24.00

6 1 0
                                        


Keanehan



"Baby boy, jangan lari sayang" ucap wanita cantik itu setengah berteriak. Meski tangannya sibuk berkutat dengan alat gambar, mata indahnya sesekali mengawasi pergerakan putranya. Saat ini ia duduk di kursi taman rumahnya. Dengan dress longgar berwarna peach dibawah lutut menambah kesan ayu. Apalagi terlihat perutnya yang jelas sekali menonjol, yaa wanita itu sedang hamil dan sudah menginjak 8 bulan.

Tak berselang lama atensi nya mengarah pada suara benda jatuh.

Bruk

Rupanya tak lain dan tak bukan putranya lah yang terjatuh, lalu disusul suara tangisan. Segera wanita cantik itu berdiri untuk menghampiri putranya sedikit berlari namun tetap hati-hati.

Ia sedikit membungkuk membantu anaknya untuk berdiri. Bukannya berhenti balita laki-laki itu semakin mengencangkan tangisannya.

"Mommy, cakit" ujar anak kecil itu mengadu. Kosa katanya masih tidak jelas, tapi sang ibu jelas tau apa yang diucapkan putranya.

"It's okay, lain kali hati-hati" dia mengusap air mata putranya agar berhenti menangis.

"Calm down, baby" ujarnya menenangkan. Seperti sihir tangisan anak laki-laki itu mereda meninggalkan isakan kecil. "Ada luka?" Tanya si ibu dengan intonasi yang lembut.

"Ni" tunjuknya pada siku kirinya berdarah.

"Ayo, mommy obatin. Tapi baby boy jalan digandeng mommy aja ya? Mommy nggak bisa buat gendong Regan soalnya kan ada adek diperut"

Ucapan sang ibu dibalas anggukan polos anak laki-laki yang lusa adalah ulang tahunnya ke 2. Wajah wanita itu tak begitu jelas, tapi yakinilah dia begitu cantik dengan rambut pirang. Ia terkekeh kecil melihatnya sikap putranya begitu menggemaskan. Apalagi setelah adegan tangisan, hidung mancung balita itu mengeluarkan ingus.

"Ayo jalan baby." Ia menggandeng tangan kecil dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Regan membuka matanya cepat. Dengan posisi terlentang, ia menatap langit-langit kamar. Mimpi itu, dirinya tak tau itu adalah khayalan masa kecil atau sebagian memorinya. Tapi yang Regan yakini itu bukan sekedar bunga tidur, sebab mimpi itu akhir-akhir ini sering hadir dalam tidurnya.

Wanita yang dia panggil dengan sebutan mommy, apakah itu bunda Recia sekarang? Ataukah orang lain? Jujur saja orang yang ia panggil mommy itu begitu baik. Kasih sayang yang sudah lama dirinya rindukan seolah terbayar. Meski dalam mimpinya Regan masih sangat kecil, tapi ia bisa merasakan ketulusan dari wanita itu.

"Kalau bisa memilih, gue mau mama dan papa tetap hidup" monolognya seperti bisikan dalam keheningan.

"Bukannya nggak bersyukur dengan hidup gue sekarang, semua orang baik cuma seandainya orang tua gue ada, gue nggak perlu menekan semuanya. Mimpi gue, beban perusahaan dan-" Regan menjeda kalimatnya.

"Kebahagiaan."

Regan, walau Renald sudah mencantumkan namanya sebagai salah satu pewaris bahkan nama keluarga pun tertera di kelanjutan namanya. Nyatanya dia begitu tertekan, tentang tuntutan sebagai anak di keluarga Arkananta yang diharuskan melanjutkan bisnis.

Tentang kebahagiaan yang tidak benar-benar nyata. Karena yang betul-betul menyayangi nya hanya ayah dan adik-adiknya. Lainnya menerimanya tapi tidak utuh. Contoh sedikitnya Recia, wanita itu tak benar-benar memerankan perannya sebagai ibu. Mungkin berhasil hanya untuk Rena.

Sekedar berbicara dengannya saja sangat terbatas. Tidak banyak perhatian khusus tapi Regan menerimanya. Lalu tentang cita-cita, siapa dia yang bisa mengatur semuanya. Ia tidak seberani itu untuk menentang, dirinya cukup sadar diri bahwa ia hanya anak angkat. Bukankah namanya tidak tau malu jika ia menolak permintaan ayahnya.

Nata Twins -Aku RetaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang