15.00

22 1 0
                                        

Apology

     Seperti biasa waktu istirahat, keempat gadis itu lebih memilih menghabiskan waktu dibawah rindangnya pohon daripada duduk di keramaian kantin.

Bulan yang awalnya anak social butterfly dan nggk suka tempat sepi sekarang malah nyaman dengan itu semua. Dan tempat nyaman itu saat selalu bersama sahabatnya. Pokoknya yang penting ada Reta, Sabrina, dan Senja. Dari kecil Bulan memang mempunyai banyak teman. Tapi tidak dengan sahabat. Dulu Bulan kemanapun selalu sendiri. Kebanyakan ia akan bergabung ke circle yang dikenalnya supaya nggk terlihat luntang lantung. Akhirnya sekarang dia mempunyai sahabat, yang dengan senang hati menerima kehadirannya walau Bulan orang baru di antara mereka.

Sabrina, Bulan, Senja, dan Reta duduk sila diatas rumput. Untungnya di setiap sudut sekolah ini selalu terjaga kebersihannya. Rumput-rumput disini terlihat hijau segar terawat. Pohon-pohon juga rapi dengan berbagai bentuk. Tak perlu repot-repot pergi ke desa untuk mencari vibe gini. Sekolah pun jadi. Tapi kayaknya nggk berlaku bagi Reta, kan rumahnya juga banyak pohon dan tanaman. Di kota jarang ada tempat yang asri dan adem kalau ada pasti di wisata. Ada yang dekat dan gratis kenapa nggk dimanfaatkan. Yeee itu sih otak Senja si penyuka gratisan.

Keempat gadis itu duduk sila dengan melahap bekal yang dibawa oleh Reta. Senja, gadis itu makan dengan satu kaki nangkring. Persis kayak abang-abang. Mana makannya lahap bener. Yasudah SSS suka-suka Senja.

Selesai menghabiskan makanannya, Reta membuka macbook yang kemanapun pasti diajak. Aura-aura pebisnis nya kuat yaa pak-buk. Jari-jarinya lincah mengetik di keyboard dengan muka serius. Sedangkan ketiga sahabatnya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Senja dan Bulan yang sibuk mereview orang, alias ghibah. Dan si cantik Sabi yang Masyaallah itu sedang muroja'ah hafalannya.

Seperti tak ada yang menarik di persahabatan mereka. Flat-flat aja, iya sekarang. Mereka akan sering saling bercerita juga memberi motivasi hidup. Tapi itulah keistimewaannya mereka selalu saling memahami. Saat ada yang berbuat salah, salah satu dari mereka pasti akan mengingatkan tanpa menghakimi.

Bulan merebahkan tubuhnya ke rumput dengan menjadikan lengannya bantal. Nggk usah heran tingkahnya emang mirip senja yang rada-rada. Bedanya dua manusia ciptaan Tuhan itu hanya di penampilan dan sifat. Kalo Senja si tomboy nah Bulan kebalikannya, Super feminim dia.

"Gw galau deh, Nja" curhat Bulan tiba-tiba. Matanya menerawang ke dedaunan dan ranting yang berada di dahan tinggi itu.

"Hmm galauin siapa?" tanya Senja balik sambil memainkan handphone yang ada di tangannya.

"Si Eril" jawab Bulan singkat.

Srengenge kelelep itu langsung memberhentikan aktivitasnya. Otaknya mencerna apa yang barusan keluar dari mulut sahabatnya. Gadis berambut sepundak itu meletakkan ponsel berwarna hitam dipangkuannya. Lalu ditataplah Bulan yang juga menatapnya. Senja mengambil nafas panjang kemudian tersenyum lebar. Tak berselang lama dia merubah mukanya menjadi datar.

"Ehh goblokk, udah tau cinta-cintaan bikin nambah beban malah pacaran mulu lo" cerocos Senja menatap sahabatnya jengah.

"Satu bulan ini udah berapa kali lo curhat masalah cowok heh?" Ujarnya kembali dengan nada sinisnya "Pengang kuping gw lama-lama Bull. Udah tiga kali dalam sebulan ini Lo galauin cowok beda, herannya lagi Lo kok bisa move on secepet larinya kuda. Gw aja nih lupain cowok sebiji dari SMP susah njir, bisa-bisanya lo sebulan udah gonta-ganti ngalahin gantiin oli motor" ucap Senja panjang kali lebar kali sisi. Ehh kayak rumus. Udah tau kan penyebab kesel nya senja. Hidup udah tenang aman sejahtera tanpa pacar-pacaran malah di pusingin cerita percintaan temen. Nggk salah sih Senja ngamuk.

Itulah sisi gelap gadis feminim macam Bulan. Hobinya gonta-ganti pacar. Pernah di hitung total mantan pacarnya satelit bumi itu udah bisa buat tim sepak bola. Fantastis kan?

Nata Twins -Aku RetaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang