Hai... Long Time No See yaa 😅
Happy Reading! Semoga kalian masih nyambung ya sama bab sebelumnya 😅 karena udah lama banget baru bisa nerusin cerita ini 🥲
•••
Semua mata saling beradu pandang dan berbisik. Melihat amarah Pak Frans yang meluap pada Laura. Gadis itu hanya bisa menunduk malu dan khawatir.
"Keterlaluan sekali kamu! apa maksudnya ini?! Kamu yang invite saya waktu itu kan?!"
"Iya Pak" Jawab Laura, menunduk malu "saya juga nggak tahu kenapa Pak Ricco ada di sini"
"Ya lo jelas nggak taulah, waktu meeting aja lo selalu mangkir" seseorang menyahut, ditanggapi dengan anggukan semua panitia dari semester satu
"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pak"
"Dasar nggak bertanggung jawab! Inget ya, jangan pernah ikut kelas mata kuliah saya!"
Olyn yang baru sampai menutup mulutnya, tidak percaya dengan huru hara yang terjadi, bagaimana bisa Laura selalu terlibat masalah? Apalagi kali ini masalah yang cukup serius, dengan dosen yang terkenal killer.
Cella yang mengamati dari kejauhan kejadian itu, kini berlari kecil menghampiri Pak Frans "Pak Frans saya mewakili anak-anak junior minta maaf ya buat kesalahan teknis ini"
Pak Frans tersenyum singkat sebelum meninggalkan ruang Aula, Cella tersenyum puas.
"Temenin gue brunch, Lyn" Laura menarik tangan Olyn, bersiap meninggalkan Aula.
Davin mendekati Laura setelah mengetahui permasalahan yang terjadi, dia tidak ada ditempat karena sibuk mempersiapkan stand Bazaar.
"Apa? lo mau marahin gue?"
"Ikut gue" Davin meraih pergelangan tangan Laura. Tidak punya pilihan lain, Laura patuh mengikuti ajakan Davin.
"Gue nggak diajak nih?" Olyn merengek sebelum mengikuti langkah Davin dan Laura. Cella menatap sinis melihat kepergian mereka.
•••
"Kenapa?" Laura meminta penjelasan Davin saat mereka sudah tiba di Stand Bazaar
"Cobain" Davin mengangsur paper box berisi souflle cake dengan topping strawberry glazed kearah Laura yang masih tampak berfikir.
Mencoba mencerna situasi apa yang sedang terjadi. Cella menipu dan memfitnah dirinya sejahat itu, lalu kenapa sekarang Davin - yang dikenal sebagai 'pacar' Cella, malah mengajak dirinya ke Stand Bazaar, berbasa-basi dan memberinya sepotong cake??
"Cantik bangeeeet ih" Olyn mulai heboh, Davin mengangsur paper box yang sama kepada Olyn "Thank you so much! Kating satu ini emang baik banget deh!"
Davin tertawa "Bisa aja lo".
Laura memijat kepalanya yang terasa pening.
"Nggak suka?" Davin bertanya pada Laura yang masih terlihat enggan mencicipi souflle cake di tangannya.
"Ngapain sih, lo masih ikut campur urusan gue?"
"Kenapa lo jauhin gue?" Davin balik bertanya. "Gue punya salah?"
Laura membuang muka, menghela nafas berharap Davin bisa mengerti apa yang ada dalam pikirannya. Davin menatap lembut, mencoba menyelami mata Laura, gadis itu terlihat kecewa.
Gue yang salah, udah punya perasaan aneh gini sama lo.
Laura Membatin
"Lo udah punya pacar, masih bersikap baik sama cewek lain gini, apa nggak salah?" Pernyataan itu akhirnya lolos juga, setelah beberapa hari bermain-main memenuhi isi kepala Laura.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cappuccino Cup
Novela JuvenilPertengkaran tidak jelas antara Laura dan Senior Se-Prodi nya itu awalnya terasa biasa saja bagi Laura. Karena sudah dipastikan, Laura hanya menganggap Senior Arogan-nya itu tak lebih dari setitik 'debu kecil' yang mengotori baju-bajunya. Tapi mungk...
