Sudden arrival
Suasana sore, di Restauran Reta padat oleh pengunjung. Cuaca yang cerah juga mendukung para pencari sunset guna memotret keindahannya. Apalagi Restaurant itu dibangun dengan unsur ke estetika mengikuti zaman yang semakin modern.
Sebenarnya, ada beberapa juga dari mereka datang karena ingin mencoba salah satu makanan yang beberapa lalu launching. Karena makanan itu sempat viral setelah di Upload di socmed Grey Queela Resto. Jadilah sekarang para pramusaji sedikit kuwalahan menyiapkan berbagai makanan. Belum lagi banyak juga yang order lewat via online. Bahkan Reta juga turut membantu mengantarkan pesanan ke meja pengunjung. Sejujurnya ia cukup kelelahan hari ini, tapi ia juga tak ingin angkat tangan sehingga mengabaikan pegawainya yang pontang-panting seperti ini.
Kalau ditanya bagaimana bisa anak remaja seperti Reta sukses mempunyai restaurant sebesar itu. Pastinya tak sepenuhnya sendiri karena sedari awal dirintisnya, nenek Reta sudah merekrut kepercayaannya yang bernama Sera dan menjadi manager untuk membantu mengurus juga membimbing Reta menghandle Restaurant. Untuk sekarang Grey Queela Resto masih atas nama, Karlina neneknya. Alasannya selain neninya yang membangunkan Restaurant itu, umur Reta belum cukup umur untuk menjadi pemilik sah dimata hukum.
Kini, Reta sangat bersyukur nama Restaurant nya naik pesat. Tak mudah sampai di titik ini. Jatuh bangun sudah ia lalui lebih dari satu tahun Restaurant pertama kali dibuka. Ia juga pernah hampir bangkrut karena ada kasir yang tidak jujur sehingga rugi ratusan juta. Tapi untungnya atas bantuan dana dari Regan, dia dapat bangkit kembali dan membesarkan Restaurant sampai sekarang ini.
"Selamat menikmati." Ucap Reta dengan memberikan senyuman tipis setelah menyajikan makanan di salah satu meja pengunjung.
"Terimakasih," Reta tetap mempertahankan senyumnya lalu mengangguk sopan. Ia juga membalas ucapan ibu tadi "sama-sama, ibu"
Reta membalikkan badannya berjalan menuju dapur. Senyuman tipis nya memudar, digantikan dengan flat face andalannya. Saat berjalan ia berpapasan dengan Senja yang juga sama mengantarkan makanan ke pengunjung. Ohh iya, Senja sering mampir ke Restaurant di sore hari. Kadang niatnya ngebantuin seperti sekarang ini atau nggk gitu duduk manis aja diruangan, Reta sambil ngeliatin sahabatnya kerja, maklum efek kesepian.
Saat sudah sampai di dapur, Reta dan Senja meletakkan nampan yang sejak tadi tak lepas dari tangan keduanya.
"Nggak ada lagi, Ice?" tanya Senja memastikan tak ada lagi pesanan yang sekarang harus dibawa ke meja customer.
"Huhh" Senja menghembuskan nafas lega setelah Reta menggelengkan kepalanya.
Gadis tomboy bercelana jeans dengan kaos hitam yang dibagian lengan atasnya dilipat itu membuntuti Reta yang baru saja meninggalkan dapur. Senja menyandarkan tubuhnya ke tembok setelah melihat sahabatnya masuk ke ruang ganti pakaian. Setiap ikut membantu mengantarkan makanan ke meja pengunjung Reta selalu memakai baju pegawai agar terkesan sopan dan menghargai customer. Beda lagi kalau senja biasanya dia baru dateng langsung nyelonong aja ke dapur dan ikut mengantar. Pernah juga dia salah mengantarkan pesanan, berakhir salah satu pramusaji meminta maaf dan menjelaskan kalau Senja itu bukan pegawai dan untungnya sampai detik ini beberapa pengunjung memakluminya.
Sembari menunggu Reta mengganti pakaian, Senja mengotak-atik handphone yang dimilikinya. Ia membuka aplikasi toktik untuk mengusir kejenuhan. Terlalu fokus menonton video dance, ia sampai tak sadar didepannya sudah ada seseorang yang menatapnya dengan senyuman hangat. Senja baru mengetahui saat orang itu menepuk pelan pundak kanannya. Seketika mata senja membola melihat paruh baya yang dikenalnya.
Wanita umur 67 tahun itu mengenakan kebaya dan sanggul khas orang Jawa. Tatapannya teduh dengan senyuman yang mengembang sempurna. Walau usia tak bisa dibohongi, sebab wajahnya sudah mulai mengeriput dan beberapa bagian rambutnya memutih karena uban. Karlina, ya wanita paruh baya itu adalah Ibu dari Renald, Nenek si kembar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nata Twins -Aku Reta
Historische FictieTentang Reta si biang masalah juga biangnya luka. Reta yang selalu menjadi bayangan kakak kembarnya. Dan Reta yang mencari sumber kebahagiaannya sendiri. "gw benci lo Rena, tapi kenapa gw nggk bisa hilangin rasa sayang itu ke lo?" "Sorry Ra, tapi...
