Sembilan

88 4 0
                                        

Davin tersenyum kecil, dia mengeluarkan satu lembar uang limapuluh ribuan, mengangsurnya pada Mbak penjaga Stand Bubble Tea didepan rumah sakit.

"Bubble tea 2, yang satu topping jelly, yang satu topping coklat, coklat banyakin yah Mbak,"

Pesan Davin, persis seperti mandat Laura

"Iya Mas" Mbak pengaja stand Bubble tea itu mengangguk dan tersenyum.

Davin menunduk, matanya mengerjap sesaat, seperti ada yang sedang bermain dipikirannya, dia menggoyangkan cup kopi yang masih terasa hangat digenggamannya itu.

           ♡♡♡

Micella CC : masih di RS?

Vino W : Hap, ada apa?

Micella CC : kalau nggak lagi ngapa2in kesini dong, Biyan nggak dateng 😥

Seketika Davin terlonjak, setengah berjalan sambil berlari berbalik, urung membuka handle pintu kamar Laura. Dia terlihat masih menenteng dua bubble tea ditangannya.

Laura terlihat memainkan malas ponsel ditangannya, membuka laman instagram, tidak ada yang menarik sama sekali disana, hanya banyak postingan cewek-cowok lagi ngedate sambil ber wefie ria. Belum lagi foto-foto kekinian cewek lagi ngopi cantik bareng gengs nya, tempat traveling kekinian yang sama sekali tidak bisa dikunjungi Laura, Membosankan!

Mendadak tadi Olyn dapat telpon dari temennya kalau hari ini ada rolling schedule ngampus. Yang Harusnya dia sekarang masih bisa nemenin Laura dan leha-leha di RS, malah mendadak harus ngampus karena Schedule salah satu mata kuliah besok dirolling menjadi hari ini.

Pintu dibuka dari luar,

"Hai Sayang,"

Mama Laura ngeloyor masuk

Laura hanya terlihat beringsut dari posisi 'wenak' nya,

"Udah makan,? tadi dokter bilang apa?"

Laura menoleh kearah Mama Widya yang merapikan sprei ranjang Laura yang acak-acakan

"Udah tadi Olyn bawa pizza, makanan dari RS tadi juga aku makan bareng Olyn"

Laura melirik kotak pizza kosong yang tergeletak diatas nakas sebelah ranjang Laura.

Mama Widya manggut-manggut sambil celingukan,

"Loh,? kok kamu sendirian,? Olyn katanya tadi kesini mau nemenin kamu?"

"Udah balik, ada rolling schedule ngampus," Jawab Laura, sudah dalam posisi duduk menghadap Mama Widya

"Si Davin mana?"

Mama terlihat mengeluarkan kotak makanan dari tas plastik yang ditentengnya tadi

"Mama bawain dia makan siang,"

Hah? baik banget mama sama si tukang kibul bin arogan macem Davin?

Laura mengkidik

"Nanti sore udah boleh pulang, Ma"

"Alhamdulillah" Mama Widya terdengar sangat lega.

"Seminggu sekali masih harus chek up rutin,"

Mama Widya manggut-manggut

"Iya, nanti kalau pas Mama lagi repot, kamu sama Davin aja chek up nya,"

Davin? Siapa Sih Dia?

"Suka-suka mama deh, asal Mama seneng ya," Laura mengerucutkan bibirnya, dan hanya disambut senyum renyah Mama Widya.

♡♡♡

Davin menutup handle pintu kamar Laura. Bersandar sejenak didaun pintu. Dia membuka laman Pesan di Ponselnya.

To ; L, Widya

Udah pulang? kok nggak ngabarin?

Masih belum ada pesan balasan dari Laura, Davin beranjak dari sandarannya di daun pintu, berjalan sekenanya kearah pintu lift, terlihat tangan kananya menenteng kotak kardus berisi dua cup bubble tea.

Yah, sebelum Davin ke kamar Laura 15 menit lalu, dia membelikan lagi dua cup bubble tea lagi untuk Laura dan Olyn, dia hanya berfikir barangkali Olyn masih disana, karena tadi dia mendengar Olyn berbicara kalau dia akan menemani Laura hari. Tapi hasilnya, sudah tak ada siapapun disana.

♡♡♡

Davin memejamkan matanya yang terasa sangat berat, ada banyak hal yang sepertinya sedang berputar-putar dikepalanya. Samar-samar terdengar nafasnya yang dibuang dengan kasar, mengingat lagi kejadian pagi ini.

"Gue terlalu bodoh ya, Vin?"

Davin hanya menatap mata sayu Cella dan mencoba bernafas dengan benar.

Cella menjatuhkan kepalanya diatas meja yang kelilingi banyak lilin yang tinggal sejari kelingking, kotak kado berukuran sedang yang sudah terbuka, dan sepotong Chesee Cake besar dengan topping kacang tanah remah yang masih terlihat cantik.

"Lo nggak pulang dari semalem?" Davin bertanya dengan mata yang sedikit memerah

Cella menggeleng lemah, masih tetap dengan posisinya semula, matanya mengerjap sesaat, ada butir air yang mulai membasahi pipi merahnya.

"Gue nunggu temen lo, Vin." Cella mulai terisak "tapi, temen lo nggak ada muncul sampai sekarang"

Davin mengepalkan tangannya. Merasa marah, kenapa Abiyan jadi setega itu pada Cella? Setelah memutuskan hubungan sepihak dengan Cella, Abiyan mulai menjaga jarak dengan Cella bahkan dengan dirinya. Persahabatan mereka hancur, 6 tahun yang mereka habiskan sejak SMA sampai kuliah, terasa tidak ada gunanya.

Cappuccino CupTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang