17.00

23 2 0
                                        

Kilas balik




2016

Sore itu, dibawah langit Melbourne, Victoria, Australia. Gadis kecil berambut cokelat duduk termenung di taman sendirian. Kulit putih bersihnya memerah karena efek musim. Badannya belum terbiasa dengan hawa yang terlampau dingin. Karena ia sudah terbiasa dengan suhu hangat Indonesia. Reta harus menyesuaikan diri di lingkungan dan cuaca yang terbilang asing untuknya. Untuk pertama kalinya ia dibawa oh ralat dipaksa tinggal bersama opa dan oma, orang tua dari vvbundanya dalam waktu yang ia sendiri tak tau pastinya.

Dari kejauhan terlihat Zyema, Oma Reta mengawasi dari kejauhan. Sedikit khawatir kalau cucunya akan pergi jauh. Sebab sekarang hari kedua Reta menginjakkan kaki di Negara kanguru ini. Takut tersesat, murni kekhawatiran orang tua terhadap cucunya. Reta menyadarinya, hanya saja ia ingin sendiri tanpa ada orang didekatnya. Setengah jam yang lalu badai baru saja berhenti, tentu taman sepi orang karena saat ini angin masih berhembus lumayan kencang. Tangan mungilnya memeluk tubuhnya sendiri, nekat sekali bocah itu udah tau kedinginan masih aja keluar. Walau jaketnya sudah setebal harapan Renald dan sarung tangan yang menutupi telapak dan punggung tangan. Gadis mungil itu senantiasa menggigil menahan dingin.

Reta mengenakan kupluk rajut yang sengaja dilepasnya lalu di dudukkan di sebelahnya. Baru beberapa saat tapi ia sudah menggunakannya kembali. Tak lupa menyertakan kupluk jaket yang terpasang. Ia sedikit bermain dengan meniup angin hingga menciptakan uap. Belum genap 48 jam Reta disini, ia sudah tidak betah. Ingin pulang bertemu kedua saudaranya. Belum apa-apa dirinya sudah terserang rasa rindu. Tapi, Reta lega berada jauh dari ayahnya. Disisi lain, dirinya tak mau kalau harus berjauhan seperti ini. Reta seperti anak yang tidak diinginkan kelahirannya. Kemudian di buang karena melakukan kesalahan yang ia sendiri tak melakukannya.

"What's your name?" Gadis yang sedari tadi melamun itu tersentak kaget. Tiba-tiba sudah ada anak laki-laki berada di dekatnya. Sepertinya umur mereka hanya terpaut beberapa tahun, lebih tua anak laki-laki itu jelasnya.

Reta menautkan kedua alisnya. Dari kapan dia sudah berada disini. Sedangkan Reta tak merasakan ada kehadiran orang mendekat. Tau-tau anak itu kini duduk di sebelahnya.

"Sorry if I startled you," Reta melihat anak laki-laki itu mengulas senyum tipis. Reta bisa menebak anak yang mengajaknya ngobrol ini orangnya pendiam. Bisa dilihat dari mimik muka dan gerakan badan yang kaku.
'maaf jika mengagetkanmu'

Reta tak merespon, ia kembali meluruskan pandangan. Cuacanya sudah lebih baik dari sebelumnya. Keduanya sama-sama diam tanpa adanya pembicaraan. Anak laki-laki itu, menghela nafas pelan. Lagi pula, tumben sekali dirinya mengajak anak tak dikenalnya untuk berbicara. Biasanya kalau ada yang mengajaknya berbicara sekedar perkenalan saja ia enggan. Tetapi dari ia tiba di taman, dia memusatkan pandangannya pada gadis kecil ini. Gadis cantik disampingnya, berbeda dari lainnya. Dia dengan tatapan datar tapi sayu. Hatinya tergerak untuk mendekat, sepertinya gadis yang belum membuka suara sama sekali itu ada dalam masalah. Untuk pertama kalinya ia berinteraksi dengan orang yang sifatnya 11 12 dengannya. Dirinya jadi tau orang disekitarnya pasti merasakan hal yang sama kalau bersamanya, menyebalkan juga. Ia jadi bertanya-tanya apakah dirinya juga semenyebalkan itu? Sedikit gugup yang disembunyikan karena tak kunjung di jawab.

"You just moved in here huh? I've never seen you before." Ucapnya kembali membuka suara berharap gadis yang baru di temuinya mau menjawab.
'kamu baru tinggal di sini ya? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya'

"Yes, my name is Retalyn" anak laki-laki berusia 10 tahun itu mengulum senyum tipisnya. Ah, nama dan suara yang indah. Itulah kalimat yang tercetus ketika gadis itu berucap.

"I'm Elvano, mommy usually calls me Vano, if you want to call me that, that's fine too." Ujar El dengan menahan senyum lebarnya. Dari pandangan El terlihat jelas, walau gadis itu mengulas sedikit senyum namun pandangannya kosong. Seperti tak ada kehidupan yang dijalani. El mudah menebaknya, karena sang mommy adalah psikiater. Banyak pasien mommy nya juga mengalami persis seperti gadis ini. Walau dikenal sebagai anak pendiam dan jarang berinteraksi dengan teman. Jangan salah, El hobinya merhatiin orang disekitarnya. Dari sifat hingga watak, El mengetahuinya dari gerak-gerik orang tersebut.
'Aku Elvano, mommy biasa memanggilku Vano, Jika kamu ingin memanggilku seperti itu juga tidak apa-apa'

Nata Twins -Aku RetaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang