Sandyakala
Berbeda dari kemarin yang turun hujan, pagi ini mentari tampak malu-malu menunjukkan sinarnya di ujung timur. Suasana tampak begitu tenang dengan cuaca mulai menghangat. Sepertinya hari ini langit akan cerah dan itu bagus untuk pertumbuhan makhluk hidup dimuka bumi.
Kini di sofa, Reta dengan dibantu Sabrina mengoleskan obat krim di kulit yang sudah memudar. Sabrina terlihat begitu telaten dan sangat hati-hati melakukannya. Takut Reta kesakitan, ya walaupun gadis bermata biru itu tampak lempeng saja.
Sangat besar perbedaannya dengan Bulan dan Senja yang masih anteng berada di alam mimpi. Dua orang itu kayaknya kerasan tidur di rumah orang. Sampe nggk gerak sedikitpun dari semalam. Reta sudah batin kok 'tumben tidur Senja anteng, biasanya kan kayak ulet digoreng'.
Ohh iyaa, semalam mereka memutuskan untuk menginap atas ajakan Senja Celina. Gadis itu kalau udah ada maunya ya seperti biasa nggk bisa diganggu gugat. Prinsipnya hanya tiga, yang pertama Lo nggk ikut milih gw seret atau jalan sendiri. Prinsip kedua dan ketiga kembali ke prinsip pertama. Definisi nggk ada pilihan buat nolak.
Masalah baju pastinya tidak perlu repot karena Reta mempunyai banyak baju yang masih baru. Bundanya itu sering memberikan dres selutut atau nggak setelan rumahan tapi Reta tak pernah memakainya sebab sebagian besar warnanya cerah. Mungkin hanya beberapa baju saja yang dipakai itu pun saat sedang membuntuti Rena dalam penyamaran tentunya.
Tok Tok Tok
"Nduk, Neni masuk ya?"
Cklek
Karlina dengan khas kebaya dan konde itu terlihat mendekati Reta dan Sabrina dengan senyuman hangat.
"Neni kesini mau ngolesin salep, ehh ternyata wes dilakoni nduk Bina" ngomong-ngomong ternyata Sabrina mempunyai banyak nama panggilan. Di rumah para santri memanggilnya Ayla, sahabatnya lebih sering menyebutnya Sabi, lalu eyang putri dengan panggilan Bina. Jika ada yang memanggilnya Sabrina berarti orang itu tidak terlalu dekat dengannya.
"Iya, eyang. Ini baru aja selesai" jawab Sabrina lembut.
"Yowes," Karlina mengarahkan pandangannya ke Senja dan Bulan masih bergelut dengan selimut.
"Itu, temennya ya mbok di bangunin. Emang ndak sekolah ta?" Ujar Karlina sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya nenii" Reta menerbitkan senyum cantiknya.
"Sabrina bangunin mereka dulu eyang" Karlina mengangguk mempersilahkan.
Wanita berkebaya navy itu mendudukkan badannya menggantikan posisi Sabrina tadi. Tangannya terulur mengelus samping kepala Reta dengan begitu lembut. Tatapannya yang teduh membuat senyum gadis bermata biru safir itu mengembang sempurna.
"Nduk, jangan terluka lagi"
Reta menggenggam tangan karlina yang semula berada dikepalanya lalu menurunkan menjadi dipangkuan gadis cantik itu.
"Neni nggak usah khawatirkan Reta, lupa? Reta ini kuat kayak baja" ujarnya bermaksud menenangkan Karlina dan diselipi kekehan diakhir kalimat.
"Iyaa dehh Neni percaya" Karlina menaik-turunkan alis dengan senyum mengejek.
"Ihhh mana ada percaya tapi mukanya kayak ngeledek gitu" Reta mencebikkan bibirnya, ngambek ceritanya.
Sedangkan di sudut lain, 3 gadis dalam diam memandangi sahabatnya dengan tatapan bahagia. Senja dan Bulan yang sudah dibangunkan Sabrina memajang senyuman penuh kegembiraan. Beralih ke Sabrina yang memasang senyum tipisnya. Mata mereka beradu pandang bergantian dan seakan mengetahui pikiran satu sama lain meski tanpa mengeluarkan suara. "Gw seneng kalau ngelihat sisi lain Reta yang jarang keliatan kayak gini"
KAMU SEDANG MEMBACA
Nata Twins -Aku Reta
Historical FictionTentang Reta si biang masalah juga biangnya luka. Reta yang selalu menjadi bayangan kakak kembarnya. Dan Reta yang mencari sumber kebahagiaannya sendiri. "gw benci lo Rena, tapi kenapa gw nggk bisa hilangin rasa sayang itu ke lo?" "Sorry Ra, tapi...
