Berita terbaru
Shila mengusap lengan putranya pelan. Terlihat anaknya tersentak kecil.
"Maaf, mama ngagetin ya?" Regan tersenyum kecil sambil menggeleng.
"Abang ada masalah? Kalau mau berbagi cerita mommy siap jadi pendengar" ujar Shila tak memaksa.
Keheningan sempat terjadi.
"Dia tau mom" Elvano buka suara.
"Tau kalau kamu buntuti diam-diam" sahut Shila tersenyum menggoda. Putranya ini walau diluar terlihat dingin dan tidak banyak bicara tapi bisa dibilang banyak cerita. Ya meski yang diceritain melulu tentang gadis bermata biru safir itu. Shila sebagai mommy nya tetap mendengarkan sebaik mungkin. Itu malah bagus agar komunikasi ibu dan anak berjalan semestinya tanpa canggung dengan Elvano yang suka bercerita tentang teman kecilnya.
"Mom" ucap Elvano memelas.
"Iya iya, terus kenapa sedih gini. Harusnya senang dong bisa kapan aja ketemu Alyn." Shila mengelus pipi putranya walau sedikit susah karena sang putra tingginya nggak kira-kira. Plek ketiplek bapaknya alias suami tercintanya.
"PTSD" Shila melebarkan matanya.
"Lagi?" Tanya Shila sedikit menaikkan nada.
"Sekarang aku tahu semuanya, ternyata Regan kakaknya Alyn, dia juga yang cerita kalau ayahnya penyebab Alyn jadi seperti itu". Suara Elvano melirih. Ketika teringat waktu lalu, rasanya dihantam batu besar melihat gadis kesayangannya menangis pilu.
"Dan lebih menyedihkannya lagi Regan juga baru tau, terus cerita ke El." Lanjut Elvano dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar cerita itu Shila hanya tersenyum kecut. Dia pastinya yang paling dulu tau, nggak lupa kan kalau dirinya yang menangani Alyn waktu gadis itu masih kecil. Ia menyayangi Retalyn seperti putra-putranya. Hatinya berdenyut nyeri mendengar fakta ini. Doa baik yang selalu dilangitkan meski tak lagi berjumpa menjadi bukti bahwa dirinya sangat menyayangi gadis itu.
"Doa kita sia-sia" Elvano terisak seraya memeluk mommy nya.
"No, nggak ada yang sia-sia. Tuhan itu maha baik, Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-nya. Alyn sedang diuji berarti kita juga harus menerima" Shila mengusap punggung putranya pelan. "Dengan ini mungkin ada hari indah yang akan diberikan nanti" lanjutnya memberi pengertian.
"Astaghfirullah, maaf El meragukan kuasa Tuhan"
Shila melepaskan pelukannya. Elvano yang melihat mommy nya menangis pun mengusap air mata sang ibu. Shila tersenyum lembut.
"Udah jangan nangis."
"Mommy juga" Shila terkekeh kecil mendengar balasan itu.
"Selalu ada untuk putri mommy ya"
Regan mengangguk "thank you mom, love you"
"Love you too baby boy"
"Jangan panggil baby boy, mom" sungut Elvano tak suka. Apa-apaan dia keren gini masak dipanggil 'baby boy' nggak lucu banget.
"Biarin, emang kamu bayinya mommy. Udah ah masuk ke dalem anginnya kenceng banget nanti baby nya mommy masuk angin" sebelum melayangkan protesnya lagi Shila sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan Elvano di balkon kamarnya.
Dia tersenyum tipis, mommy nya adalah dunianya. Setiap detiknya ia selalu bersyukur dengan semua yang dimiliki. Keluarga, teman, dan sahabat karib yang selalu berada disisinya.
"Bang" panggil Alfano pelan.
Elvano melirik sekilas adik kembarnya. "Hm" dehemnya singkat.
"Maaf, udah lama banget dan Lo masih diemin gue" paparnya menunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nata Twins -Aku Reta
Historical FictionTentang Reta si biang masalah juga biangnya luka. Reta yang selalu menjadi bayangan kakak kembarnya. Dan Reta yang mencari sumber kebahagiaannya sendiri. "gw benci lo Rena, tapi kenapa gw nggk bisa hilangin rasa sayang itu ke lo?" "Sorry Ra, tapi...
