulah mereka sekarang, Davin, pun Laura, lebih banyak diam saat mereka tengah bersama, mereka hanya mengobrol seadanya, tak ada adu mulut barang sehari pun, mereka hanya berbicara ketika Davin datang menjemput Laura, kemudian berbalas pesan Whatsappas saat Davin membelikan Laura Cappccino atau bubur ayam yang selalu dititipkan pada Eva, yah. gadis berkuncir kuda itu. Kemudian Davin akan selalu menunggu Laura didepan koridor kelas ketika jam pulang. Dan berakhir hambar dengan mengantarkan Laura pulang kerumah.

Davin membuang nafas teratur, seperti ada yang berputar dikepalanya. Selalu ada yang berputar dikepalanya, dia memang selalu seperti itu, lebih senang berfikir sendiri dengan apa yang sedang berputar dikepalanya dari pada mengeluarkan dan membaginya dengan orang lain, bahkan dengan dua sahabat karibnya----Cella dan Abiyan sekalipun.

Davin melirik Laura sebentar, rasanya, ada banyak hal yang harus dia tanyakan pada Laura sejak kejadian dimalam seminggu lalu. Bagaimana bisa Laura dan Abiyan pulang bersama?, Apakah mereka saling mengenal?, Saling mengenal seperti apa mereka?, Apakah mereka begitu dekat?, Sedekat apa?, Apakah sedekat hubungan persahabatan antara dirinya dengan Cella?, Atau bahkan hubungan mereka lebih dari sahabat?

Tapi Davin sama sekali tak menanyakan hal itu pada Laura sampai saat ini. Dia merasa tidak berhak untuk tahu tentang 'hubungan' Laura dan Abiyan Davin bukan Olyn, sahabat Laura yang bisa dengan mudah saja menanyakan 'hubungannya' dengan seorang laki-laki manapun, termasuk 'hubungannya' dengan Abiyan.

"Kaki Lo, gimana?"

Akhirnya, Davin memecah keheningan yang tercipta dimobil itu,

Laura diam tak menjawab

"Udah baikan?"

Davin bertanya lagi, tanpa menatap Laura

-Tuk-

Davin baru menoleh saat menyadari kepala Laura yang terantuk kaca mobil.

Davin menepikan mobilnya,

"Doyan banget lo molor gini"

Davin bergumam sambil mengecilkan AC Mobil,

Davin merebahkan jok mobil kebelakang. Dia menyentuh kepala Laura dengan dua tangannya, membenarkan posisi kepala Laura dibantalan kepala kursi, sehingga Laura bisa tidur dengan lebih nyaman sekarang.

Davin teringat kembali kejadian absurd tiga minggu lalu. Saat dirinya menggendong Laura yang tertidur didekat pohon. Tanpa alasan yang jelas Davin melakukan hal itu. Seharusnya, sebagai senior yang 'waras' dia akan membiarkan saja Laura yang tertidur disana sampai malam tiba. Laura pantas mendapat itu sebahagai hukuman dua kali keterlambatan yang dibuatnya!

Davin tersenyum simpul

"Jutek, ceroboh, tukang molor"

Davin geleng-geleng dengan senyuman yang masih tergambar jelas disudut bibirnya.

Davin membuang nafas halus, menyandarkan kepalanya sebentar dibelakang kemudi.

Jeda beberapa menit

"GWS ya, Ra"

Davin mengusap sayang kepala Laura

Cappuccino CupTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang