23.00

6 1 0
                                        


Gedung tua

Pagi hari ini, terpantau keluarga Arkananta berkumpul di ruang makan. Semua orang tengah menikmati sajian makanan yang dihidangkan. Hikmad tidak ada suara lain, selain denting sendok bersama rekannya alias garpu melawan piring.

Ngomong-ngomong, tadi Renald baru pulang pukul 1 dini hari setelah melakukan perjalanan bisnis ke Singapura. Maka dari itu Arkan membantu memantau perusahaan mereka yang berpusat di kota tersibuk ini. Hari ini ia dengan pasangan hidupnya, Karlina akan kembali ke Surabaya sebab urusan disini sudah rampung.

Rena menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu. Hari ini suasana hatinya tampak cerah, hampir setiap hari sama tapi hari ini berbeda.

"Lombanya berjalan lancar, Rena?" Tanya Renald begitu menyelesaikan sarapannya.

"Of course, aku dapet emas lagi. Yah" jawabnya begitu semangat.

"Pintar dan selalu membanggakan" ujarnya bangga. Renald melirik tajam Reta, singkat. Dan penuh tatapan mengintimidasi. Seolah Reta tidak akan bisa menandingi kepintaran dari putri kesayangannya.

"Kenapa, hm? Kok kayaknya putri ayah sangat bahagia pagi ini?" Tanya Renald lembut.

"Yes, tell us about it." Recia mengelus surai hitam itu penuh sayang.

"emmm, hari ini aku dijemput Alfino buat berangkat sekolah bareng" jawab Rena malu-malu. Pipi gadis itu bersemu kemerahan.

"Alfino?" Tanya Renald lagi.

"He's Rena's boyfriend, yah" jawab Recia dengan menaiki turunkan alisnya. Wajar Renald tidak tahu menahu soal putrinya yang sudah memiliki tambatan hati, sebab pria paruh baya itu akhir-akhir ini sangat sibuk dengan perusahaannya.

"Ihh, bundaaaa. I'm shy" Rena menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dengan gaya meledek, Recia menarik tangan gadis itu agar tidak menutupi wajahnya kembali.

"Ohh begitu yaa, posisi ayah bergeser ini mah"

"Nggak lahh pokoknya ayah number one" jawab Reta penuh semangat.

Gadis bermata biru safir itu tetap fokus pada kegiatan tanpa menghiraukan apa yang terjadi didepannya. Memang seharusnya begitu arti sebuah keluarga. Penuh kehangatan dan kebahagiaan. Sedangkan dirinya seperti manusia yang kehadirannya tidak diinginkan lalu dicampakkan. Hm menyedihkan.

Ia hanya bisa menyaksikan tanpa melakukan apa-apa. Ingin, namun sadar diri kalau Reta hanya anak yang dibenci orang tuanya. Meski Recia tak menunjukkan secara terang-terangan tetapi wajahnya tidak bisa ditutupi.

"Nduk, beneran Ndak mau ikut ke Surabaya aja?" Tanya Karlina dengan senyum teduhnya.

"Buk, kenapa sih selalu mengajak Reta tinggal bersama kalian?" Sahut Recia tiba-tiba. Wajahnya jelas sekali memendam perasaan tidak suka terhadap mertuanya.

"Reta itu putri aku dan Renald, jadi wajar saja kalau dia ikut dengan kami" lanjutnya menatap sang mertua sengit.

Karlina memandang sinis lawan bicara "Kamu lupa? Kalau kamu hanya-" sebelum menyelesaikan kalimatnya, Arkan memotong ucapannya.

"Ibuk" tegurnya mewanti-wanti.

Seperti sadar sesuatu Karlina memanglingkan wajahnya ke arah lain. Tetapi bibirnya kembali bersuara.

"Katanya anak tapi kok diperlakukan nggak adil" sindiran itu begitu menohok bagi Renald dan Recia. Kedua orang itu hanya mampu terdiam. Karena memang yang dikatakan sang ibu adalah kebenaran. Keduanya lebih memihak pada Rena tanpa memikirkan keadaan Reta bagaimana.

"Lagi? mana ada orang tua yang tega membiarkan putrinya tinggal jauh selama 4 tahun," tambah Karlina menatap Renald dan Recia silih berganti.

"Buk, Reta tinggal di Aussie juga dengan orang tuaku. Jadi apa salahnya?" Recia mencoba melakukan pembelaan.

Nata Twins -Aku RetaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang